Breaking News:

Salam Pos Kupang

Keracunan Makanan dan Mentalitas Instan

WARTA memilukan datang lagi dari Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS). Warga terkapar lemah dan tak berdaya di Rumah Sakit dan puskesmas

Keracunan Makanan dan Mentalitas Instan
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - WARTA memilukan datang lagi dari Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS). Warga terkapar lemah dan tak berdaya di Rumah Sakit dan puskesmas. Mengapa? Keracunan makanan. Mirisnya, kasus ini terjadi bukan hanya sekali. Tetapi kerap terjadi hingga ada nyawa yang melayang. Sedih.

Terbaru, kasus keracunan makanan terjadi Nekmese Kuatnana-TTS, Selasa (17/11/2020). Menyasar 166 anak yang mengikuti perayaan HUT ke-10 PAR GMIT Imanuel Kuatnana. Anak-anak yang sebelumnya ceria tiba-tiba mengalami mual, muntah, diare, sakit kepala. Petaka datang sesusai menyantap menu makan siang yang disediakan panitia. Nikmatnya mie dan daging ayam membawa sengsara. Suasana pun menjadi hiruk pikuk.

Baca juga: Lima Paslon Puas Debat Pilkada Ngada

Para korban pun dilarikan ke Puskesmas Tetaf untuk mendapatkan pertolongan medis. Pemerintah juga mendirikan pos penanganan korban di Kantor Desa Tetaf agar perawatan terhadap para korban lebih terfokus. Konon, ini merupakan kasus serupa keempat yang terjadi di daerah yang dinakhodai Bupati Epy Tahun itu.

Pertanyaannya, mengapa kasus keracunan makanan ini selalu terjadi di TTS. Kasus keracunan yang terjadi sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran dan acuan penananganan agar tidak terjadi lagi. Bisa terjadi ada prosedur yang salah dalam pengolahan makanan. Mengabaikan segi higienis. Atau material makanan diambil dari barang-barang yang sudah kadaluarsa. Masa lakunya sudah habis. Menjadi racun.

Baca juga: Neke Minta Masyarakat Ngada Jangan Gadaikan Suara

Ingat, keracunan makanan adalah penyakit yang disebabkan oleh karena mengonsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya atau toksik atau yang terkontaminasi. Penyebab keracunan makanan yang paling umum adalah organisme infeksi, termasuk bakteri, virus dan parasit atau toksinnya.

Organisme infeksius atau toksinnya dapat mencemari makanan kapanpun dan di manapun. Kontaminasi juga dapat terjadi di rumah jika makanan tidak ditangani atau dimasak dengan benar, sempurna. Atau kurang matang karena terburu-buru. Dampaknya kuman-kuman yang mudah menularkan penyakit seperti bakteri, virus dan parasit.

Karenanya, siapa pun yang menyiapkan makanan, terutama ibu-ibu, harus diedukasi tentang pentingnya kebersihan. Apalagi makanan yang disajikan dinikmati massa yang banyak. Ibu-ibu juga harus tahu jenis makanan mana yang mudah rusak setelah diolah agar disimpan tidak terlalu lama.

Makanan perishable merupakan jenis makanan yang mudah rusak, membusuk. Atau menjadi tidak aman untuk dikonsumsi jika tidak dimasukkan ke dalam kulkas. Contoh makanan jenis ini adalah telur dan produk susu, daging, unggas, serta beberapa buah dan sayur. Ibu-ibu harus memperlakukan makanan-makanan jenis ini sesuai prosedurnya sehingga ketika disajikan tidak berdampak pada kesehatan.

Apa yang terjadi di Kesetnana-TTS ini bisa jadi karena ada pelanggaran prosedur terhadap beberapa jenis makanan yang dimasak. Disimpan terlalu lama pada suhu yang tidak pas sehingga cepat rusak. Juga perlu diketahui, talenan untuk daging seharusnya berbeda dengan talenan untuk sayuran. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi silang yang bisa merugikan kesehatan kita. Jangan lupa juga untuk memisahkan penyimpanan pangan mentah dan pangan matang di kulkas.

Pun sudah jamak kita tahu agar tidak mengonsumsi/meminum air yang kurang bersih. Hindarilah minum air dari tempat yang kurang bersih karena berisiko tinggi terkontaminasi bakteri. Jika Anda sedang berlibur, misalnya ke area yang belum familiar, persiapkan obat atau suplemen probiotik. Mengonsumsi makanan yang salah dapat mengiritasi usus.

Edukasi tentang hal-hal praktis ini harus selalu rutin diberikan aparat dinas kesehatan atau instansi terkait lainnya agar masyarakat tidak terjerat dalam kasus yang sama. Kondisi masyarakat kita yang selalu menginginkan hal-hal yang instan, cepat saji, merupakan mental yang membuat kasus-kasus serupa akan terjadi lagi di kemudian hari. Hal penting yang harus dilakukan adalah mengenali gejala- gejala keracunan makanan agar ditangani secara tepat. Jika salah, bisa menimbulkan korban jiwa.

Gejala yang muncul dapat bervariasi, tergantung pada sumber infeksi. Lamanya waktu yang diperlukan untuk gejala muncul juga tergantung pada sumber infeksi, tetapi dapat berkisar dari 1 jam hingga 28 hari. Kasus keracunan makanan yang biasa terjadi biasanya akan mencakup setidaknya tiga dari gejala ini, yakni kram perut, diare, muntah, kehilangan selera makan, demam ringan, lemah, mual dan sakit kepala.

Tindakan preventif juga perlu dilakukan. Ini peran dan tugas pemerintah. Sweeping dan razia sembako di toko dan kios harus rutin dilakukan. Secara terjadwal. Menyita dan memusnahkan material makanan yang sudah kadaluarsa. Pemerintah jangan bertindak seperti pemadam kebakaran. Bertindak kalau kasus keracunan terjadi. Hangat-hangat tahi ayam, lalu pelan-pelan menghilang. Alasan klasik kalau dipertanyakan. Kehabisan dana operasional. Ini juga termasuk mentalitas instan.

Pemilik toko atau kios yang kedapatan menjual makanan dan minuman kadaluarsa harus ditindak. Diseret ke pengadilan, dijeblos ke penjara agar ada efek jera. Jangan hanya gertak sambal. Habis di omong. Hilangkan perasaan untuk berkompromi dengan hukum karena taruhannya mahal. Nyawa melayang. Hukum harus ditegakkan agar warga tidak mati-mati sia-sia hanya karena keteledoran seseorang yang mencari untung. Yang lain buntung. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved