Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Minggu 17 Januari 2021: Marilah dan Kamu Akan Melihatnya
Berbeda dengan kisah Injil hari ini. Yohanes tak melihat Yesus sebagai rival.Ia malah melihat penampilan Yesus sebagai Juru selamat sesuai ramalan
Renungan Harian Katolik, Minggu Biasa II, 17 Januari 2021. Th B: Marilah dan Kamu Akan Melihatnya (Yohanes 1: 35-42)
Oleh: RD. Ambros Ladjar
POS-KUPANG.COM - Menarik kalau kita perhatikan setiap kesempatan pilkada. Masing-masing Paslon saling menempatkan diri sebagai saingan, rival satu sama lain. Karena rival maka mereka saling membabat habis-habisan tanpa etika yang dipegang. Tak ada lagi suasana saling menghargai. Relasi persaudaraan telah berubah menjadi ajang permusuhan. Tak heran bila momentum pilkada menyisahkan dendam kesumat dan rasa sakit hati yang bertahun-tahun.
Jika demikian, maka sejatinya orang gagal mengukur kematangan dirinya. Berbeda dengan kisah Injil hari ini. Yohanes tak melihat Yesus sebagai rival, lawan. Sebab tidak membuat popularitasnya redup. Ia malah melihat penampilan Yesus sebagai Juru selamat sesuai ramalan para nabi.
Olehnya, dia tampilkan dialog yang humanis antara Yesus dan para murid perdana. Yesus pun bukan diperkenalkan sebagai guru, pemimpin besar yang sukses, tapi sebagai Anak Domba Allah. Sebuah ungkapan yang erat berkaitan dengan Korban persembahan bangsa Israel kepada Yahwe.
Ada beberapa point dalam dialog buat kita. Pertama, menjadi pengikut Yesus tidak serta merta menjadi pemimpin hebat yang sukses, tapi menjadi pribadi yang berkorban. Jika salah konsep maka cuma akan membuat kita stress.
Kedua, menjadi murid berarti kita harus rela menderita. Juga siap ditolak, siap sakit hati bahkan dibantai, karena membela yang benar dan pertahankan yang baik.
Ketiga, berlaku menjadi Guru yang baik dalam interaksi dengan sesama. Polanya berproses seperti para murid pertama kenal Yesus. Setelah melihat fakta, mereka percaya dan sama-sama saling mengajak.
Kita hidup di zaman penuh dengan persaingan. Kentalnya persaingan sering berdampak hancurnya persaudaraan dan kekeluargaan. Jika tak mengakui kelebihan dan kekurangan, maka bukti nyata orang gagal untuk maju.
Biasanya ada peluang orang lebih maju jika figur-figur penting sedang saling menjegal. Jika demikian kita bermental primitif karena menghambat laju orang lain menggapai masa depan.
Marilah kita belajar rendah hati seperti Yohanes Pembaptis. Ia tak galau ketika Yesus muncul dan dipuji banyak orang. Itulah bukti bahwa dia sukses menyiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus.
Selamat pagi dan selamat Hari Minggu buat para sahabat dan segenap keluarga semuanya. Tetaplah teguh berpendirian yang baik menatap masa depan, Tetapi jangan lupa terapkan Protokol Kesehatan. Tuhan memberkati kita.*
Simak juga video renungan hari Minggu berikut: