Tais Marobo, Busana Adat Malaka Pesona Muda Mudi Malaka
Tais Marobo berasal dari Kabupaten Malaka. Warna merahnya cukup mencolok, seperti kain tenun sumba, Tais Marobo memiliki ciri khas tersendiri
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Kanis Jehola
Tais Marobo yang berasal dari Kabupaten Malaka. Warna merahnya cukup mencolok, seperti kain tenun sumba, namun Tais Marobo memiliki ciri khas tersendiri
POS-KUPANG.COM - Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) yang merupakan provinsi kepulauan menyimpan kekayaan budaya yang cukup banyak.
Masing - masing daerah dengan kekhasannya meskipun berada pada satu pulau. Salah satunya adalah kekayaan budaya tenun ikat di Pulau Timor. Lima (5) Kabupaten dan 1 Kota yang ada di Pulau Timor, masing - masing memiliki ciri khas pada kain tenunnya.
Baca juga: SMP dari Kabupaten Flotim Dominasi Juara Lomba Perayaan 10 Tahun SMATER Lewoleba
Contohnya adalah Tais Marobo yang berasal dari Kabupaten Malaka. Warna merahnya cukup mencolok, seperti kain tenun sumba, namun Tais Marobo memiliki ciri khas tersendiri.
Warna dasar merah menyala dipadukan dengan warna hitam dan kuning emas pada motif - motifnya memberikan kesan elegan dan mencolok.
Baca juga: Surat Keterangan Diagnosa COVID-19 Tidak Ada, Keluarga Ambil Paksa Jenazah di RSUD Lewoleba
Tais yang biasa digunakan kaum perempuan biasanya disebut Tais Feto, bermotifkan Lafaek (Buaya) sementara untuk lelaki disebut Tais Mane, motif kainnya adalah Burung Cenderawasih.
Moi, salah satu perajin tenun Tais Marobo selalu membuat kainnya sangat detail dan rapi sehingga harga yang dipatoknya berkisar satu juta rupiah.
"Buatnya dari benang kayu," ujarnya.
Tais Marobo di Kabupaten Malaka, dikenakan saat acara - acara tertentu seperti acara lamaran, penyambutan pejabat atau tokoh - tokoh penting yang ada di masyarakat.
Tais Marobo akan dipadukan dengan perhiasan adat seperti Bolas Kmurak atau Ikat Pinggang Perak, Hetire atau perhiasan kepala perempuan, Uluhetin atau destar yang menghiasi kepala lelaki.
"Kalung yang warna oranye itu disebut Morten dan yang bulat itu namanya Belak, yang terbuat dari perak," jelas Moi.
Meski ini adalah busana tradisional, orang muda Malaka masih sering tampil dengan menggunakan Tais Marobo ini.
Seperti yang dipakai kedua muda mudi asal Malaka, Jeniyanti Amaral (16) dan Josua Nunes Dacosta (18), seperti itulah tampilan warga Malaka dalam balutan busana adat daerah.
Sebagai pelengkap, ada juga Kabir atau tempat sirih pinang yang biasa dipakai masyarakat setempat untuk menyambut dan menyapa tamu kehormatan dengan menawarkan sirih pinang sebagai salah satu yang penting dalam setiap pertemuan adat. Tanpa sirih pinang rasanya pertemuan tidak bisa berjalan lancar.
Dizaman serba modern, ketika semua orang berlomba - lomba memakai pakaian modifikasi agar lebih trendy, kedua anak muda Malaka ini masih bangga mengenakan pakaian adat dengan cara tradisional.
"Kita yang harus mencintai milik kita. Tidak mungkin kita tunggu orang lain yang mencintai milik kita lebih dulu," ujar Josua. "Kalau kita tidak pakai nanti lama - lama hilang," timpal Jeni. (
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tais-marobo-busana-adat-malaka-pesona-muda-mudi-malaka.jpg)