Breaking News:

Salam Pos Kupang

Kawin Tangkap Boleh Atau Tidak?

Istilah kawin tangkap sepertinya hal baru dalam tradisi milenial. Apalagi ini juga baru terkuak ke permukaan publik NTT bahkan dunia

Kawin Tangkap Boleh Atau Tidak?
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - Istilah kawin tangkap sepertinya hal baru dalam tradisi milenial. Apalagi ini juga baru terkuak ke permukaan publik NTT bahkan dunia, beberapa waktu terakhir.

Bahwa sejatinya, kawin tangkap merupakan sebuah tradisi warisan leluhur di Sumba, mungkin lebih khusus di Sumba Barat Daya.

Tradisi itu lebih pantas disebut sebagai kearifan lokal, karena lahir dari kegalauan cinta antara dua insan yang sejatinya dipersatukan untuk membina mahligai rumah tangga.
Disebut kearifan lokal, karena peristiwa kawin tangkap itu baru terjadi, manakala kisah cinta dua sejoli tak berjalan semulus yang disangka.

Tujuh Frater KAE Ditahbisan Jadi Diakon

Artinya, ketika kemelut cinta itu terjadi, lahirlah siasat, lahirlah rencana, lahirlah rekayasa cinta untuk saling memiliki, walau dengan cara-cara yang dinilai melanggar norma bahkan cita rasa cinta.

Bahwa kadang juga, gara-gara cinta lahirlah pertikaian antarsuku, minimal antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan.

Namun terlepas dari semua proses yang disebut sebagai kawin tangkap itu, adalah baik bila tradisi itu kita sandingkan dengan situasi sekarang ini.

Cegah Covid-19, Pertamina Bantu Sembako dan APD Warga Alak Kupang

Pertanyaannya, apakah kawin tangkap itu boleh atau tidak, pantas atau tidak, cocok untuk anak-anak kita atau tidak?

Hal ini serasa penting untuk dikedepankan, karena di era ini, ketika zaman sudah berubah, sudah maju dan modern, ternyata kita juga masih memiliki tradisi itu.

Seyogyanya dipahami bahwa Kawin Tangkap itu merupakan sebuah peradaban masa lalu di Sumba yang sarat akan makna tentang manusia dan kemanusiaan.

Agar kita tak kebablasan mengartikan semua itu, alangkah baiknya bila kita menjadikan Kawin Tangkap sebagai kekayaan masa lalu, sebagai sebuah kisah untuk diwariskan tetapi bukan untuk dipraktikan dalam hidup sehari-hari.

Biarkanlah cinta bertumbuh dan bersemi dalam karakternya, agar tak ada lagi rekayasa cinta yang berujung para pertumpahan darah sebagaimana yang mungkin pernah terjadi di masa silam. Semoga. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved