Budaya Membaca dan Menulis Harus Mulai dari Keluarga

kebutuhan sehari-sehari sehingga wawasan berpikir kita terbuka lebar dan bisa membedakan mana yang benar mana yang baik.

Penulis: Gordi Donofan | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/GORDI DONOFAN
Pjs Bupati Ngada, Linus Lusi saat mengunjungi PKBM Bravostart Mataloko Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Senin (19/10/2020). 

Budaya Membaca dan Menulis Harus Mulai dari Keluarga

POS-KUPANG.COM | BAJAWA -- Budaya membaca dan menulis harus dimulai dari keluarga sehingga menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.

Karena dengan rajin membaca buku banyak hal yang diperoleh. Membaca buku juga dapat membentuk pola pikir seseorang hingga bisa merangkai kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf hingga menjadi sebuah tulisan.

Penjabat Sementara Bupati Ngada, Linus Lusi mengajak semua masyarakat agar budayakan membaca. Membaca harus menjadi kebutuhan sehari-sehari sehingga wawasan berpikir kita terbuka lebar dan bisa membedakan mana yang benar mana yang baik.

Linus Lusi mengatakan saat ini bukan soal gedungnya, jumlah buku atau fasilitasnya, namun budaya membacanya harus ditanam terlebih dahulu. Budaya membaca harus digelorakan, mulai dari keluarga, rumah, kampung hingga komunitas besar lainnya.

"Ini sekedar motivasi. Mulai dari rumah, kampung, desa hingga Kabupaten. Dia harus berwujud nyata. Sehingga hasil ada. Setiap desa tidak hanya sekedar dipajang perpustakan. Biasakan dulu membaca. Gedung kita bisa besar, tapi kalau budaya bacanya tidak ada sama saja. Budayakan dulu bacanya. Entah mau baca dimana, diatas pohon atau dimana saja bisa," ujar Linus Lusi saat membuka acara diskusi 'Meda Mazi' literasi menyelamatkan bangsa di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Bravostart Mataloko Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada, Senin (19/10/2020).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten Ngada kerjasama dengan PKBM Bravostart Mataloko.

Linus Lusi menegaskan literasi harus mulai dengan hal-hal yang sederhana. Tidak harus langsung ke hal-hal yang sulit. Literasi dasar yang harus diutamakan.

Misalkan dirumah harus dipajang foto-foto para pemimpin daerah seperti foto-foto bupati dan wakil bupati setiap periode. Sehingga anak cucu bisa mengetahui dan tidak melupakan sejarah daerah tersebut.

Linus Lusi mengajak agar mengubah kebiasaan yang selama ini bermalas-malasan. Sebab dunia semakin canggih, pola berpikir harus maju dan bangkit. Terus belajar dan meraih prestasi jangan sampai ketinggalan.

Sementara itu Ketua FTBM Provinsi NTT, Polikarpus Do menjelaskan terkait literasi memang masih harus terus digerakan.

Semua pihak harus ikut bertanggungjawab untuk terus menggelorakan semangat berliterasi sehingga ini menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan.

Polikarpus mengaku literasi membaca di NTT masih sangat rendah. Masih banyak anak Sekolah Dasar, anak Sekolah Menengah Pertama yang belum bisa membaca.

Sehingga ini menjadi perhatian bersama kedepan untuk membangun Provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Anak SD, anak SMP usia 15 tahun masih ada yang belum bisa membaca dan harusnya literasi dasar ke sekolah. Provinsi NTT zona merah buta aksara yaitu urutan kelima dari 34 provinsi di Indonesia. Buta aksara NTT hanya 5,24 persen saja," ujarnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved