Breaking News:

Sopir Angkot Keberatan BRT

SOPIR angkutan kota ( Angkot) keberatan jika Bus Rapid Transit ( BRT) beroperasi di jalur trayek yang telah ada

POS-KUPANG.COM/ONCY REBON
Rizam Jumadi, Sopir angkutan umum lampu 6 Kota Kupang, Senin, 31/08/2020 

POS-KUPANG.COM - SOPIR angkutan kota ( Angkot) keberatan jika Bus Rapid Transit ( BRT) beroperasi di jalur trayek yang telah ada. Mereka kuatir pemasukan (pendapatan) berkurang.

Sopir angkot Lampu 6, Rizam Jumadi (29) mengaku terganggu dengan kehadiran BRT. "Katong (kami) sangat terganggu. Kalau dia (BRT) jalan lewat kami punya jalur (trayek), dia potong kami sopir angkot punya nasib," ujar Rizam saat ditemui, Senin (31/8/2020).

Rizam membayangkan akan kesulitan memperoleh penumpang jika 5 bus dengan fasilitas yang memanjakan penumpang tersebut beroperasi.

Jefri Subsidi Tarif Penumpang, Hari Ini Lima Bus Rapid Transit Beroperasi

"Kami sopir angkot ini mau ke mana? Lapangan kerja untuk kami hanya ini saja. Kalau bus itu operasi katong (kami) yang sopir tidak jadi masalah. Kalau pemerintah yang bawa sendiri nanti kami jadi apa. Mau melawan dengan pemerintah itu nanti masalah sudah lain lagi," ujar Rizam.

Hal senadai sisampaikan Ifan, sopir angkot lainnya. Dia sulit menerima kehadiran BRT. Menurutnya, pendapatan sopir angkot akan merosot jika BRT beroperasi, apalagi saat ini masih pandemi Covid-19. "Katong mau melawan nanti salah lagi," ucap Ifan.

Irjen Lotharia Langsung Bertugas

Sejumlah sopir angkot Lampu 10 mengancam akan melakukan demo apabila BRT mulai beroperasi. Ryan mengatakan, selama ini kapasitas muatan angkutan umum hanya 12 hingga 14 penumpang. Apabila BRT beroperasi dengan kapasitas muatan mencapai 40 penumpang, secara otomatis mengurangi jumlah penumpang yang selama ini menumpang angkot.

"Kami penghasilan hanya sedikit saja. Kalo dia (BRT) muat tiga puluh sampai enam puluh penumpang. Itu katong bemo muat apa? Kalau tidak salah pasti katong demo," ujar Ryan dengan dialek Kupang.

Ryan mengaku penghasilan sopir angkot merosot tajam. "Sekarang Rp 150 ribu saja dapat susah. Belum minyak lagi, palingan kami stor hanya Rp 70 ribu," sebut Ryan.

Rekan Ryan, Andre mengaku kehadiran BRT akan kekurangan pendapatan sopir angkot. "Sekarang dapat empat sampe lima penumpang saja susah mau mati," ucapnya.

Andre juga mengeluh retribusi terminal sebesar Rp 10 ribu oleh petugas Dinas Perhubungan Kota Kupang. Menurutnya, penarikan retribusi tidak mengenal waktu libur. "Sekarang Sabtu dan Minggu juga mereka tagih, padahal hari libur. Itu nanti katong mau dapat apa? Mau beli makan minum saja susah," keluh Andre. (cr5)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved