Renungan Harian Katolik
Kecil Itu Indah
Seorang filsuf Tiongkok bernama Sun Tzu pernah mengatakan demikian bahwa "Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah kecil"
Renungan Harian Katolik, Selasa 27 Oktober 2020
KECIL ITU INDAH (Renungan Atas Perikop Injil Lukas 13:18-21)
Oleh: Fr. Hironimus Taolin
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang
POS-KUPANG.COM - Seorang filsuf Tiongkok bernama Sun Tzu pernah mengatakan demikian bahwa "Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah kecil". Pernyataan ini mau menekankan bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan tidak bisa secara tiba-tiba tetapi harus melalui langkah-langkah kecil sebagai sebuah proses yang wajib dilewati.
Di dunia kita sekarang ini, terjadi berbagai macam kemajuan dan perkembangan yang menawarkan banyak kemudahan, di satu sisi sangat membantu tetapi di sisi lain melahirkan mental jalan pintas atau mental harap gampang.
Banyak orang yang ingin sukses dan berhasil tetapi tidak mau berusaha. Banyak orang ingin akan hal-hal besar, tetapi mereka mengabaikan hal-hal kecil sebagai bagian yang harus dilalui untuk mecapai hal besar tersebut. Orang lupa bahwa kualitas dibentuk mulai dari hal-hal yang kecil, dan bukankah benarlah apa yang dikatakan kalau kecil itu indah?
Dalam injil hari ini, Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah kepada murid-muridNya dengan mengangkat hal-hal yang biasa dan kecil sebagai perumpamaan. Yang pertama Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya dan kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabangnya.
Benih biji sesawi yang sangat kecil mampu bertumbuh menjadi pohon yang besar, rimbun dan sangat tinggi sehingga burung-burung dapat bersarang pada semak-semaknya.
Demikianlah hal kerajaan Allah dimulai dari sesuatu yang kecil, yang dunia anggap sebagai sesuatu yang tidak penting namun pada akhirnya menyatakan kemuliaan Kerajaan Allah yang luar biasa besar. Yesus menggunakan contoh sehari-hari untuk memberikan pandangan mengenai dinamika Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah memang tidak dapat dijelaskan secara tuntas dengan menggunakan bahasa manusia, namun di dalam dunia ini banyak hal yang menggambarkan kerajaan Allah.
Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita bahwa pengharapan kerajaan Allah dimulai dengan sesuatu yang dunia pandang kecil, sederhana atau bahkan yang dunia pandang paling tidak berarti namun pada akhirnya menghasilkan suatu pekerjaan yang besar.
Kerajaan Allah bukan pertama-tama dimengerti hanya sebatas sebuah Kerajaan di mana Allah bertindak dan menunjukkan kuasaNya sebagai raja. Tetapi Kerajaan Allah juga dapat dipahami sebagai prinsip-prinsip yakni keadilan, cinta kasih, damai, persaudaraan dan hak asasi manusia. Karena itu Kerajaan Allah itu berdimensi sudah dan belum.
Dimensi sudah artinya prinsip-prinsip Kerajaan Allah seperti cinta, keadilan dan lain sebagainya telah ada di dunia ini, dan berdimensi belum artinya bahwa prinsip-prinsip Kerajaan Allah itu sudah ada tetapi belum sempurna sebab masih ada ketidakadilan dan lain sebagainya. Dan Yesus merupakan Kerajaan Allah dalam wujud pribadi sebab prinsip-prinsip Kerajaan Allah tersebut terpenuhi dalam diri Yesus. Segala perbuatan dan mukjizatNya turut menegaskan hadirnya Kerajaan Allah itu. Sebab itu bicara tentang Kerajaan Allah tidak dapat dilepaskan dari pribadi Yesus Kristus dan Kerajaan Allah hanya dimengerti dalam Yesus.
Dari perumpamaan tentang biji sesawi di atas, kita juga diajak untuk belajar dari biji sesawi dengan menjadi “biji sesawi” dalam keseharian hidup kita sebagai orang-orang beriman Kristiani yang mempunyai panggilan untuk menghadirkan dan menyebarluaskan Kerajaan Allah di dunia, di lingkungan dan di keluarga kita.
Secara sederhana diri kita menjadi “biji sesawi” dengan cara menghidupi dan memperjuangkan cinta kasih, keadilan, kedamaian, kerukunan, kebaikan dan kerendahan hati di dalam rumah tangga atau komunitas kita masing-masing, di tempat kerja kita, dan singkatnya di mana saja kita berada, agar kemudian diri kita pun bertumbuh seperti biji sesawi yang bertumbuh dan menjadi pohon yang ridang sehinnga burung-burung datang bersarang padanya, demikianlah diri kita dan kehadiran kita membawa kesegaran, kebahagiaan dan rasa damai bagi orang lain atau kehadiran kita menjadi solusi bagi persoalan dan derita sesama.
Perumpamaan kedua yang dipakai Yesus untuk mengajarkan tentang Kerajaan Allah yaitu perumpamaan tentang ragi dimana jika ragi itu diambil dan diadukkan ke dalam adonan maka adonan itu akan menjadi khamir semuanya.
Kita tahu bahwa jika ragi dimasukkan dan diaduk ke dalam tepung, maka ragi itu akan meresap ke dalam seluruh adonan dan membuat adonan menjadi mengembang. Di sini Yesus menggunakan konsep ragi karena kekuatannya yang tersembunyi. Ragi yang sudah diadukkan dalam adonan itu tersembunyi dan tidak terlihat, tetapi pengaruhnya dapat dilihat. Demikianlah sebenarnya cara Kerajaan Allah menyatakan kekuasaan dan kehadirannya di dunia.
Perumpamaan tentang ragi memberi pengertian tentang pengaruh kekristenan dalam dunia. Dimana konteks jemaat Kristen perdana waktu itu berjumlah sangat kecil, namun semua usaha mereka akan memberi pengaruh demi perkembangan Kerajaan Allah.
Dalam perumpamaan tentang biji sesawi, Yesus memberitakan penyebaran Kerajaan Allah yang luas dan bersifat keluar. Di dalam perumpamaan tentang ragi, Yesus memusatkan perhatian kepada kekuatan internal Kerajaan Allah, di mana tidak ada satupun yang tidak terkena pengaruhnya.
Dari perumpamaan tentang ragi diatas, maka kita juga diajak untuk menjadi “ragi” dalam kehidupan kita. Diri kita Menjadi ragi artinya bahwa iman kita harus diejawantahkan dalam pikiran kita, perkataan dan perbuatan kita, agar di lingkungan di mana kita berada kita mengahadirkan pengaruh baik bagi lingkungan itu atau semua arang yang ada didalamnya, kehadiran kita harus membawa kemajuan dan perkembangan bukan malah membawa kemunduran dan kehancuran bagi orang lain atau bagi lingkungan tempat kita berada.
Dengan demikian bukan berarti kita harus menjadi penguasa dan pemimpin dulu baru bisa membuat suatu kemajuan dan perkembangan. Tetapi cukup dengan menjadi orang baik yang setia dan tanggung jawab menjalankan tugas-tugas kita. Selain itu kita belajar dan berusaha melakukan hal-hal kecil dalam hidup kita secara tulus, seperti menolong sesama, mencintai sesama, berpikir baik tentang sesama, bicara baik tentang sesama, berlaku jujur dan adil, maka sesungguhnya kita telah menjadi “ragi” dalam hidup kita yang memberi pengaruh yang baik.
Semoga Tuhan memberkati. Salve.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/hironimus-taolin-fr_01.jpg)