Realisasi KUR Pertanian NTT Rendah, Baru Capai Rp 8,4 Miliar
Realisasi KUR Pertanian NTT baru mencapai Rp8,4 miliar dari target sekitar Rp490-an miliar
Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Realisasi KUR Pertanian NTT baru mencapai Rp8,4 miliar dari target sekitar Rp490-an miliar.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli menjelaskan bahwa penyebab rendahnya serapan KUR karena petani belum terbiasa dengan bank.
"Mereka (petani) belum terbiasa dengan bank. Padahal, kapasitas usahanya itu sudah bisa bekerja sama dengan bank. Jadi, mereka bisa dapat tambahan modal untuk melipatgandakan produksi," ungkap Lecky kepada POS-KUPANG.COM, Senin (9/11/2020).
Baca juga: Update Corona Sumba Timur - 10 Sampel Swab dari Sumba Timur Negatif
Diakuinya, masyarakat perlu dipersiapkan agar mampu memanfaatkan KUR ini. Hal yang perlu dilakukan adalah menjaga cashflow dan stabilitas dari pendapatannya. Petani seringkali ragu karena belum merasakan manfaat secara berkelanjutan.
"Ini yang kita latih mereka untuk ada input-sarana produksi, bibit-proses produksi, output-dapat hasil, jual, dapat uang. Satu kali belum bisa, mesti dua tiga kali, jadi dia sudah menikmati satu siklus ekonomi dari suatu proses produksi. Kalau sudah ada stabilitasnya, kita (pemerintah) mundur, bank maju," katanya.
Baca juga: Sikapi Akun Palsu di Medsos, Polda NTT Akan Lakukan Patroli Cyber
Menghadapi situasi ini, dinas memercayakan para petugas di kabupaten bersama perbankan untuk memfasilitasi petani agar penyerapan KUR bisa lebih signifikan. "Kita rugi. Uang sudah ada hampir lima ratus miliar, tapi serapannya rendah. Ini satu hal yang tidak boleh terjadi kalau kita semua baik provinsi, kabupaten, dan teman-teman di lapangan bekerja sungguh-sungguh untuk meyakinkan petani," katanya prihatin.
Tak hanya keraguan petani akan perbankan, serapan KUR yang rendah ini juga mengindikasikan bahwa pemerintah belum optimal mendampingi para petani. Lecky menyampaikan bahwa telah dilakukan evaluasi agar para pejabat kabupaten bisa melakukan pendampingan untuk menaikkan angka serapan KUR Pertanian ini.
"Tantangan kita itu memang petani belum biasa terhubung dengan perbankan, jadi belum familiar. Ada keragu-raguan di situ. Tugas kitalah untuk memberi keyakinan kepada mereka; beri opsi-opsi kepada mereka," tutupnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)