Pangdam Jaya Turun Tangan, Kerahkan Anggota TNI Malam Hari, Bubarkan Massa Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Pantauan TribunJakarta.com sekira pukul 20.23 WIB pada Selasa (13/11/2020) hingga kini, massa masih bertahan di Jalan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng.

Editor: Frans Krowin
Tribun Jambi.com
Suasana saat anggota TNI bubarkan massa tolak UU Cipta Kerja di Bundaran HI, Tanah Abang, Jakarta Pusat Selasa (13/10/2020) 

Pangdam Jaya Turun Tangan, Kerahkan Anggota TNI Malam Hari, Bubarkan Massa Aksi Tolak UU Cipta Kerja

POS-KUPANG.COM - Para remaja yang ikut dalam aksi tolak UU Cipta Kerja, berjalan dari arah Pasar Tanah Abang menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Ratusan Anggota TNI pun dikerahkan untuk ikut menghalau massa pendemo yang belum juga membubarkan diri dalam aksi massa.

Dilansir dari TribunJakarta.com sekira pukul 21.05 WIB, anggota TNI memblokade jalan Teluk Betung yang mengarah ke bundaran HI.

Para remaja itu berhenti dan menyanyikan lagu "Indonesia Pusaka".

Anggota TNI yang berjaga di sekitar Plaza Indonesia juga meminta mereka untuk membubarkan diri.

"Ayo pulang, dek, pulang sudah malam ya. Kasihan bapak, ibu pedagang di sini," imbau salah satu anggota kepada massa pada Selasa (13/10/2020).

Anggota TNI terlihat merangkul salah satu remaja untuk pulang.

Sekira pukul 21.20 WIB, massa pun mulai mengikuti imbauan anggota marinir.

"Katanya lu mau minta foto ama TNI?" celetuk salah satu remaja ke temannya itu.

Mereka pun bubar dengan damai tanpa ricuh.

Ada juga remaja yang mencium tangan anggota marinir sebelum pulang.

"Oke, pak, pulang Pak!" sahut satu di antara mereka.

Baca juga: Jadwal & Link Live Streaming TVRI Belajar dari Rumah, Kamis 15 Oktober 2020

Baca juga: KABAR TERBARU, Besok Jumat 16 Oktober 2020 Nikita Willy Gelar Akad Nikah, Hanya Dihadiri 30 Orang

Bakar Tong Sampah

Unjuk rasa PA 212 yang menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Jalan Medan Merdeka Barat berakhir ricuh.

Massa yang belum bubar sempat bentrok dengan aparat kepolisian.

Pantauan TribunJakarta.com sekira pukul 20.23 WIB pada Selasa (13/11/2020) hingga kini, massa masih bertahan di Jalan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Massa, yang sebagian besar remaja ini melakukan tindakan anarkis dengan membakar tong sampah di tengah jalan.

Lalu lintas Jalan Jati Baru Raya arah Kebon Sirih tersendat akibat ulah massa anarkis yang duduk di tengah jalan.

Ranting dan dedaunan yang dirusak massa berserakan di jalan itu.

Hingga berita ini diturunkan aparat kepolisian belum menindak massa tersebut.

Sebelumnya, massa demonstran sempat bertahan di Jalan Budi Kemuliaan, tepatnya di pertigaan Jalan Abdul Muis, Gambir, Jakarta Pusat.

Dilansir dari TribunJakarta.com sekira pukul 19.33 WIB pada Selasa (13/11/2020), massa membakar sejumlah pembatas jalan atau water barrier di tengah Jalan tersebut.

Kobaran api yang membakar water barrier itu dibiarkan membesar.

Massa pun masih duduk-duduk di sekitar lokasi titik api.

Sementara itu lalu lintas di jalan tersebut masih bisa dilalui pengendara motor dan mobil.

Belum ada pihak kepolisian yang turun tangan menangani kobaran api itu.

Truk polisi yang melintas turut ditimpuki batu oleh massa di jalan tersebut.

Pandam Turun Tangan

TNI juga turut membantu membubarkan massa demonstran yang masih berada di Jalan Wahid Hasyim arah Stasiun Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Sekira pukul 16.57 WIB pada Selasa (13/11/2020), Panglima Kodam Jaya, Mayjen Dudung Abdurachman didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus berjalan di Jalan Wahid Hasyim.

tribunnews
Pangdam Jaya, Mayjen TNI Dudung Abdurachman saat di kawasan Pasar Modern BSD, Serpong, Tangsel, Sabtu (19/9/2020). (Warta Kota/Rizki Amana)

Anggota TNI bersama polisi meminta massa maupun warga di sekitar jalan tersebut agar pulang.

Saat dirasa aman, Dudung kemudian meninggalkan lokasi jalan tersebut.

Sementara itu, Jalan Sabang berhasil diamankan pihak kepolisian dari massa demonstran.

Mobil barracuda brimob dikerahkan untuk mengurai massa.

Sebelumnya Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman menangkap sejumlah orang yang diduga sebagai penyusup dalam demo tolak Omnibus Law Cipta Kerja Kamis (8/10/2020) lalu.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui para penyusup itu sengaja datang ke Jakarta atas perintah seseorang yang malah tidak ikut dalam aksi.

Terungkap pula mereka dijanjikan akan dibayar setelah mengikuti demo.

Jadi, tujuan orang-orang tersebut hanya uang saja, karena bahkan mereka tak tahu tujuan berdemo.

"Ada beberapa kita tangkap bersama pihak kepolisian, mereka ini tidak paham sama sekali tujuannya (berdemo, red) untuk apa, bahkan mereka itu ada yang datang dari Subang," ungkap Dudung seperti dikutip dalam video yang diunggah akun Instagram suhartono323, Sabtu (10/10/2020) via Tribunnews.com.

"Saya tanya siapa yang menggerakkan, 'ada pak saya disuruh ke sini' jawab dia.

Dia tidak bawa uang, bahkan ada yang bawa cuma Rp 10 ribu, saya tanyakan setelah demo, mereka pulang pakai apa?," lanjutnya.

Selain itu, Dudung juga mengungkapkan isi ponsel orang-orang yang diduga penyusup itu.

"Dari hasil HP yang kita periksa, mereka dijanjikan setelah demo dapat uang bahkan penggeraknya tidak datang ke Jakarta. Dia berhenti di Pamanukan," beber Dudung.

Pangdam Jaya pun meyakini kalau yang melakukan aksi anarkis saat demo menolak UU Cipta Kerja bukan dari golongan mahasiswa ataupun buruh, melainkan dari oknum lain yang tak bertanggung jawab.

"Saya punya keyakinan kalau mahasiswa dengan buruh punya misi aksi damai, rata-rata mereka terpelajar lah, paham dengan aksinya yang ingin disampaikan.

Saya yakin dan saya lihat yang melakukan pelemparan kepada polisi itu bukan dari mahasiswa, kalau mereka mahasiswa pasti pakai jaket almamater," beber Dudung.

Baca juga: KABAR TERBARU, Besok Jumat 16 Oktober 2020 Nikita Willy Gelar Akad Nikah, Hanya Dihadiri 30 Orang

Baca juga: Dua Anggota DPRD NTT Pengganti Antar Waktu Dilantik

Pengamat Intelijen Soal Penyusup

Sementara itu, Analis intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta tak menampik adanya penyusup dalam demo.

Stanislaus mencurigai adanya penyusup yang berbuat anarkis tersebut membuat aksi unjuk rasa menjadi tidak simpatik dan malah merugikan masyarakat.

"Tidak ada masalah dengan demo yang dilakukan mahasiswa dan buruh di berbagai kota di Indonesia, hal tersebut dijamin konstitusi.

Namun, adanya penyusup yang memprovokasi dan melakukan perusakan fasilitas umum serta perlawanan terhadap aparat membuat situasi menjadi ricuh," ujar Stanislaus, ketika dihubungi Tribunnews.com, Jumat (9/10/2020).

SBY Desak Pemerintah Ungkap Aktor Di Balik Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Untuk diketahui, beberapa hari terakhir, Partai Demokrat jadi sorotan publik. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu dituding berada di balik aksi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja.

Atas tudingan itulah, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara. SBY pun meradang atas tuduhan yang dialamatkan padanya.

SBY yang juga mantan Presiden Indonesia itu lantas mendesak pemerintah agar segera mengungkap aktor intelektual di balik aksi unjuk rasa penolakan atas UU Cipta Kerja tersebut.

SBY mengatakan, pemerintah perlu menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat agar tidak ada kecurigaan satu sama lain.

"Lebih bagus kalau memang (ada) menggerakkan menunggangi, membiayai dianggap oleh negara sebagai kejahatan melanggar hukum, dan hukum harus ditegakan, lebih baik disebutkan (auktor intelektualis)," kata SBY dalam akun Facebook resminya, Senin (12/10/2020).

SBY mengatakan, jika pemerintah tidak mengungkapkan aktor intelektualis dari gelombang aksi demo tersebut, maka pemerintah akan dianggap menyampaikan kabar bohong.

"Kalau tidak (disebutkan auktor intelektualis), nanti negaranya melakukan hoaks, tidak bagus, karena kita harus percaya dengan pemerintah kita," ucapnya.

Presiden ke-6 RI ini meyakini, pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Kemaritimanan dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, dan Badan Intelijen Negara (BIN), terkait auktor intelektualis dalam demo tersebut bukan ditujukan untuk dirinya.

"Hubungan saya dengan pak Airlangga selama ini baik dengan pak Luhut selama ini baik, dengan BIN juga engga ada masalah," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memastikan, pemerintah akan melakukan proses hukum terhadap pelaku yang menunggangi aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh.

"Sekali lagi pemerintah akan bersikap tegas dan melakukan proses hukum terhadap semua pelaku dan aktor yang menunggangi atas aksi-aksi anarkis yang sudah berbentuk tindakan kriminal," ujar Mahfud dalam konferensi pers yang ditayangkan Kompas TV, Kamis (8/10/2020) malam.

Mahfud menyatakan, tindakan anarkistis dengan merusak fasilitas umum dan serangan secara fisik terhadap aparat merupakan tindakan yang tidak sensitif.

Mengingat, saat ini tengah terjadi situasi pandemi Covid-19 yang juga berdampak pada perekonomian rakyat.

Mahfud mengatakan, apabila masyarakat tidak puas atas isi UU Cipta Kerja, sebaiknya bisa menempuh dengan cara yang konstitusional.

Misalnya, dengan melakukan gugatan judicial review atau uji materil terhadap UU Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi (MK).

Presiden Jokowi Pimpin Rapat Di Istana Negara 

Sepanjang hari ini, Selasa 13 Oktober 2020, Presiden Joko Widodo melakukan kegiatan kenegaraan di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Presiden Jokowi berada di Istana Jakarta sejak pukul 09.00 pagi WIB. Selama berada di Istana Negara, Jokowi melaksanakan sejumlah aktivitas diantaranya memimpin rapat terkait antisipasi bencana hidrometeorologi.

Sementara di saat yang sama, aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja digelar di sekitar Istana Negara.

Tak hanya demonstrasi, aksi pendemo pun terjebak dalam suasana ricuh. 

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyebutkan, setelah rapat terseut, Jokowi juga tetap berada di Istana untuk melakukan agenda lainnya.

Akan tetapi, Heru tidak bersedia mengungkapkan agenda lain yang dilakukan Presiden Jokowi, karena hal tersebut bersifat internal.

"Sampai sore ini masih giat di Istana," kata Heru kepada Kompas.com, Selasa (13/10/2020).
Setelah kegiatan selesai, baru lah Jokowi akan kembali ke kediamannya di Istana Bogor.

Sementara saat ditanya soal demo di sekitar Istana yang mulai diwarnai kericuhan, Heru hanya menjawab singkat.

"Sudah ada yang menangani," kata dia.

Di luar Istana, aparat gabungan mulai menembakkan gas air mata ke arah pedemo seiring terjadinya aksi saling lempar batu hingga botol plastik antara petugas dan pedemo.

Aksi saling lempar tersebut mulai terjadi ketika massa aksi berpencar dari titik aksi sekira pukul 15.30 WIB.

Kepolisian yang sebelumnya hanya berjaga di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat pun mulai bersiaga menggunakan rompi dan perisai.

Tak lama kemudian polisi pun menembakkan gas air mata ke arah Bundaran Patung Kuda Arjuna Wiwaha untuk membubarkan massa aksi.

Suara tembakan tersebut terdengar beberapa kali. Namun massa aksi tak kunjung membubarkan diri sampai akhirnya polisi bergerak maju untuk memukul mundur massa aksi.

Sebelumnya, aksi unjuk rasa 8 Oktober lalu yang juga digelar di sekitar Istana berlangsung ricuh.

Saat itu, Jokowi lebih memilih melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah untuk meninjau lumbung pangan dan peternakan bebek. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2020/10/13/05010021/sby-minta-pemerintah-ungkap-auktor-intelektualis-aksi-demo-tolak-uu-cipta

Artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Anggota TNI Halau Kerumunan Massa yang Hendak Menuju Bundaran HI

Artikel ini juga telah tayang di TribunJambi.com: https://jambi.tribunnews.com/2020/10/14/malam-malam-anggota-tni-dikerahkan-massa-pendemo-uu-cipta-kerja-langsung-bubar-ada-yang-minta-foto?page=all

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved