Kamis, 16 April 2026

Empat Bulan Deflasi, Kini NTT Alami Inflasi

Nusa Tenggara Timur ( NTT) mengalami Inflasi sebesar 0,26 persen di bulan Oktober 2020

Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Intan Nuka
Pers Rilis BPS NTT tentang Inflasi Oktober 2020, Senin (2/11/2020) 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Nusa Tenggara Timur ( NTT) mengalami Inflasi sebesar 0,26 persen di bulan Oktober 2020. Inflasi ini dihitung dari tiga kota yakni Kota Kupang, Maumere, dan Waingapu.

"Hari ini kita mengalami inflasi setelah empat bulan alami deflasi," jelas Kepala Bidang Distribusi BPS Provinsi NTT Demarce M Sabuna saat menyampaikan rilis pers melalui Youtube Humas BPS NTT, Senin (2/11/2020).

Demarce memaparkan, inflasi Kota Kupang sebesar 0,19 persen, Kota Maumere sebesar 0,87 persen, dan Kota Waingapu sebesar 0,18 persen. Namun, jika dilihat dari sisi inflasi tahun kalender 2020, NTT masih mengalami deflasi sebesar 0,46 persen. Inflasi tahun kalender ini dihitung dari Oktober 2020 dibandingkan dengan Desember 2019. Jika dilihat secara year on year atau Oktober 2020 dibandingkan Oktober 2019, maka NTT mengalami inflasi sebesar 1,04 persen.

Baca juga: Lampu Berbentuk Burung Garuda Akan Dipasang di Kota Ende, Perkuat Identitas Kota Pancasila

Sementara itu, inflasi bahan makanan, minuman, dan tembakau di NTT sendiri mengalami inflasi sebesar 0,93 persen. Selain itu ada Inflasi di sisi kesehatan sebesar 1,01 persen yang dipicu oleh naiknya tarif rumah sakit di salah satu kota di NTT. Sedangkan dari sisi pendidikan, kenaikan inflasi sebesar 0,26 persen, karena adanya salah satu perguruan tinggi yang mengalami kenaikan biaya perguruan tinggi.

"Yang perlu kita waspadai adalah inflasi di NTT sebagian besar disebabkan karena adanya inflasi di kelompok bahan makanan, minuman, dan tembakau," ia menegaskan.

Baca juga: Kepala BKPP Sumba Barat Tunggu Hasil Panselnas Umumkan Kelulusan CPNS Tahun 2020

Selanjutnya, kelompok ikan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi di NTT. Berikutnya, ada sawi putih dan cabai merah. Kenaikan harga cabai merah cukup tinggi karena adanya keterbatasan jumlahnya di NTT. Inflasi juga terjadi karena kenaikan harga jeruk nipis, labu siam, buncis, dan daun singkong. Sedangkan kelompok penghambat inflasi berada di komunitas apel, telepon seluler, telur ayam ras, tarif listrik, emas dan perhiasan, beras, daun kelor, dan bayam.

"Kita perlu waspada ketersediaan stok dan distribusi. Inflasi terjadi karena kekurangan stok di masyarakat dan distribusi yang kurang baik," tandas Demarce. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved