Siswi SMKN 3 Kupang "Menimba Ilmu" Outbound di Sekolah Alam Manusak

Kepemimpinan, fokus, kerjasama, kejujuran, berani mencoba dan seterusnya. Meski dalam permainan sangat sederhana

Penulis: Edy Hayong | Editor: Rosalina Woso
Dok. Yahya Ado.
Kegiatan Outbound siswi 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan) dari SMKN 3 Kupang di Sekolah Alam Manusak, Sabtu (24/10). 

Siswi SMKN 3 Kupang "Menimba Ilmu" Outbound di Sekolah Alam Manusak

POS-KUPANG.COM I OELAMASI--Kehadiran Sekolah Alam di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang kini mulai 'menggeliat".

Walaupun usia kehadirannya masih belia tapi sudah viral sehingga memantik berbagai lembaga pendidikan mendatangi sekolah ini.

Pengunjung terkini berasal dari SMKN 3 Kupang. Sebanyak 50 orang terdiri dari  30 siswi 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan) juga 20-an guru pendamping dari SMK Negeri 3 Kota Kupang bersama Kepala Sekolah, Jeni, J. P. Bhasarie, S. E, M. Par dan guru pendamping menyambangi lembaga ini yang terletak sekira 40 Kilometer dari Kota Kupang pada Sabtu (24/10).

Anak-anak 3T ini berasal dari berbagai daerah di NTT. Dari Flores, Sumba, Alor, Lembata dan juga Timor. Selama mengikuti program 3T mereka tinggal di asrama sekolah mereka yaitu SMKN 3 Kupang. Lembaga ini adalah satu-satunya sekolah di NTT tingkat menengah atas yang memiliki hotel. Sekolah berstandar nasional, bahkan mungkin International.

Pengelola Sekolah Alam Manusak, Yahya Ado kepada Pos-Kupang menuturkan, dirinya yang juga Kepala Sekolah lembaga ini mendapat kesempatan bicara untuk menginspirasi para siswi yang hadir.

"Saya bicara singkat saja soal 4K. Sebuah tantangan pendidikan di era revolusi pendidikan ini. Bahkan untuk bisa bersaing di era kehidupan yang serba tergesa-gesa ini, kita butuh modal. Modal pertama harus berani berpikir kritis. Kedua kreatif. Ketiga komunikatif dan keempat kooperatif," jelas Yahya.

Pertanyaan sekarang, lanjut Yahya,  apakah pendidikan kita (NTT) saat ini mengarah ke arah sana. Secara teoritis mungkin iya tetapi faktanya belum banyak terbukti.

"Pendidikan kita, terutama di NTT masih berkutat pada persaingan fisik sekolah. Kita punya banyak gedung sekolah, tetapi kita jauh dari hakikat pembelajaran," kata Yahya.

Dirinya mengkritisi kalau saat ini pola pembelajaran terkesan memaksa anak murid untuk menghafal seluruh mata pelajaran untuk lulus ujian. Tetapi jangan lupa bahwa setelah lulus mereka harus lanjutkan hidup.

"Anak bingung bisa apa setelah sekolah karena tak terbiasa menciptakan hasil karya saat sekolah. Tidak biasa diajar sukses untuk bisa sukses menjalani hidup. Kita baru ajari kepalanya, hatinya belum. Semangatnya belum. Padahal sekolah itu olah pikir, olah rasa, dan olah raga," beber Yahya.

Menurutnya, di Sekolah Alam Manusak setidaknya mereka memiliki  program rutin untuk menjawab 4K. Meski design awal ini untuk anak-anak usia dini dan sekolah dasar, tetapi juga berguna buat siswa menegah, mahasiswa, pemuda, guru dan para profesional. Outbound dan tamasya minat khusus adalah sebuah alternatif bermain, belajar, dan bahagia di alam.

"Kehadiran siswi SMKN 3 Kupang ini sungguh istimewa. Saya dan tim memandu outbound bersama anak-anak 3T ini sekira 2 jam. Saya selalu mengamati, di setiap sesi pasti ada hal istimewa yang dipelajari. Lebih dari sekedar 4K. Kepemimpinan, fokus, kerjasama, kejujuran, berani mencoba dan seterusnya. Meski dalam permainan sangat sederhana, selalu ada nilai di baliknya," ungkap aktifis LSM ini.

Ini menunjukkan lembaga SMKN 3 Kupang benar-benar membuktikan bahwa sekolah itu maknanya bermain dari kata aslinya eschole. Intinya belajar itu memang harus menyenangkan.

Memberi anak kegembiraan dan mereka akan bisa menciptakan karya dengan kegembiraan. Mereka akan belajar bagaimana berhasil, dan tahu bagaimana kalau gagal.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved