Fima Inabuy : Rapid Tes Hanya Cocok Untuk Orang Yang Sudah Terbentuk Antibodinya

Rapid tes tidak lagi efektif jika kita ingin melakukan perjalanan karena kita terlambat membatasi gerak orang - orang yang terkena virus tersebut

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ELLA UZU RASI
Fainmarinat Inabuy, Ph.D (Tangkapan Layar dari Chanel YouTube Pos Kupang) 

Fima Inabuy : Rapid Tes Hanya Cocok Untuk Orang Yang Sudah Terbentuk Antibodinya

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Peneliti Biomolekuler Nusa Tenggara Timur (NTT), Fainmarinat Inabuy, Ph.D mengatakan rapid tes hanya cocok untuk orang - orang yang sudah terbentuk antibodinya.

Ia mengatakan hal tersebut dalam Webinar "Lawan Covid-19 dengan Metode Tes Cepat Masal Pooled qPCR, Bersama Kita Bisa" yang digelar Etnis Tionghoa Kupang (Etika) bekerjasama dengan Harian Pagi Pos Kupang Forum Akademia NTT (FAN) dan INTI.

"Rapid tes tidak lagi efektif jika kita ingin melakukan perjalanan karena kita terlambat membatasi gerak orang - orang yang terkena virus tersebut," kata Fima, begitu ia disapa.

Lanjut Fima, Rapid Tes dapat efektif hanya untuk orang - orang sudah terbentuk antibodinya dalam tubuhnya yang sudah lewat sepuluh hari (virus berintubasi).

"Makanya disini kami tidak mengarah kepada rapid karena itu menurut kami itu akan terlambat, tapi (mengarah) pada metode qPCR," jelasnya.

Fima menguraikan, menurut review jurnal dari beberapa studi yang dilakukan tahun ini, seseorang paling (berpotensi) menularkan (virus) ketika dia berada bahkan sebelum dia menunjukkan gejala pertama.

"Seseorang paling infeksius dimulai sejak 4 - 6 hari sebelum gejala muncul disebut intubation periode (periode intubasi) hingga kira - kira 10 hari sejak seseorang muncul gejala sakit," urainya.

Hal ini, lanjut Fima, menunjukkan bahwa ketika hari ini kita baik - baik saja, bukan berarti kita tidak memiliki virus didalam tubuh sehingga pihaknya ingin bagaimana secepat mungkin melokalisasi orang yang belum menunjukkan gejala tapi sudah memiliki virus SarCov didalam tubuhnya.

"Inti dari Pooled Test adalah mengambil sampel dalam jumlah besar kita lakukan per wilayah. Area mana yang bebas covid area mana yang terinfeksi covid," ungkapnya.

"Jadi tujuan akhir bukan individu tapi memetakan area - area atau komunitas," lanjutnya.

Sebuah paper yang terbit bulan April lalu di Israel menjelaskan bahwa dalam setiap 100 orang yang disampel, bahkan jika hanya 1 atau 2 orang yang positif dapat terdeteksi.

"Nah ini metode yang kami rasa belum dipakai di Sumatera Barat tapi kami ingin coba di NTT," kata Fima.

BIKIN RESAH, Tunjangan Profesi Guru Dihapus Mendikbud Nadiem Makarim, Lihat Dulu Jenisnya

PDIP Malaka Belum Pastikan Koalisi atau Abstain

Saat ini laboratorium dengan ruang bertekanan negatif di Kupang masih belum siap, namun Fima akan mengupayakannya sehingga bisa menghemat waktu dan uang terutama biaya Reagen.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ella Uzu Rasi)

Sumber: Bangka Pos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved