Gustaf Nabuasa : Saya Akan Ganti, Yang Penting Kita Akhiri
Gustaf Nabuasa menjamin masa depan warga Besipae yang berkonflik dengan Pemerintah Provinsi NTT dalam persoalan lahan di Hutan Adat Pubabu
Penulis: Ryan Nong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Si Gustaf Nabuasa menjamin masa depan warga Besipae yang berkonflik dengan Pemerintah Provinsi NTT dalam persoalan lahan di Hutan Adat Pubabu, Besipae, Timor Tengah Selatan.
Pada Sabtu (22/8/2020) siang, Gustaf Nabuasa datang bersama tim Pemerintah Provinsi NTT menemui warga yang bertahan di lokasi konflik Besipae.
Rombongan terdiri dari Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT, Dr Zeth Sony Libing, Sekretaris Badan Pendapatan dan Aset Daerah Wely Gah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja NTT Cornelis Wadu dan staf.
• Harapan Warga Besipae : Kalau Ingin Sejahterakan Rakyat, Kavling Tanah Sesuai Kebutuhan Rakyat
Hadir pula Dandim TTS Letkol CZ1 Koerniawan P, Camat Amanuban Selatan Yohanis Asbanu Pimpinan GMIT Klasis Amanuban Selatan serta tokoh adat, Frans Nabuasa.
Rombongan mendatangi lokasi tenda darurat sekira pukul 14.30 Wita setelah sebelumnya berkumpul di Lopo yang terletak di depan eks perkantoran Proyek Peternakan Kerjasama Pemprov NTT dan Australia.
• TNI dan Polri di Ende Disiplinkan Masyarakat Taati Protokol Kesehatan Covid-19
Awalnya, warga enggan menemui rombongan yang datang. Saat rombongan memasuki salah satu tenda yang digunakan, warga yang sebelumnya berada di dalam tenda bahkan berangsur meninggalkan tenda.
Setelahnya, sempat terjadi diskusi alot ketika Gustaf Nabuasa berinisiatif meminta warga untuk memanggil orang-orang yang dituakan di lokasi itu untuk mendengarkan penyampaian hasil pertemuan bersama Pemprov NTT dan para usif yang digelar sehari sebelumnya di Kantor Camat Amanuban Selatan. Pertemuan itu sendiri menurut Dr Zeth Libing, diinisiasi oleh Dandim TTS.
Sementara diskusi berlangsung, puluhan warga lainnya melakukan protes tak jauh dari tenda. Mereka menunjukkan kemarahan terhadap Gustaf Nabuasa yang saat itu disebut mengkhianati dan menjual warga.
"Siapa yang suru kami berdiri dan berjuang sampai titik darah penghabisan sekarang mau jual kami," teriak Ester Selan.
Beberapa warga juga meluapkan kemarahan yang sama. "Hari ini kami sudah mati, harusnya kemarin tembak saja kami," tangis Damaris Tefa.
Sementara mereka melakukan aksi di jalan raya, pertemuan kemudian digelar di dalam salah satu tenda setelah perwakilan warga mau menemui rombongan. Tampak saat itu Nikodemus Manao dan beberapa warga.
Kepada warga, Gustaf Nabuasa bersama Frans Nabuasa menyampaikan hasil pertemuan dan kesepakatan bersama pemerintah Provinsi NTT.
Saat itu, di hadapan warga anggota DPRD Kabupaten TTS itu menjamin masa depan warga yang saat ini berkonflik di lokasi itu.
"Saya akan ganti, yang penting kita akhiri disini. Saya siap untuk ganti yang penting kita bersepakat sudah," ujar Gustaf kepada warga soal komitmennya mengganti apa yang diminta oleh warga sebagai kompensasi kesepakatan mengakhiri konflik dengan pemerintah Provinsi NTT.
Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT Dr Zeth Sony Libing menjanjikan akan membangun 5 buah rumah lagi untuk warga. Sebelumnya Pemerintah Provinsi NTT telah membangun empat rumah yang disebut Dr Zeth Sony Libing sebagai "rumah permanen" bagi relokasi warga. Rumah tersebut berukuran variatif mulai 3x3 meter hingga 4x5 meter dari nebak dan tanpa kamar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gustaf-nabuasa-saya-akan-ganti-yang-penting-kita-akhiri.jpg)