Renungan Harian Katolik

Berjaga-jagalah!

Hendaklah pinggang kita tetap berikat dan pelita kita tetap menyala untuk berjaga-jaga dengan selalu siap sedia menunjukkan rasa peduli

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
Fr. Hironimus Taolin 

Renungan Harian Katolik, Selasa 20 Oktober 2020

Berjaga-jagalah!

Renungan Atas Perikop Injil Lukas 12: 35-38

Fr. Hironimus Taolin
Calon Imam Keuskupan Agung Kupang
Berdomisili di Centrum Keuskupan Agung Kupang

POS-KUPANG.COM - Pada masa ini, banyak di antara kita sementara mengalami saat-saat sulit dalam hidup sebagai dampak dari pandemi virus corona yang melahirkan aneka krisis di berbagai lini kehidupan kita, mulai dari hal ekonomi, sosial kemasyarakatan, kesehatan, dan sebagainya yang merongrong kesejahteraan dan mengancam hidup kita.

Berhadapan dengan pandemi virus corona ini, pihak pemerintah maupun Gereja menganjurkan kepada kita untuk selalu mematuhi protokol kesehatan dalam menjalankan rutinitas kita. Dengan kata lain, kita diajak untuk berjaga-jaga demi keselamatan kita dan demi mematahkan rantai penyebaran virus corona. Sebab benarlah apa yang dikatakan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini juga mengingatkan para murid-Nya untuk berjaga-jaga. Ia berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala (ayat 35). Hendaknya kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya ketika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu (ayat 36). Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang" (ayat 37). Ucapan Yesus tentang pinggang dan pelita dalam teks Injil bercorak metaforis.

Pengikut-pengikut Yesus diajak supaya seakan-akan hidup dengan “pinggang berikat”, yaitu siap sedia untuk bertindak dan bekerja. Kita dapat lebih memahami penggambaran ini kalau kita tahu tentang bagaimana cara berpakaian orang-orang saat itu. Mereka biasanya mengenakan satu jubah luar yang panjang sampai menutup kaki yang membatasi gerak-gerik si pemakai. Maka, ketika seorang hamba dikatakan siap untuk melayani, dia harus menggulung jubah luar tersebut dan mengikatkannya di pinggang. Dengan demikian, ia akan lebih bebas bergerak untuk melayani sebagai seorang hamba.

Demikian juga haruslah “pelita-pelita menyala”. Di zaman itu, belum ada listrik dan lampu sehingga yang menjadi sumber terang pada malam hari adalah pelita. Ketika seseorang sudah siap tidur di malam hari, maka ia akan memadamkan pelitanya.

Seorang hamba yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya tetap menyala adalah seorang hamba yang terus berjaga-jaga, siap sedia untuk bertindak melayani tuannya walaupun hari sudah gelap.

Gambaran selanjutnya mengenai berjaga-jaga dalam Injil, yaitu tentang hamba yang menanti-natikan tuannya pulang dari acara perkawinan.

Konteks di zaman itu, suatu acara perkawinan dapat berlangsung beberapa hari, maka sangatlah umum jika para hamba tidak tahu persis kapan sang tuan akan kembali tiba di rumah dan apakah pada waktu tengah malam maupun dini hari, dan ketika ia kembali dan mengetuk pintu rumahnya, ia mengharapkan hamba-hambanya segera membukakan pintu.

Tuhan Yesus memberikan penilaian tentang hamba tersebut sebagai orang yang berbahagia (Yun: Makarios, bisa juga berarti terberkati atau beruntung). Tuhan Yesus bahkan melanjutkan penggambaran akan hamba yang demikian itu dengan suatu pemberian yang tidak diduga-duga, yaitu Si Tuan tidak meminta hamba-hambanya melayani dia, melainkan sebaliknya Si Tuan melayani hamba-hamba yang telah berjaga-jaga itu.

Berhadapan dengan situasi pandemi saat ini, dan bertolak dari nasihat-nasihat Injil pada hari ini, maka kita pun diajak untuk selalu berjaga-jaga dengan terlebih dahulu mematuhi segala bentuk protokol yang disarankan oleh pihak pemerintah ataupun Gereja.

Hal tersebut perlu kita lakukan sebagai wujud iman. Bukan berarti iman dikalahkan oleh virus corona atau sebagai orang beriman kita harus takut dengan virus ini, tetapi kita harus melawannya yaitu dengan cara berjaga-jaga, sebab beriman juga berarti bertindak menyelamatkan, baik diri sediri maupun sesama.

Karena itu, hendaklah pinggang kita tetap berikat dan pelita kita tetap menyala untuk berjaga-jaga dengan selalu siap sedia menunjukkan rasa peduli, kepekaan dan pertolongan kepada sesama kita yang sangat membutuhkan uluran tangan kita, sebab melalui jalan ini kita belajar menjadi hamba yang baik.

Semoga berkat dan cinta Tuhan menyertai kita. Salve.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved