Wujudkan Mimpi Jokowi

APBN: Amunisi Peretas Bangkitkan NTT

Tak dapat disangkal kucuran dana APBN ke NTT setiap tahun meningkat. Hal ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah pusat

Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
istimewa
ISTIMEWA RUSAK - Jalan ke wilayah Amfoang rusak berat sebelum dihotmiks menggunakan dana APBN. 

Pekerjaan aparat Kanwil Perbendaharaan NTT ini demi ending yang mulus. APBN sebagai 'amunisi' benar-benar hadir sebagai peretas bangkitkan NTT dari keterbelakangan. Indonesia maju mulai dari tepian musantara, Flobamora 

POS KUPANG, COM - Amfoang. Disebut tepian negeri berbatasan dengan Negara Timor Leste. Ironinya, dari seberang sana, terekam banyak kisah-kisah pilu. Warga hidup dalam keterisolasian. Sedih, 70 tahun lamanya.

Nestapa terasa tatkala musim hujan menjelang. Akses transportasi darat putus total. Kendaran umum berhenti beroperasi. Jalan berlumpur, banjir menghadang.

Oelamasi, pusat pemerintahan Kabupaten Kupang, terasa begitu jauh. Para abdi negara dan masyarakat terpaksa berjalan kaki. Tidak aman. Melintasi hutan, naik turun gunung. Menyeberang 80 anak sungai yang rawan banjir dan longsor. Jual nyawa.

Naasnya kalau merujuk pasien. Misalnya, dari Puskesmas Naikliu, Amfoang Utara, ke rumah sakit di Naibonat atau Kota Kupang. Warga harus merogoh kocek sewa truk atau pikap Rp 2,5 juta sekali jalan. Jamak terdengar ibu-ibu hamil harus partus di jalan. Tak jarang nyawa melayang. Air mata menetes. Rindu perubahan.

Medio Mei 2019. Kerinduan itu terjawab. Naftali Baitanu, seorang warga Desa Oh-Aem Dua, Kecamatan Amfoang Selatan, tersenyum, ceria. Dia menyaksikan sang 'penyelamat' Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, meletakkan batu pertama pembangunan jalan permanen menuju Amfoang.

Dari Takari, Naftali mewartakan kabar ini ke seluruh penjuru Amfoang. "Kita sudah 'merdeka'," pekiknya. Bupati Kupang, Korinus Masneno, pun tak kalah senangnya, "Mimpi rakyat Amfoang benar-benar terwujud."

Tak tanggung-tanggung, Gubernur Viktor menyiapkan 'amunisi' APBN Rp 250 miliar membangun infrastruktur (jalan) menuju wilayah Amfoang. Meski belum tuntas dikerjakan, rakyat Amfoang sudah menikmati alam 'kemerdekaan'. Jalan mulus. Dengan leluasa mereka mengakses pasar menjual komoditi. Meraup rupiah, menata kehidupan menjadi lebih baik.

Menata tepian Amfoang juga diintervensi Pemkab Kupang. Pada tahun 2018 mengucurkan amunisi, juga APBN, Rp 180 miliar membangun 'sabuk merah" sepanjang 60 kilometer dari Oepoli menuju Oecusse, Timor Leste. Muaranya, menumbuhkan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan agar semakin cepat berkembang.

Miris! Derita warga Amfoang senada dialami warga Belu dan Malaka. Hidup dalam kungkungan keterisolasian. Komoditas perkebunan seperti pohon kayu putih, kelor, dan jambu mete hanya sekadar membesarkan perut. Tak berdampak meningkatkan ekonomi. Warga sulit mengakses pasar.

Derita ini bertahun-tahun lamanya. Tahun 2018, tabir 'kegelapan' ini juga diretas dana APBN. Pemerintah melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) X Kupang-NTT menghadirkan mega proyek. Membuka ruas jalan strategis nasional atau 'sabuk merah' sektor timur. Membentang dari Belu hingga Malaka. Panjangnya 179,99 kilometer, membelah bukit-bukit terjal. Ruas jalan ini terletak sekitar 49 kilometer arah timur Atambua, ibu kota Kabupaten Belu.

KOMPAS.COM
SABUK MERAH - Jalan sabuk merah sektor timur menghubungi Belu dan Malaka. Dibangun menggunakan dana APBN.
KOMPAS.COM SABUK MERAH - Jalan sabuk merah sektor timur menghubungi Belu dan Malaka. Dibangun menggunakan dana APBN. (KOMPAS.COM)

Dari 179,99 kilometer, yang sudah tertangani (aspal) hingga 2019 sepanjang 145,17 kilometer. Pada 2020 direncanakan jalan yang diaspal bertambah. Sedang dikerjakan menjadi sepanjang 164,57 kilometer. Sisanya dituntaskan tahun 2021 mendatang.

Diagendakan, pada ruas sabuk merah sektor timur ini dibangun 41 jembatan dengan panjang 1.599 meter. Hingga 2019 telah terbangun 23 jembatan, panjang 1.039 meter. Selanjutnya pada 2020 diselesaikan 33 jembatan, sisanya dituntaskan pada 2021. Adapun jembatan tersebut semuanya terbuat dari rangka baja dengan bentangan rata-rata 60 meter.

Misi pembukaan sabuk merah sektor timur ini tak lain mengembangkan sektor pariwisata. Belu punya Fulan Fehan yang eksotis. Kini wisatawan dengan mudah menggapai spot wisata yang unik ini. Luar biasa. Warga Belu pun bersukacita.

Pun dibangun sabuk merah sektor barat dari Kabupaten TTU sepanjang 130,88 kilometer tersambung dengan sektor timur. Punya arti penting, akses pendekat ke garis perbatasan. Menata serambi Indonesia.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved