Renungan Harian Katolik
Makna Hidup
Yesus mengingatkan kita bahwa yang utama adalah bahasa kasih kepada Allah yang terungkap secara konkret dalam tindakan kepada sesama
Renungan Harian Katolik, Minggu Biasa XXX 25 Oktober 2020
Makna Hidup (Kel 22:21-27; 1Tes 1:5c-10); Mat 22:34-40)
Oleh: Pastor Steph Tupeng Witin SVD
Saudara-saudari yang terkasih,
HIDUP kita adalah sebuah ziarah panjang menemukan makna hidup. Rentang waktu antara tangisan pertama dan tarikan nafas terakhir mesti bermakna. Bagi mayoritas orang, makna hidup itu terkait erat dengan kekayaan, harta, uang dan kuasa. Pertanyaan tentang makna hidup terkait dengan harta dan kuasa setua usia peradaban.
Yesus memberikan jawaban yang mendasar: Harta dan kuasa bukan tujuan hidup. Harta dan kuasa tidak menjadi jaminan hidup kekal. Orang mesti membebaskan diri dari kecemasan yang berlebihan akan harta dan kuasa yang bisa mendorongnya menjadi budak keserakahan. Orang begitu sederhana mencari keamanan palsu di balik gemerlap harta dan kilau kekuasaan. Kitab Pengkhotbah menyebut ini sebagai “kesia-siaan.”
Yesus mengingatkan kita bahwa yang utama adalah bahasa kasih kepada Allah yang terungkap secara konkret dalam tindakan kepada sesama (Mat 37-39). Kasih akan mengubah kita menjadi manusia kaya di hadapan Allah (Luk 12:21) ketika harta dan kuasa kita abdikan untuk melayani sesama, terutama yang miskin dan berkekurangan.
Kitab Keluaran menyebut secara spesifik mereka yang mesti kita kasihi: orang asing, janda dan yatim piatu, orang berutang, orang miskin, orang lemah (Kel 22:21-26). Orang-orang kecil seperti inilah yang dalam pengadilan terakhir menjadi ukuran praktik iman kita selama hidup. Ukurannya adalah bahwa Allah mengasihi tanpa batas. “Aku adalah pengasih” (Kej 22: 27). Kasih Allah inilah yang mesti menjadi ilham bagi kita dalam menata hidup.
Saudara-saudari terkasih
Semangat berbagi, komitmen memberi adalah undangan bagi kita untuk mengumpulkan harta surgawi melalui kehidupan fana yang dijiwai oleh Roh. Rasul Paulus menyebutnya sebagai “perkara yang di atas.” Harta surgawi itu laksana harta karun dan mutiara berharga. Kita harus rela mengesampingkan semua hal lain agar sungguh memiliki-Nya. Kita harus meninggalkan semua yang lain yang memberi kita segala keamanan palsu di luar Allah. Kita mesti setia memberi walau kita hidup sederhana dan penuh keterbatasan.
Paulus mengajak kita mengikuti teladan hidup jemaat di Telaslonika: Sabda kasih yang mereka hayati dalam hidup telah menjadi cahaya yang menerangi semua orang (1Tes 1: 5-6).
Dalam bahasa Muder Teresa dari Kalkuta, kita mesti menjadi pensil-simbol kesederhanaan-yang melaluinya Allah menuliskan tinta kasih-Nya kepada sesama. Tulisan mengabadi dan menjelma menjadi dokumen sejarah. Tinta kasih yang kita tulis di hati sesama tak akan pernah memudar, apalagi menghilang.
Saudara-saudari yang terkasih
Morrie Schwartz adalah guru besar sosiologi pada sebuah universitas terkemuka di AS. Pada usia 60 tahun Morrie menderita semacam asma, sistem syarafnya kena penyakit yang tidak bisa diobati. Ia hanya bisa bernafas melalui satu tabung yang dipasang di leher yang dilobangi. Nyawanya seakan-akan tersisa di dalam onggokan tubuh yang lumpuh, yang hanya bisa mengedipkan mata. Pada setiap Selasa selama 14 hari, ia masih memberikan kuliah tentang makna hidup melalui mikrofon dari atas pembaringan. Bahan kuliah itu kemudian menjadi buku terlaris di AS “Tuesdays with Morrie” Selasa Bersama Morrie: Pelajaran tentang Makna Hidup. Menurutnya, hidup ini bermakna ketika kita mencintai sesama, mengabdi masyarakat sekitar dan berbuat sesuatu yang bermakna.
Hal yang menarik dari Morrie ialah bahwa ia tidak memilih untuk menjadi marah dan membuat orang lain jadi korban dengan penderitaannya. Harapan, baginya, ialah ketika ia memberi. Mungkin dengan sedih dan getir dan rapuh. Tapi akhirnya ia memberitahu kita: tetap saja ada orang yang setia berbuat baik, berbuat kasih, juga dalam kekalahannya. Itulah tanda bahwa kasih Kristus tetap hidup. *
SIMAK JUGA VIDEO BERIKUT:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)