Renungan Harian Katolik
Baca Tanda Zaman
Tapi rupanya kian hari kita kian merasa jengah. Muncul rasa bosan dan seakan enggan untuk membaca dan mengerti apa tanda dari Tuhan di balik semua itu
Renungan Harian Katolik, Jumat 23 Oktober 2020
Baca Tanda Zaman (Lukas 12:54-59)
Oleh: Pastor Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Ilmuwan adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Karena keahliannya, ia mampu melihat berbagai tanda di bumi dan membuat prediksi tentang apa yang bakal terjadi. Sebut saja, memprediksi iklim (cuaca) dan dampaknya, keadaan ekonomi suatu negara dalam suatu kurun waktu ke depan, dsb.
Walau bukan ilmuwan, semua orang sebenarnya bisa membaca tanda-tanda. Ketika melihat awan mendung, semua tahu hari akan hujan. Tatkala tertimpa masalah dan petaka, tak jarang orang bilang ini teguran. Di kala gagal dalam usaha, terkadang terucap bahwa itu pelajaran dan latihan untuk sabar.
Oleh karena kita manusia dapat memahami tentang apa pun yang berkenaan dengan situasi atau peristiwa yang ada di dunia, Tuhan menghendaki agar orang yang percaya untuk terus mengasah dan menggunakan kepekaan rohani, yaitu kepekaan terhadap kehadiran-Nya dalam hidup sehari-hari dan juga terhadap kedatangan Anak Manusia kelak.
Tapi hari ini penginjil Lukas mengisahkan betapa Yesus miris melihat orang banyak tempo dulu yang tak mau, enggan dan tak mampu melihat dan membaca tanda-tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka dan kedatangan-Nya kelak.
Yesus berkata kepada mereka, "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? (Luk 12:54-56). Yesus bahkan tak segan memberi cap "orang munafik" kepada mereka.
Bagaimana dengan orang zaman now? Kini kemajuan sungguh luar biasa. Teknologi informasi bergerak pesat dan canggih. Komunikasi super kilat via internet. Berita di pelosok bumi bisa diketahui dalam waktu sekian sekon. Mau informasi apa saja tinggal tanya mbah google atau wikipedia.
Zaman Yesus berkarya, tidaklah semaju sekarang. Tapi orang Majus bisa menilai kehadiran bintang di langit dan mereka bergegas mencari dan menemukan Tuhan (lih. Luk 2:1-12).
Dengan begitu orang zaman ini seharusnya lebih mampu untuk membaca tanda-tanda zaman. Itu yang Yesus inginkan dari para murid-Nya masa kini. Setidaknya itu pesan yang dibawa penginjil Lukas dengan menulis kisah itu.
KITA?
Tiap hari kita diperhadapkan dengan kejadian demi kejadian, peristiwa suka maupun tragis. Beragam kisah kita lalui. Yang biasa saja maupun yang sensasional.
Saat gempa besar dan tsunami, banjir bandang datang menghantam, semua bermenung sujud. Lagu Ebiet G Ade menggugah untuk berefleksi sejenak: "Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat".
Ketika hari-hari awal diserbu dan dikepung pandemi covid 19, semua tercengang dan ikhlas social distancing, tinggal mendekam di rumah, dan aktif untuk mendekatkan diri pada Tuhan meski hanya via live streaming. Ramai digalakkan aksi solidaritas. Saling menolong, berbagi masker, makanan, dsb.
Tapi rupanya kian hari kita kian merasa jengah. Muncul rasa bosan dan seakan enggan untuk membaca dan mengerti apa tanda dari Tuhan di balik semua itu.
Olehnya, selagi masih ada waktu, ada baiknya kita bermenung dan berbenah. Jangan sampai seperti kata Ebiet lagi, "Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa. Atau alam pun nanti enggan bersahabat dengan kita".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)