Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Minggu 8 November 2020: Bijak Berjaga dan Pilihan Universal
Berjaga-jaga itu bijaksana. Sebagaimana pepatah mengatakan siapkan payung sebelum hujan.
- Renungan Harian Katolik, Minggu 8 November 2020: Bijak Berjaga dan Pilihan Universal
Oleh: RD. Maxi Un Bria
POS-KUPANG.COM - Selamat Hari Minggu bagimu semua. Berjaga-jaga itu bijaksana. Sebagaimana pepatah mengatakan siapkan payung sebelum hujan. Agar tidak basah saat diguyur hujan. Umumnya manusia memilih untuk berjaga-jaga.
Berjaga-jaga merupakan sikap bijak antisipatif sebelum kejadian terburuk menimpa diri dan hidup. Berjaga-jaga juga dapat berarti mempersiapkan diri secara baik sebelum melakukan sebuah kegiatan, baik secara individual maupun secara kolektif. Berjaga-jaga juga merupakan sikap mawas diri dan kehati-hatian agar apa yang direncanakan dapat dilakukan dengan benar dan berhasil sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Semua orang yang hedak menggelar kegiatan yang melibatkan banyak orang selalu membuat perencanaan yang matang. Perencanaan selalu melibatkan pertimbangan rasional dan hati nurani agar apa yang direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan konteks, kapasitas dan ketersediaan sumber daya.
Yesus dalam perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh dalam perikope Injil Matius 25 :1-13 menarasikan kecenderungan umum manusia dalam menantikan sesuatu yang istimewa.
Pertama, ada yang menanti dengan sabar dan gembira dengan segala kelengkapan yang dibutuhkan untuk kelancaran dan efektivitas kegiatan.
Kedua, ada juga yang tidak sabar menanti dan terjebak dalam tindak emosional sesaat. Hal itu akhirnya mengaburkan fokus persiapan dalam menantikan sesuatu yang besar di masa depan.
Kisah lima perempuan yang bijaksana dipuji Tuhan karena mereka menantikan kedatangan pengantin dengan sabar, seraya membawa pelita dan minyak yang berguna untuk menyalakan pelita mereka saat penyambutan. Sementara lima gadis yang lain yang tidak sabar menanti, hanya mempersiapkan pelita tanpa minyak.
Jadi sudah dapat dibayangkan bahwa lima gadis yang terakhir ini memang dikatakan bodoh karena selain tidak mempersiapkan diri dengan baik, mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk masuk dalam perjamuan nikah lantaran pintu telah tertutup, juga karena mereka tidak membawakan minyak pada pelitanya.
Padahal seharusnya mereka dapat mempersiapkan pelita dan minyak sebelum kedatangan pengantin. Perumpamaan yang dikisahkan Yesus membuka wawasan para murid dan khalayak untuk bersikap bijak, kreatif dan integratif dalam mempersiapkan segala kegiatan. Utamanya mempersiapkan kedatangan Tuhan dengan bersikap bijak, bertindak kreatif dan integratif serta mengisi segala waktu kehidupan dengan kegiatan-kegitan amal dan positif.
Meski demikain, untuk menjadi manusia yang bijak, siap sedia dan selau berjaga itu membutuhkan proses latihan dan kepekaan hati. Manusia diminta untuk selalu mencari dan memohonkan rahmat kebijaksanaan dari Tuhan sebagai sumber kebijaksanaan.
Berbahagialah manusia yang selalu mengandalkan hikmat dan rahmat dari Allah dalam mempersiapkan diri melalukan berbagai aktivitas di bumi maupun menantikan saat kedatangan Tuhan.
Sebagaimana ditegaskan Penginjil Matius, ”Berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya” ( Matius 25 : 13 ). Sebab yang telah berjaga-jaga dengan bijak pasti akan turut serta dalam perjamuan sukacita di bumi dan di akhirat yang disiapkan Tuhan bagi setiap orang beriman. Salve.*
SIMAK JUGA VIDEO BERIKUT:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/maxi-un-bria-di-menara-pizza.jpg)