Selasa, 2 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 30 Januari 2021, YESUS: HARAPAN DI TENGAH BADAI

“Waktu hari sudah petang” (Mrk 4:35). Kisah tentang "angin ribut diredakan" dimulai dengan kata-kata itu. Ini juga gambaran tentang situasi hidup kita

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 30 Januari 2021, YESUS: HARAPAN DI TENGAH BADAI (Markus 4:35-41)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - “Waktu hari sudah petang” (Mrk 4:35). Kisah tentang "angin ribut diredakan" dimulai dengan kata-kata itu. Ini juga gambaran tentang situasi hidup kita dalam kurun setahun ini. Hari-hari seakan petang seperti sudah datang. Kegelapan tebal oleh datangnya pandemi Covid-19 telah melingkupi seantero bumi. Kegelapan itu telah mengambil alih hidup kita, memenuhi segala sesuatu dengan keheningan yang mencekam dan kehampaan yang menyedihkan, yang menghentikan segalanya.

Kita akui bahwa kita semua merasa takut terpapar oleh hantu virus itu. Seperti para murid dalam Injil, kita seakan terperangah oleh badai yang tak terduga dan bergolak. Kita menyadari bahwa kita berada di perahu yang sama, perahu bumi yang sedang oleng dan kita semua merasa rapuh dan tanpa daya. Dan, sama seperti para murid itu, kita berkata dengan cemas dalam satu suara, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ayat 38).

Namun kita harus melihat dan memahami sikap Yesus yang sebenarnya ada dalam perahu yang sama. Sementara para murid-Nya secara alami khawatir dan putus asa, Dia berdiri di buritan, di bagian kapal yang tenggelam pertama kali. Apa yang Dia lakukan? Meskipun terjadi badai, Dia tidur nyenyak, mempercayakan Diri-Nya pada Bapa.

Ini adalah satu-satunya saat dalam Injil kita melihat Yesus sedang tidur. Dan, ketika Dia bangun, setelah menenangkan angin dan air, Dia justru berpaling kepada para murid dengan nada menegur: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ayat 40). Perkataan-Nya itu seakan sebuah hentakan agar para murid dan juga kita terbangun, tersadarkan akan iman. Mengapa?

Soalnya, seruan, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk 4:38) mengungkapkan adanya anggapan bahwa Yesus tidak peduli, tak penuh perhatian. Kita sangat tahu, salah satu hal yang paling menyakitkan ialah ketika kita mendengar orang mengatakan kepada kita: “Apakah kamu tidak peduli padaku?” Itu adalah ungkapan yang melukai dan memuntahkan badai di hati kita. Maka, ungkapan itu tentu juga mengguncang ulu hati Yesus. Karena Dia, lebih dari siapa pun, peduli pada kita manusia. Lihatlah, segera sesudah para murid memanggil-Nya, Yesus menyelamatkan mereka dari keputusasaan mereka.

Rupanya iman dimulai dan dibutuhkan ketika orang menyadari bahwa dia "membutuhkan keselamatan". Tatkala orang tahu dan sadar bahwa ia mengalami atau berada dalam kesulitan dan tak bisa mengatasinya dengan segala kekuatan apa pun yang ia miliki; ia membutuhkanTuhan.

Maka, saat petang datang membawa kegelapan; datangnya badai yang menggoncangkan perahu, terkadang punya makna agar orang tersentak, tersadarkan bahwa Ia tak bisa apa-apa, kemampuannya terbatas, tak lagi berdaya.

Badai membuat orang berlari mencari Tuhan, berseru memohon pertolongan-Nya. Badai membangkitkan kembali iman yang rapuh, pudar, atau bahkan berkedip-kedip nyaris padam. Badai membuka kedok kelemahan kita. Badai membuka hati kita yang hampa dan gersang. Dengan badai, terungkaplah tipuan-tipuan kita yang ditutup dengan keegoan dan keangkuhan diri.

Permulaan dari iman adalah tahu bagaimana keselamatan itu ada. Datangnya petang yang membawa kegelapan dan badai menyadarkan kita bahwa kita mesti berlari kepada Tuhan. Kita mengundang Yesus ke dalam perahu hidup kita karena Dia-lah yang menenangkan semuanya. Dia pasti membuat semuanya menjadi baik. Dia mengambil semua kepanikan kita dan memberi ketenangan kepada kita. Di dalam Tuhan, semua hidup.

Marilah kita mengundang Yesus ke dalam perahu hidup kita. Tidak dengan cara mengeluh dan anggapan keliru, "Tuhan, engkau tidak peduli kita binasa?" Kita mengundang Yesus, karena percaya bahwa hanya Dia-lah yang bisa membuat kita tidak binasa. Kepada-Nya kita serahkan ketakutan akan badai, sehingga Dia bisa menaklukkannya; kita serahkan perahu kita yang oleng dan perjalanan ke depan tanpa arah dan kepastian. Seperti para murid, kita akan mengalami bahwa bersama-Nya di atas perahu, tidak akan ada perahu kita yang akan karam. Dia adalah kekuatan Allah. Dia membawa ketenangan ke dalam badai kita, karena bersama Dia, hidup tidak pernah mati.

Saat badai, Yesus pasti "bangun" oleh seruan kita, untuk membangkitkan ulang dan menghidupkan kembali iman kita. "Kita memiliki sebuah jangkar: melalui salib-Nya kita telah diselamatkan. Kita memiliki sebuah kemudi: dengan salib-Nya kita telah ditebus. Kita memiliki harapan: melalui salib-Nya kita telah disembuhkan dan dipeluk sehingga tak ada dan tak seorang pun dapat memisahkan kita dari kasih-Nya yang menebus", demikian nasihat Paus Fransiskus.

Olehnya, saat petang dengan kegelapan dan badai yang masih mengguncang ini, kita kembali meneguhkan iman kita kepada Tuhan. Kita dengar dan meresapkan kata-kata sapaan Yesus, "Jangan takut! Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa" (bdk. Mat 28:20). *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved