Renungan Harian Katolik
Suka Resek
Maka kata kunci, "Bertobat". Artinya, bukan hanya berhenti untuk tak melihat kesalahan orang lain, tapi juga berusaha untuk melihat sisi baik
Renungan Harian Katolik, Sabtu 24 Oktober 2020
SUKA RESEK (Lukas 13:1-9)
Oleh: Pastor Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Tidak jarang ada orang begitu resek, menyebalkan. Ia begitu "peduli" untuk mencampuri dan mengurusi hidup orang lain. Apa saja yang terjadi atau dialami orang, ia mau ikut campur atau setidaknya dikomentarinya. Cukup sering terjadi, yang dikomentari justru selalu bersifat miring atau negatif. Entah orang mengalami kesuksesan atau kegagalan, kesukacitaan atau kegetiran, tetap saja komentar sinis yang keluar dari mulutnya.
Saat anak temannya bisa lulus test masuk di perguruan tinggi ternama, si tukang resek berkomentar, "Ah baru itu aja koq dibanggain". Ketika ia mendengar tetangganya menderita sakit kanker atau terpapar covid-19, ia bukannya prihatin, tapi malah bilang, "Pantaslah, itu buah dari tingkah lakunya selama ini". Atau, di kala sohibnya gagal dalam usaha, boro-boro ia menghibur dan memberi semangat. Ia justru memberi sentilan, "Lu sih nggak mendengar omonganku. Kenapa lu lakukan itu".
Yesus memberi catatan kritis terhadap orang yang mempunyai kebiasaan buruk, suka melihat keburukan orang lain. Ia mengeritik keras orang yang suka resek terhadap kelemahan dan kesalahan orang lain. "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian" (Luk 13:3).
Kalau direnungkan secara mendalam, siapa sih yang tak punya keburukan diri, tidak melakukan kesalahan. Kalau Tuhan hanya memperhatikan kesalahan, tentu kita manusia sudah ditelanjangi dan dihabisi-Nya. Tapi Tuhan justru fokus melihat titik putih kebaikan dalam diri kita dan Ia ingin agar kebaikan itulah yang tumbuh dan berkembang menjadi besar dan berbuah dalam segala tutur kata dan tingkah laku kita. Ia menyirami dan memupuk kebaikan, sehingga pelan tapi pasti kebaikan itu bisa menghapus keburukan.
Kita bisa simak bagaimana sikap Tuhan itu melalui perumpamaan Yesus. Ada seorang punya pohon ara di kebun anggurnya. Ia datang hendak mencari buahnya. Tapi ia tidak menemukannya. Tiga tahun pohon ara itu tak memberi buah. Maka ia perintahkan yang mengelola untuk menebangnya. Tapi si pengelola bilang, janganlah dulu. Biarlah kurawat dan kupupuk setahun lagi. Bila tak berbuah nanti, barulah ditebang (Luk 13:6-9). Terungkap jelas, masih dilihat potensi kebaikan; masih diberi waktu.
KITA?
Memang lebih mudah untuk melihat sisi pahit, kelemahan, keburukan, kesalahan, ketimbang yang baik. Karena sisi itulah yang lebih nampak jelas dilihat; lebih "nikmat" diomongin atau digosipin; lebih "bermanfaat" untuk mengatrol diri jadi lebih tinggi, lebih baik dan lebih bermartabat dari pada orang lain.
Tapi kata-kata kritis Yesus mengingatkan kita. "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu akan bisa dengan cara demikian". Kita akan mengalami keburukan dan kesalahan yang persis sama. Semacam karma? Mungkin saja. Tapi yang pasti, nanti kita akan binasa dengan cara yang sama. Tragis khan?
Maka kata kunci, "Bertobat". Artinya, bukan hanya berhenti untuk tak melihat kesalahan orang lain, tapi juga berusaha untuk melihat sisi baik, sekecil apa pun itu; menggemburi dan memupuknya agar orang lain bisa jadi baik lagi dan berbuah kebaikan dalam hidupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)