Kerusakan Lingkungan Hidup
Bumi NTT 'Terluka', WALHI 'Mengusap' Air Mata Rakyat Flobamorata
NTT tercatat sebagai salah satu provinsi di persada ini dengan angka kemiskinan yang tinggi. Peringkat 3 di Indonesia, setelah Papua dan Papua Barat
Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
POS KUPANG, COM - KAMPUNG Wairbukang. Berada di balik bukit. Tandus. Telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Masuk wilayah Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka. Berjarak sekitar 3,5 kilometer arah selatan jalan negara trans Flores Maumere-Larantuka.
Penghuninya mengais hidup dalam kawasan hutan lindung Egon Ilimedo. Tepatnya di tapal batas 84. Di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sejarah mencatat, kawasan ini ditetapkan lewat register 107 pada 1932. Pengukuhan tapal batasnya diresmikan 12 Desember 1984. Disahkan lewat SK Menhut No. 423/KPTS-II/1999.
Rumah warganya, sekitar 43 kepala keluarga (KK) atau 150 jiwa, dominan beratap ilalang. Kebanyakan sudah berlubang- lubang. Hanya beberapa warga yang beratap seng. Berdinding bambu belah.
Kehidupan warga sangat menantang. Bertaruh nyawa di atas tanah gersang, dihiasi batu-batu besar. Nyaris tak ada kehidupan. Hanya jambu mente yang tumbuh. Tanaman ladang lainnya seperti padi, singkong, kacang tanah cuma ditanam setahun sekali. Itupun saat musim hujan.
Singkat cerita, warga hidup dalam kondisi yang memrihatinkan, kalau tak mau disebut miskin. Tanpa fasilitas pendukung yang layak.
"Kami selalu hidup dalam tekanan, sesewaktu bisa diusir. Sudah dua kali kami diusir keluar dari kawasan hutan lindung, namun kami tetap bertahan. Warga yang dulunya lari akhirnya juga kembali ke kampung ini karena tidak punya tanah di tempat lain," ungkap Mamen Boru (65), seorang tetua Wairbukang, belum lama ini.
Pada tahun 2015, diakui Boru, Pemda Sikka menganggarkan dana pembangunan jalan. Namun karena berada di hutan lindung akhirnya proyek ini dibatalkan. Pemda beralasan pembuatan jalan memerlukan persetujuan Kementerian LHK. Satu-satunya fasilitas bantuan pemerintah hanya bak penampung air yang berdiri sejak tahun 2011. Wairbukang kini tanpa sekolah dan listrik.
Seperti jatuh tertimpa tangga. Tragedi memilukan datang. Bumi yang sudah kering kerontang itu terluka. Selasa (15/9) sore hingga Rabu (16/9/2020), si jago merah mengamuk. Melahap kawasan hutan lindung Egon Ilin Medo. Tepatnya di Desa Egon Buluk, Kecamatan Waigete-Sikka. Dua puluh hektar ludes.
Warga Wairbukang, Waigete, Mapitara, Doreng, Waiblama dan Talibura, yang menikmati air bersih dari kawasan hutan ini, pun meratap.
Pada tahun 2019, kawasan hutan seluas 19.456,8 hektare ini, juga disantap api. Bahkan terjadi dua kali. Pertama, 7-8 September di Wodon, Desa Wairterang. Kedua, 30 September 2019 di Desa Persiapan Egon Buluk. Walahualam. Penyebabnya semua masih misteri. Tak ada yang berakhir di pengadilan.
Warga Wairbukang merasakan dampak paling parah. Lahan pertanian yang dihiasi jambu mente merana dipanggang api. Satu-satunya harapan hidup warga. Tak ada lagi yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedih!
"Hasil mente setahun hanya sekitar 500 ribu rupiah. Kalau sudah terbakar begini mau jadi apa. Untuk tambahan penghasilan saya kerja serabutan, jadi kuli bangunan. Itu pun jika ada yang butuh," tutur Yohanes Salikone (35), seorang petani Wairbukang.
Kisah pilu yang dialami Yohanes juga dialami warga lainnya. Kebakaran hutan lindung Egon Ilimedo membawa sengsara. "Atap ilalang rumah saya sudah bocor sana-sini. Belasan tahun belum diganti. Mau bagaimana lagi kalau jambu mente sebagai harapan hidup semuanya ludes,"cerita warga lainnya, Kerota. Bumi Sikka terluka!
Pada Juli 2019, prahara serupa juga terjadi di Flores Timur. Sejumlah titik api kebakaran ditemukan di wilayah daratan Tanjung Bunga, Pulau Solor dan sebagian Pulau Adonara. Titik api tampak banyak terlihat di Pulau Solor. Merajalela selama empat hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/baka.jpg)