Breaking News:

Parodi Situasi

Parodi Situasi Minggu 13 September 2020: Turunan Pilkada

Bagus sekali dua kata yang terpilih ini.Turunan Pilkada. Yang berurusan dengan keturunan, yang satu lagi berurusan dengan Pilkada

Parodi Situasi Minggu 13 September 2020: Turunan Pilkada
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - Bagus sekali dua kata yang terpilih ini.Turunan Pilkada. Yang berurusan dengan keturunan, yang satu lagi berurusan dengan Pilkada.

Itulah yang terjadi dengan keempat sekawan, karena ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. "Apa salahnya?" demikian pihak yang setuju. "Mau bangun kerajaan kada?" demikian kata yang tidak setuju.
***
Suka atau pun tidak suka, kenyataannya memang pilkada selalu diwarnai dengan kesan dinasti. Dinasti artinya keturunan raja-raja yang memerintah suatu daerah yang semuanya berasal dari satu keluarga. Meskipun kurang tepat menggunakan pilihan kata dinasti untuk menjelaskan pilkada, kata dinasti cukup viral saat ini dengan adanya suami, istri, anak, saudara, saudari keturunan pesohor yang maju menjadi calon kepala daerah.

Belum Ada Penambahan Kasus Positif Covid-19 di Kabupaten Manggarai

"Siapa-siapa saja?" tanya Jaki.
"Salah satunya kamu," jawab Rara. "Kamu punya kakek kada alias kepala daerah. Setelah kakek, nenek, setelah nenek kamu punya bapa, setelah bapa kamu punya mama. Eh, sekarang kamu juga ikut pilkada," kata Rara sambil mencibir.

"Terus apa masalahnya?" tanya Jaki dengan tampang marah bukan main. "Salah? Apakah ada regulasi yang melarang?"

Alex Sebut Debit Air di PDAM Kabupaten Kupang Unit Tarus Berkurang Drastis

"Apa tidak ada orang lain?" Rara menantang. "Apa hanya kamu saja di kampungmu yang sanggup?"
"Terus kamu mau apa?" Jaki benar-benar naik pitam. Dia segera pasang jurus tinju. Dengan sekali hantam, Rara pun terputar dan terpelanting jatuh!" Jaki segera berdiri dan mencuci tangannya. Dia mati-matian bicara bahwa Rara jatuh sendiri.
***
Setelah tahu duduk perkaranya, Nona Mia dan Benza pun turun tangan. Keduanya bergantian menjelaskan pada Rara bahwa adalah hak setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam politik. Apalagi yang namanya pilkada dan menjadi kada. Silahkan saja.

Siapa pun punya hak. Keduanya menjelaskan bahwa pilkada tahun ini cukup berwarna dengan munculnya anak-anak pesohor dalam jabatan politik dan jabatan publik. Ada Gibran Rakabuming putra Jokowi yang sebelumnya hanya fokus ke usaha kuliner, sekarang maju di pilkada Solo. Ada Siti Nur Azizah putri Ma'ruf Amin Wapres kita, yang maju dalam pilkadaTangerang Selatan. Ada Yuri Kemal putra Yusril Ihza Mahendra ketua partai Bulan Bintang yang maju dalam pilkada Belitung Timur.Hanindhito Pramono putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung maju di pilkada Kediri. Ada Irman Yasin Limpo dan banyak nama-nama ipar, kakak, adik, ponakan yang ikut maju dalam pilkada 2020 ini. Yang tidak kalah mengejutkan adalah disebutnya nama Bobby Nasution dalam pilkada kota Medan.

"Jadi kalau kerabat pesohor, para mantan kada, para akan mantan kada bisa maju pilkada. Mengapa saya tidak bisa?" tanya Jaki sambil melirik Rara yang masih tetap tegar menyampaikan pendapatnya. Menurut Rara kalau Jaki jadi kada, kampungnya bakal kacau balau dalam semua urusan. Tetapi menurut Benza Jaki cukup pantas tampil dalam pilkada.
***
"Yakin menang?" tanya Benza.
"Kalau tidak yakin saya tidak akan maju. Apakah kamu juga ikut-ikutan menembak saya bahwa saya tidak mampu?" Jaki cemberut.
"Kamu pasti mampu!" jawab Benza dengan yakin.

"Kamu sungguh tidak mampu," Rara langsung sambar dan disambar pula oleh Jaki dengan jurus tendang sambil melayang. Rara segera menghindar tetapi terkena juga sehingga yang tersungkur jatuh bukan hanya Rara tetapi Jaki juga.Rara menjerit kesakitan. Jaki pun segera mencuci tangannya.

"Kamu mampu," kata-kata Nona Mia membuat Jaki langsung duduk tegak menahan sakit. "Yang membuat kemampuanmu diragukan itu adalah kamu emosional, tukang marah, gampang tersulut kebencian. Gayamu main tendang dan main tinju itu menjadikan kelasmu meragukan."
***
"Jadi saya mesti bagaimana, Nona Mia? Benza?" Jaki memohon pertolongan.
"Maju saja. Terlepas dari dinasti yang melekat padamu kamu mampu jika bebas dari egoisme dan kecenderungan main pukul dan main hakim sendiri. Politik dinasti itu fenomena lama bukan fenomena baru. Biasa saja. Kalau mampu silahkan. Jaki! Yang paling penting jangan main cuci tangan." (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved