Berita Lembata Terkini
Kisah Petani Kopi Belek Dibalik Gurihnya Kopi Bana Lembata, Ini Kegurihannya
Yang jadi unggulan di kampung itu kopi. Saya biasa jual dengan 40 ribu per kilogram. Sejak belum nikah saya sudah panen kopi sendiri dengan bantuan pe
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA- Kopi Bana merupakan salah satu brand kopi ternama di Kabupaten Lembata. Kopi dengan cita rasa jahe dan gingseng ini sudah banyak dinikmati bukan hanya oleh masyarakat Lembata.
Kopi racikan pasangan suami istri Dominikus Demon dan Fransiska Tuto tersebut bahkan sudah didistribusikan sampai ke Kota Kupang dan pernah dipajang di Australia. Namun di balik gurihnya aroma Kopi Bana yang khas terselip kisah para petani kopi asal Desa Baolangu, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.
Kopi Bana memang diolah dari biji kopi yang tumbuh di sebuah wilayah perkebunan dan pertanian holtikultura yang subur bernama Belek. Nama Belek sendiri merupakan kawasan kampung lama tempat sebagian warga Lewokukung dulu bermukim. Jadi orang biasa menyebut nama biji kopi yang tumbuh di sana, Kopi Belek.
Salah satu petani kawakan yang sukses membudidayakan Kopi Belek adalah
Sebastianus Ali (48). Sebastianus sudah empat tahun ini menjadi produsen utama biji kopi Belek yang kemudian oleh Dominikus Demon diolah menjadi bubuk Kopi Bana.
Ditemui di rumah Dominikus Demon di Jalan Sola Fide, Kelurahan Selandoro, Lewoleba, Kamis (17/9/2020), Sebastianus sedang membawa satu karung biji kopi Belek sebagai sampel untuk diracik lagi menjadi Kopi Bana. Sampel tersebut berasal dari panen biji kopi perdana tahun ini.
Menurut Sebastianus Kopi Belek merupakan varian kopi robusta yang sudah dibudidayakan sejak tahun 1988 di lokasi perkebunan Belek.
Dia sendiri punya sekitar satu hektare lahan perkebunan kopi. Selain juga menjual hasil komoditi lainnya seperti vanili dan kemiri, Sebastianus juga bisa menghidupkan istri dan enam orang anaknya dari budidaya kopi belek.
Sebastianus memang tak sendiri. Di Baolangu ada kelompok tani yang juga fokus budidaya kopi belek. Kelompok tani itu bernama Petik Pile. Saat ini, pohon-pohon kopi di sana sedang dalam masa peremajaan dan perawatan sehingga jumlah panenan sedikit berkurang.
"Setahun satu kali panen, sebelum peremajaan itu mendekati satu ton hasilnya," ujar Sebastianus.
"Saya biasa over di pasar Pada, ada yang langganan. Sekarang sudah kerja sama di Kopi Bana jadi kita langsung saja ke sini," tambahnya.
Menurutnya, kopi dari Belek terasa asli dan alamiah. Apalagi, budidaya kopi belek sama sekali tak memakai pupuk.
"Yang jadi unggulan di kampung itu kopi. Saya biasa jual dengan 40 ribu per kilogram. Sejak belum nikah saya sudah panen kopi sendiri dengan bantuan penyuluh pertanian. Komoditi unggulan ini kopi dan punya harapan hidup di kopi saja," tandasnya.
