Breaking News:

Rekening Dibobol Rp 3,4 M, SS Malah Diancam 33,5 Tahun Penjara

SS tidak pernah meminjam dari Bank NTT, namun Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya bersalah dan merugikan negara hingga Rp 66 miliar.

Penulis: Paul Burin | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Suasana pada sidang di Pengadilan Tipikor Kupang, Selasa (24/11/2020) 

Rekening Dibobol Rp 3,4 M, SS Malah Diancam 33,5 Tahun Penjara

POS-KUPANG.COM|KUPANG--NASIB naas menimpa salah satu nasabah (bukan debitur, red) Bank NTT, Stefanus Sulayman (SS) yang menjadi salah satu terdakwa kasus dugaan korupsi kredit macet Bank NTT.

Walaupun SS tidak pernah meminjam dari Bank NTT, namun Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya bersalah dan merugikan negara hingga Rp 66 miliar.

Aneh memang, tapi itulah yang dialami SS. Ia tidak meminjam sepeser rupiah pun dari Bank NTT, namun ia terancam penjara hingga 33,5 tahun.  Ancaman kurungan badan dan denda yang dituntut oleh JPU kepada SS jauh lebih tinggi dibandingkan tuntutan JPU kepada para debitur (yang katanya macet, red) Bank NTT.  

Bahkan berdasarkan fakta persidangan, SS telah dirugikan hingga Rp 10,2 miliar oleh Bank NTT karena rekeningnya dibobol (debet otomatis, red) senilai Rp 3,4 M (tanpa sepengetahuan SS, red). SS juga diminta membeli aset dari debitur macet senilai Rp 6,8 miliar (namun tidak pernah diserahkan sertifikat/surat-suratnya kepada SS. 

Hal itu telah dilaporkan SS  ke Polda Jatim, namun beberapa hari kemudian ia ditangkap Tim Jaksa Kejati NTT. 

Tim Penasihat Hukum (PH) Stefanus Sulayman yang diwawancarai usai pembacaan pledoi, Selasa (24/11/20) membeberkan adanya kerugian yang dialami oleh kliennya dari debet otomatis Rp 3,4 miliar dan  pembelian aset Rp 6,8 M tersebut.

Menurut tim PH, sesuai fakta dalam persidangan, saksi-saksi dari Bank NTT mengungkapkan adanya debet otomatis dengan nilai sekitar Rp 3,4 miliar dari rekening milik Stefanus Sulayman. Juga adanya pembelian aset debitur macet senilai Rp 6,8 miliar. 

Anggota Tim PH,  Stefanus Sulayman, Nurmawan Wahyudi, SH, MH mengungkapkan, debet otomatis untuk membayar cicilan debitur macet Bank NTT tersebut tanpa sepengetahuan Stefanus Sulayman sebagai pemilik rekening.

“Majelis Hakim sempat berkomentar bahwa debet otomatis yang tanpa sepengetahuan SS sebagai nasabah merupakan ‘perampokan’ terhadap nasabah,” tandas Nurmawan.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved