Senin, 13 April 2026

Joni Kala Jejaki Spirit Sang Ayah

Ada kisah menarik dari ayah kandung Joni Kala, Beterino Fahik Marsal yang relevan dengan kisah Joni

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/TENIS JENAHAS
Joni Kala saat foto di depan rumahnya, Senin (27/7/2020) 

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Ada kisah menarik dari ayah kandung Joni Kala, Beterino Fahik Marsal yang relevan dengan kisah Joni. Joni meneruskan spirit sang ayah yang memiliki sikap keberanian dan punya prinsip.

Beterino Fahik Marsal adalah ayah kandung Joni Kala. Lahir di Timor Timur (Timor Leste saat ini-Red), tepatnya di Balibo, Bobonaro tahun 1953.

484 Peserta Akan Ikut SKB-CPNS di Manggarai

Beterino memiliki sembilan orang anak. Enam orang anak lahir di Timor Timur dan tiga lainnya termasuk Joni Kala lahir di Silawan, Kabupaten Belu. Desa Silawan merupakan beranda terdepan NKRI karena letaknya persis di garis batas Indonesia-Timor Leste. PLBM Motaain berada di desa ini.

Beterino bersama keluarga tinggal di Silawan sejak tahun 1999 pasca jajak pendapat di Timor Timur. Sejak awal ia mencintai Merah Putih. Ketika jajak pendapat dan Timor-Timur berpisah dari Indonesia, Beterino tetap memilih Indonesia.

Wabup Marianus Serahkan Bantuan Dampak Covid-19 Bagi Poktan di Marapokot

Ia dengan gagah berani membawa keluarganya masuk ke wilayah Indonesia sambil membawa gambar burung garuda. Itulah tandanya bahwa ia sangat mencintai Indonesia atau merah putih.

Saat mengungsi ke Indonesia, tidak banyak keluarga dari Beterino yang ikut masuk ke Indonesia. Ada empat keluarga dari Beterino yang memilih masuk Indonesia dan satu keluarga dari istrinya. Selebihnya memilih pro kemerdekaan. Perbedaan pilihan politik ini tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap akur dan saling berkunjung.
Sebagian besar keluarga Beterino adalah warga negara Timor Leste.

Saat peristiwa jajak pendapat tahun 1999, Beterino adalah sebagai pimpinan milisi yang dijuluk sebagai "Kepala Besi Merah Putih".

"Prinsip saya saat itu adalah mati hidup di bawah tiang bendera merah putih," demikian ungkapan Beterino ketika ditemui Pos Kupang beberapa waktu lalu.

Prinsip Beterino ini tertular sampai ke Joni. Joni tidak mencari-cari momen untuk melakukan hal yang serupa. Tapi ungkapan Beterino ini sebuah pesan moral buat anak-anaknya bahwa ketika suatu waktu ada hal buruk yang berkaitan dengan simbol kehormatan negara, harus ada orang yang berani mempertaruhkan nyawanya dan Joni menjejaki karakter sang ayahnya.

Aksi heroik Joni memanjat tiang bendera setinggi 20 meter tanggal 17 Agustus 2018 silan merupakan tindakan berisiko. Nyawa taruhan. Jika seandainya jatuh dari ketinggian tiang bendera, maka antara dua, mati atau hidup.

Kita tidak menginginkan apalagi mendoakan agar hal itu terjadi. Joni siap menerima resiko apapun saat itu. Kalau pun mati, mati di bawa tiang bendera merah putih, seperti prinsip sang ayahnya.

"Saya berani panjat karena saya mencintai Merah Putih", ucap Joni kala itu saat diwawancarai Pos Kupang.Com.

Joni adalah sosok pemberani dan pejuang. Ia adalah salah satu anak yang biasa mengikuti lomba panjat pohon pinang di wilayah itu yang biasa digelar setiap tanggal 17 Agustus sebagai acara memeriahkan hari kemerdekaan. Dalam lomba, Joni selalu berhasil dan mendapat hadiah.

Insiden di momen kenaikan bendera merah putih saat itu membuat Joni tambah berani apalagi berkaitan dengan simbol negara sehingga Joni nekat panjat tiang bendera.

Joni berhasil melakukan pekerjaannya. Joni menggambil ujung tali dari tiang bendera lalu turun kembali. Bendera merah putih dikibarkan meski pengibaran bendera tidak lagi pada momen yang bersamaan dengan lagu Indonesia Raya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved