Renungan Harian Katolik

Jalan Merah

Di Israel, ada satu tempat yang sangat berbahaya pada zaman Yesus. Tempat itu berada di antara Yerusalem dan Yeriko. Namanya: Jalan Merah

Editor: Agustinus Sape
zoom-inlihat foto Jalan Merah
Dok Pribadi
RD. Frid Tnopo

Renungan Harian Katolik, Senin 4 Oktober 2020

Jalan Merah

Oleh: RD. Frid Tnopo

POS-KUPANG.COM - Di Israel, ada satu tempat yang sangat berbahaya pada zaman Yesus. Tempat itu berada di antara Yerusalem dan Yeriko. Namanya: Jalan Merah atau Jalan Darah.

Jalan ini sempit, berbatu-batu dengan lekukan yang tiba-tiba membuatnya menjadi sangat seram bagi setiap peziarah yang melewatinya. Kejahatan berada di area ini dan banyak darah para peziarah tertumpah di sini.

Nama Jalan Merah mengingatkan kita akan Jembatan Merah, satu tempat yang menyimpan kisah heroik pertempuran 10 November 1945. Ketika berjalan di atasnya, seolah imaji kita dihantar kembali oleh cerita pilu ribuan nyawa arek-arek Suroboyo yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Perjalanan manusia selalu berada di antara Yerusalem dan Yeriko, kebaikan dan kejahatan. Di antara kabaikan dan kejahatan, ada Jalan Merah yang harus dilalui. Ziarah umat manusia sering berada di antara harapan dan tantangan. Di antara harapan dan tantangan ada Jembatan Merah.

Dari Jalan Merah maupun Jembatan Merah, datang sebuah pertanyaan seorang ahli Taurat yang patut kita renungkan: siapakah sesamaku manusia?

Pertanyaan ini sungguh eksistensial karena menggugah hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Pertanyaan ini pun menggugah setiap kita untuk merefleksikan diri kita dengan aneka status yang kita sandang, ataupun pada strata sosial di mana kita berada.

Dan Yesus menjawab: sesamaku manusia adalah dia yang sangat membutuhkan belas kasihan dan dia yang cepat berempati dan bergerak membantu secara nyata.

Sesamamu manusia sesungguhnya adalah dia yang berpeluh darah tak berdaya di Jalan Merah dan dia yang membalut luka.

Sesamamu manusia sesungguhannya adalah dia yang meregang nyawa di Jembatan Merah dan dia yang merawat sejarah.

Atas dasar kemanusiaan, kita wajib menolong siapa pun yang sedang jatuh di Jalan Merah tanpa mempertimbangkan status kita (Imam), tanpa mempedulikan strata sosial kita (Lewi).

Hari ini dia, tetapi besok atau lusa mungkin kita yang terkulai di Jalan Merah. Kita wajib menolong hari ini, karena pasti besok atau lusa kita butuh pertolongan. Hodie mihi cras tibi. Ini bukan perkara do ut des, tetapi ini menyangkut eksistensi manusia sebagai makhluk sosial.

Kasih sayang dan belas kasih perlu menyingkirkan segala pertimbangan sektarian. Kasih sayang dan belas kasih tidak mengkafirkan orang lain. Kasih sayang dan belas kasih tidak memperhitungkan untung dan rugi.

Pada akhirnya kita akan dinilai bukan atas dasar status sosial yang kita sandang atau pengakuan yang kita ikrarkan tetapi atas dasar kehidupan yang kita jalani dalam perbuatan nyata. Mari kita berjuang. Salve.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved