Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 21 November 2020: Iman Akan Kebangkitan
Percaya akan kebangkitan badan adalah salah satu butir iman Katolik yang tertera dalam Credo Gereja.
- Renungan Harian Katolik, Sabtu 21 November 2020: Iman Akan Kebangkitan (Renungan Atas Perikop Injil Lukas 20: 27-40)
Oleh: Fr. Giovanni A. L Arum
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang
POS-KUPANG.COM - Percaya akan kebangkitan badan adalah salah satu butir iman Katolik yang tertera dalam Credo Gereja. Kita percaya akan adanya kebangkitan karena iman kita akan kebangkitan Kristus sebagai “buah sulung” dari segala ciptaan.
Rasul Paulus menegaskan: “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor. 15:22-23).
Kebangkitan menunjuk pada kehidupan abadi yang dijanjikan Allah bagi semua orang beriman. Dengan percaya akan adanya kebangkitan, kehidupan di dunia pun mendapat maknanya. Iman akan kebangkitan pula menjadi cahaya yang menerangi peristiwa gelap kematian. Sebab dalam iman kita percaya bahwa hidup kita hanyalah diubah dan bukan dilenyapkan.
Bacaan Injil suci hari ini mengangkat kisah polemik antara Yesus dan orang-orang Saduki perihal kebangkitan. Orang Saduki adalah golongan konservatif Yahudi yang tidak percaya akan adanya malaikat dan kebangkitan orang mati. Mereka mendasarkan kepercayaan mereka hanya pada lima kitab Taurat Musa (Pentateukh) dan menolak kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama, apalagi “tradisi nenek moyang” yang sering dipertahankan oleh orang-orang Farisi.
Mereka mengangkat kasus “perkawinan levirat” (perkawinan ipar) sebagai dasar untuk membangun argumen kontra terhadap adanya kebangkitan. Dengan mengutip perintah Musa dalam Ul. 25:5, mereka mengajukan kasus seorang perempuan yang menikahi tujuh orang lelaki bersaudara (poliandri), di mana semua lelaki itu tidak membangkitkan keturunan baginya (Ay. 28-32). Dari dasar kasus fiktif ini, mereka bertanya tentang siapakah yang akan menjadi suami sah dari pihak perempuan pada hari kebangkitan?
Yesus membongkar pemahaman keliru mereka dengan menegaskan bahwa keadaan saat kebangkitan dan keadaan saat hidup di dunia itu berbeda. Tidak ada lagi ikatan daging dan hukum kodrat manusiawi. Dalam kehidupan yang baru, jiwa-jiwa manusia akan hidup “sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah” (Ay. 36).
Yesus mendasarkan ajaran tentang kebangkitan pada pernyataan Musa sendiri yang menyapa Allah sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yakni Allah orang yang hidup. Dengan demikian, kehidupan abadi terjadi ketika manusia menjadi milik Allah secara sempurna, atau ketika kita berhadapan wajah dengan Allah (vissio beatifica).
Dari bacaan suci ini kita belajar untuk membuktikan iman kita akan adanya kebangkitan dengan mengelola hidup secara baik dan benar selama kita berada di dunia. Mengapa? Karena kerinduan untuk bersatu dengan Allah kelak harus menyata dalam pilihan hidup kita hic et nunc (di sini dan sekarang ini). Sungguh ironis jika kita mengharapkan hidup kekal tetapi sikap hidup kita tidak sejalan dengan apa yang dituntut untuk memperoleh hidup yang kekal itu. Mari berbenah. Tuhan memberkati kita. Salvete!