Jumat, 17 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 19 November 2020: Oh Kota Negeriku

Teringat ketika memasuki kota Yerusalem saat berziarah ke Tanah Suci, tour guide yang adalah seorang Yahudi, mengajak kami menyanyikan "O Yerusalem"

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Teringat ketika memasuki kota Yerusalem saat berziarah ke Tanah Suci, tour guide yang adalah seorang Yahudi, mengajak kami menyanyikan lagu "O Yerusalem". Saya memperhatikan, Nissin, sang tour guide, menyanyikan lagu itu dengan penuh perasaan hingga merasuk jiwa.

"Oh Yerusalem
kota mulia
hatiku rindu ke sana
oh Yerusalem
kota mulia
hatiku rindu ke sana
tak lama lagi
Tuhanku datanglah
bawa saya masuk sana
tak lama lagi
Tuhanku datanglah
bawa saya masuk sana".

Saya meyakini Nissin sungguh mencintai Yerusalem, kotanya. Memang Yerusalem, kota kecintaan bangsa Yahudi. Umumnya siapa pun mencintai kotanya. So pasti sebagai warga Yahudi, Yesus pun mencintai kota-Nya Yerusalem

Tapi ternyata Yerusalem juga telah menjadi kota yang sangat mengecewakan hati Yesus. Lukas menulis dengan jelas, "Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisi-Nya" (19:41).

Kayaknya Yesus bukanlah orang pertama yang mengalami kesedihan dan menangis sehubungan dengan kota Yerusalem. Nabi Yeremia "menangisinya" dengan cara yang serupa.

"Tidak tersembuhkan kedukaan yang menimpa diriku, hatiku sakit pedih ... Aku akan membuat Yerusalem menjadi timbunan puing ... Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi sunyi sepi" (Yer 8:18 - 9:11).

Kata "menangisi" bisa berarti Yesus mencucurkan air mata. Itu tanda betapa lara dan sedih hati-Nya. Namun kata "menangisi" bisa jadi belum tentu berarti Yesus begitu sedih sampai mengeluarkan air mata. Mungkin saja sebuah lukisan dari Lukas untuk menunjukkan bahwa Yesus memang orang yang kini sedih lantaran mendapat perlakuan mengenaskan, tapi nanti akan bersukacita. Soalnya kata yang sama pernah muncul dalam Sabda Bahagia, "Berbahagialah hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa" (Luk 6:21). Pertanyaannya, kenapa Yesus sampai menangisi Yerusalem, kota kecintaan-Nya itu?

Sebagai warga kota Yerusalem, mungkin saja Yesus pun ingin bernyanyi dengan sepenuh perasaan saat dekat dan melihat kota-Nya itu. "Yerusalem, kota mulia. Hatiku rindu ke sana".

Tapi sayangnya Yesus justru menangisinya dan berkata, "... akan datang harinya, bahwa musuh akan mengelilingi kota itu dengan kubu, mengepungnya, menghimpitnya dari segala jurusan, dan akan membinasakan kota itu beserta penduduknya; pada temboknya tidak akan dibiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain".

Kenapa bisa keluar perkataan itu dari mulut Yesus? Alasannya, karena mereka, penduduk kota Yerusalem tidak mengetahui bilamana Allah melawatinya. Mereka tidak meyakini bahwa Yesus adalah Allah yang sedang melawati mereka. Sebaliknya mereka justru menolak dan menyalibkan-Nya. Justru di kota itulah, Ia mengalami nasib hidup-Nya yang tragis.

KITA?
Di lubuk hati kita tetap terpatri kecintaan akan kota kita masing-masing. Orang Larantuka sesekali menyanyikan lagu tentang kotanya yang menggetarkan hati. "Larantuka Lewonama, nagi tua punya nama. Tuan Reinha, Tuhan Ana, torang mati di kaki Tuan". Orang Batak mendendangkan lagu, "O Tano Batak". Orang Minang berdendang, "Kampuang nan jao di mato". Kita semua pun sangat senang melagukan, "Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa ..." Ya ... karena kita mencintai tanah tumpah darahku ini.

Tapi tak sedikit yang meratapi kotanya. Belum lama ini Megawati mengeluh, "Jakarta tak seperti dulu lagi". Amburadul di tangan Gabenar. Bangsa ini bersedih karena negeri ini diobrak abrik kaum intoleran, ormas yang dijuluki kadrun.

Tapi baiklah kita berharap Yesus tak menangisi kota kita, negeri kita tercinta ... lantaran kita dan semua warga yang lain tak pernah tahu bahwa Allah sedang melawati negeri kita; Lantaran kita tak pernah peduli akan kehadiran-Nya dalam kebersamaan dan persaudaraan hidup yang penuh cinta, dalam dalam penerimaan dan pengakuan satu akan yang lain sebagai sesama warga.

Saat sekarang ini kita berdoa agar negeri kita tercinta ini dilindungi oleh Tuhan dari mulut-mulut kotor dan tangan-tangan jahil yang ingin mengacaukan dan memecahbelah NKRI.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved