Selasa, 16 Juni 2026

Damianus Rugi Rp 30 Juta Babi Mati Mendadak Akibat ASF

African Swine Fever ( ASF) atau demam babi Afrika menyerang ternak babi.

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ORIS GOTI.
Margareta Elvilenta Wea warga Desa Nanganesa Kabupaten Ende tengah membersihkan kandang babinya agar tidak rusak, Kamis (19/11/2020). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG -African Swine Fever ( ASF) atau demam babi Afrika menyerang ternak babi. Selama Januari-November 2020, Dinas Peternakan Provinsi NTT mencatat sebanyak 60.851 ternak babi mati sia-sia akibat ASF. Kasus kematian babi ini tersebar di 23 kabupaten/kota.

Peternak babi menjerit. Warga Desa Nanganesa Kabupaten Ende, Margareta Elvilenta Wea sedih karena semua babinya mati. Rentang waktu kematian ternak babi miliknya selama Mei-Juni 2020.

"Padahal, saya dan suami sedang menunggu beranaknya dua ekor babi betina yang sedang bunting. Semua babi ada sembilan ekor, ada dua ekor yang sedang bunting, itu juga mati, semua mati," ujar Margareta saat ditemui di Desa Nanganesa, Kamis (19/11/2020).

Baca juga: Terjebak Corona dan Berhasil Buka Warung Lele Pertama di Lembata

Margareta dan suaminya Damianus Manans bersusah payah beternak babi. Tidak sedikit tenaga dan biaya yang mereka keluarkan, termasuk untuk membeli pakan, bayar air dan listrik.

"Pagi, siang sore kami selalu perhatikan babi. Sekarang hanya lihat kandang kosong saja. Walau kandang kosong kami tetap rajin cuci, supaya kandang jangan rusak. Rencana mau pelihara babi lagi," ungkapnya.

Damianus Manans mengaku mengalami kerugian Rp 30 juta. Menurutnya, mereka masih enggan kembali beternak babi dalam waktu dekat ini.

Baca juga: AHP Apresiasi Pemerintah Berikan Tunjangan Buat Guru Honor

"ASF belum habis ni, takut juga kalau mau pelihara lagi. Yah rencananya tahun 2021 baru pelihara lagi," kata Damianus.

Sejak babinya terserang ASF, Damianus belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Ende bisa memerhatikan para peternak babi yang terdampak ASF.

Warga Kelurahan Paupire, Kabupaten Manggarai Barat, Veronika Sisi juga mengeluhkan hal yang sama. Babinya sebanyak tiga ekor mati terserang ASF, sebelum laku terjual.

Seorang peternak di Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Fabianus Jegaut (36) mengaku rugi Rp 28 juta. "Total ada 8 ekor babi yang mati. Jadi, ada 3 ekor babi ukuran yang harganya hingga Rp 6 juta dan babi ukuran sedang ada 5 ekor yang harganya Rp 2,5 juta per ekor," jelasnya.

Semua babi yang mati dikuburkan. Ia sudah melaporkan kejadian tersebut ke Dinas PKH Kabupaten Manggarai Barat.

"Dari dinas sudah turun, dan kuat dugaan ASF, karena ciri-ciri babi saya sebelum mati tidak mau makan, demam, terlinga ada blau, dan jika blau ini kalau pecah maka babi langsung mati," ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah babi di sekitar kandang ternak miliknya pun mati dengan keadaan serupa.

"Saya berharap adanya perhatian dari pemerintah, karena kami mengalami kerugian," kata Fabianus.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Marianus Alexander, mengatakan virus ASF belum lenyap dari Ende. Oleh karena itu, warga harus tetap waspada dengan menjalankan biosecurity.

Ia menyebut jumlah babi yang mati akibat ASF selama Juni-Juli 2020 mencapai 1.200 ekor babi. Sementara pada akhir Juli-Oktober jumlahnya berkurang, yang mati 600 ekor. "Saya imbau, warga tetap terapkan biosecurity karena ASF ini belum zero, masih ada," kata Marianus.

Plt Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Apolinaris Meo menyebut sampai dengan November 2020 tercatat sebanyak 434 babi mati akibat virus ASF.
Terjadi Kecamatan Aesesa dan Boawae.

"Memang semenjak kasus di Aeramo itu (wilayah Aesesa) tidak ada lagi kasus baru. Mulai menurun, kasus kemarin itu karena bawa babi dari Aeramo ke tempat lain sehingga terjangkit. Kita sudah minta petugas untuk lokalisir tempat-tempatnya," jelas Meo ketika dihubungi, Kamis (19/11).

Ia menegaskan, pihaknya masih melarang transaksi jual beli babi di pasar dalam rangka upaya pencegahan penyebaran ASF. Selain itu, petugas rutin turun lapangan memberikan edukasi masyarakat tentang antisipasi dan bahaya ASF.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Manggarai Barat, drh Theresia P Asmon mengatakan sebanyak 693 babi dilaporkan mati karena terserang ASF.

Kematian babi tersebar di beberapa kecamatan, yaitu Komodo, Sano Nggoang, Lembor, Lembor Selatan dan Welak. Theresia mengatakan, kematian babi akibat ASF menjadi perhatian pemerintah.

Sementara di Kabupaten Malaka, sebanyak 19.000 babi mati sia-sia akibat terserang virus ASF.

"Puncak kejadian babi mati, sudah lewat. Ada sekitar 19.000 ekor babi yang mati dari hasil pendataan kami. Ini masih saja lebih karena ada yang lepas berkeliaran bebas. Kita prihatin ternak babi mati sia-sia dari ASF," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Malaka, drh Rofinus Seran di Betun, Kamis (19/11).

"Pemda belum berani memprogramkan pengadaan bibit ternak babi untuk kelompok masyarakat," tambahnya.

Di Kabupaten Belu, sebanyak 6.619 babi mati akibat ASF. Total kerugian yang dialami peternak mencapai Rp 33 miliar. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri menyebut ada 1.772 peternak yang menjadi korban.

"Total kerugian dihitung dari harga jual babi rata-rata Rp 5 juta pr ekor, jadi kalau 6.619 ekor kali Rp 5 juta sudah Rp 33 miliar," jelas Niko Birri.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh Artati Loasana, Msi menyebut sekitar 60.851 babi mati akibat ASF selama Januari-November 2020, tersebar di 23 kabupaten/kota.

Kerugian yang diderita masyarakat akibat meningkatnya angka kematian ternak babi ini, diperkirakan Rp 175,4 miliar. Menurut Artati, virus ASF baru pertama kali terjadi. "Jadi, kita istilahkan penyakit eksotik," kata Artati, Kamis kemarin.

Ia menjelaskan, pihaknya berusaha menutup semua akses jual beli ternak babi di seluruh wilayah NTT.

Namun perpindahan ternak serta bahan makanan dasar ternak dan daging babi dari daerah lain, khususnya Timor Leste, tidak terkontrol.

Hal itu sehingga menyebar ke perbatasan Indonesia, yakni Malaka dan kemudian ke seluruh wilayah NTT. "Kecuali yang belum ada laporan itu, Kabupaten Lembata," ujarnya.

Menurutnya, ASF seperti Covid-19. Hingga saat ini belum ada vaksin yang mampu mengatasi persoalan ini. Ketika virus ini telah menyerang ternak babi, maka secara otomatis akan mengakibatkan kematian

Artati mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat mengenai cara menghindari virus ASF dengan meningkatkan kebersihan pada pola pemeliharaan babi.

"Virus tersebut akan mati dengan sendirinya dengan mencuci kandang menggunakan disinfektan," ujarnya.

Mengingat ada virus ASF, kata Artati, sehingga Pemerintah Provinsi NTT pada tahun 2020 menunda bantuan ternak babi kepada warga. "Karena tidak mungkin dalam situasi begini kita berikan bantuan ternak babi," ujarnya. (kk/ii/gg/yon/jen/ii/cr5)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
Live
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved