Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Jumat 5 Februari 2021: MERAWAT RAHMAT DALAM DIRI SESAMA
Ceritera tentang Yohanes Pembaptis dibunuh tentu tak terlalu asing untuk kita. Lantaran mengeritik keras raja Herodes
Renungan Harian Katolik, Jumat 5 Februari 2021: MERAWAT RAHMAT DALAM DIRI SESAMA (Markus 6:14-29)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Ceritera tentang Yohanes Pembaptis dibunuh tentu tak terlalu asing untuk kita. Lantaran mengeritik keras raja Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya menjadi istrinya, ia ditangkap, dibelenggu, dipenjara. Ia akhirnya dipenggal kepalanya atas permintaan Herodias melalui putrinya yang menari dan memikat hati sang raja sehingga bersumpah akan memberikan apa pun yang diminta.
Untuk diketahui, injil Markus dikarang oleh penulisnya di kota Roma. Injil itu ditujukan kepada orang-orang Kristen yang sedang mengalami derita dan aniaya dari pihak penguasa Romawi. Maka dalam bingkai itu, kiranya jelas tujuan dan pesan dari cerita tentang terbunuhnya Yohanes Pembaptis.
Bahwa setiap orang Kristen, setiap orang yang berani menyampaikan kebenaran, mewartakan Kabar Baik, dengan perkataan kasih yang berani menegur, berisiko menghadapi kemungkinan tidak diterima, dibenci, ditolak, bahkan dihabisi. Hidupnya terancam oleh ketidaksukaan, kebencian, dendam, yang bisa berujung pada akhir hidupnya yang tragis.
Tapi dengan berkisah tentang terbunuhnya Yohanes di tangan Herodes, rupanya penginjil Markus pun ingin mengajak siapa pun untuk bermenung dan berusaha melihat diri dengan cermin profil seorang Herodes. Seperti apakah sang raja itu?
Raja Herodes yang berjumpa dengan Yohanes Pembaptis, menaruh perhatian padanya. Malah ia berusaha melindunginya, tatkala oleh dendamnya, Herodias sebenarnya telah ingin membunuh Yohanes. Namun ia sendiri akhirnya menjatuhkan hukuman mati atas diri Yohanes. Mengapa? Alasannya banyak.
Tetapi tak bisa dipungkiri, alasan mendasar adalah ia hidup jauh dari kebenaran sejati. Ia terjebak dalam kebenaran semu yang dianggapnya lebih penting dari nyawa manusia tak bersalah. Katakanlah, ia memang telah bersumpah dan sumpah harus ditaati, dipenuhi. Tetapi, apakah sumpah tetap harus berlaku meski harus menghabisi nyawa orang, apalagi yang tak bersalah?
Bahaya riil yang bisa terdapat dan terjadi pada diri siapa pun, termasuk pada diri kita, yakni bila kita berpegang pada kebenaran palsu dan menganggap kebenarannya itu lebih penting dari apa pun, termasuk bisa mengakhiri nyawa orang lain.
Setiap saat kita bisa terkena "syndrome Herodes" yang menghancurkan hidup secara diam-diam, yakni tatkala kita memandang diri kita, pendapat kita, penilaian kita, dan sebagainya sudah tetap, tepat dan tak perlu dikonfrontir, apalagi direvisi dan direnungkan kembali. Padahal kita ini adalah makhluk pencari kebenaran.
Syndrome Herodes tak terasa menjangkiti kita, ketika dendam, iri hati, dan sebagainya begitu menguasai kita sehingga membuat kita salah dalam menilai hal yang hakiki dalam hidup dan kita tak mampu mengendalikan diri untuk menghabisi orang lain.
Kita ingat, Yesus mengalami kisah pahit saat berhadapan dengan orang-orang yang terjangkit syndrome Herodes. Di kampung halaman-Nya, orang-orang kekeuh berpegang pada konsep, pendapat, penilaian tentang diri-Nya yang salah. Mereka tetap berpikir dan beranggapan bahwa "bukankah Ia ini tukang kayu ... dari mana diperoleh-Nya semua itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?".
Akibatnya, Yesus ditolak dan Ia tak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit. Lebih tragis lagi, Ia ditolak dan disalibkan oleh orang-orang sebangsa-Nya.
Orang Latin punya pepatah, "Homo homini lupus", manusia adalah serigala bagi manusia lain. Kita bisa berkata untuk awas diri agar tidak jadi serigala buas bagi sesama. Kita mesti terbuka melihat rahmat dalam diri sesama, merawatnya demi keagungan Tuhan. *
Simak juga video renungan harian katolik berikut: