Saat Belajar Dari Rumah, Ada Anak Malah Dipekerjakan

Saat program belajar dari rumah, ada anak yang tidak belajar malah bekerja sehingga tidak sempat belajar

POS-KUPANG.COM/ARIS NINU
Ilustrasi-Siswa di Kabupaten Sikka sedang belajar dari rumah menggunakan radio. 

POS-KUPANG.COM I KUPANG - Pandemi Covid-19 membuat segala kebiasaan menjadi berubah, termasuk anak-anak yang selama ini belajar di sekolah terpaksa harus belajar dari rumah dengan menggunakan teknologi yang ada. 

Namun belajar dari rumah ini tidak efektif karena berbagai kendalanya yang dialami, mulai dari tidak ada fasilitas, jaringan internet yang sulit bahkan guru yang kadang tidak peduli. 

Untuk mendalami dampak kebijakan belajar dari rumah selama masa pandemi maka enam peneliti anak dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) berusia 14-17 tahun dari enam kabupaten/kota di Indonesia melakukan penelitian kualitatif sebagai pelapor dan pelopor (2P) pemenuhan hak dan perlindungan anak untuk mengetahui apa saja dampak dari pandemic Covid-19 yang dialami oleh anak rentan.
Penelitian ini digawangi oleh perwakilan forum anak dari, dari Ende, Timor Tengah Selatan dan Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur, Bengkayang dan Kubu Raya di Kalimantan Barat serta Jakarta Timur.
Penelitian dimulai sejak awal Juni 2020, masing-masing anak mewawancarai teman sebayanya yang menjadi subyek penelitian mereka, melakukan pengamatan langsung dan melakukan diskusi kelompok kecil. Enam peneliti muda ini, tiga orang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Isak (17) dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Grace (15) dari kabupaten Sumba Timur, Ivon (14) dari kabupaten Ende, Khusnul (16) dari DKI Jakarta, dan dua orang dari Provinsi Kalimantan Barat yaitu Sherly (16) dari Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat dan Novita (17) dari Kabupaten Bengkayang.
Dalam webinar yang diselenggarakan WVI pada Rabu (9/7/2020), Grace dari Sumba Timur mengungkapkan, masa belajar dari rumah (BDR) membuat banyak anak justru turun ke jalan dan pasar untuk berjualan sirih pinang, sayuran dan lainnya. Sekitar 25 anak sampai 45 anak yang turun ke jalan.
Mereka berlari lari di jalan untuk menawarkan barang dagangan mereka tanpa didampingi orang tua. Anak bisa mengalami kecelakaan. Dengan kondisi seperti itu anak anak rentan mengalami kekerasan baik secara fisik maupun psikis. "Saya lihat sendiri ada anak yang dipukul karena tumpahkan ikan yang dijual kena orang. Anak itu dikatakan bodoh," kata Grace.
Mereka berjualan mulai pukul 07.00 pagi hingga jam 9 malam.
Ada yang jual barang milik sendiri tapi ada juga yang jualan barang milik orang lain. Mereka melakukan ini karena ingin membantu ekonomi orang tua.
Grace mengungkapkan usulannya agar buat ruang belajar di pasar sesuai dengan protokol agar anak tetap bisa belajar.
Ivon dari Ende mengatakan saat BDR anak anak usia 9 tahun ke atas menjadi pekerja dengan membantu di kebun mulai jam 6 pagi sampai jam 5 sore dengan upah bervariasi antara 25 ribu rupiah sampai 50 ribu rupiah per hari. Tugas yang dilakukan diantaranya panen, cangkul kebun, bersihkan tumbuhan.
Alasannya kebutuhan ekonomi keluarga, ingin anak bisa mandiri dan ada anak yang dengan kemauan sendiri bekerja untuk biasa membeli paket data, handphone karena ada kewajiban belajar dari rumah.
Tetapi setelah pulang dari kebun, mereka tidak bisa lagi membagi waktu untuk belajar.
Di Kubu Raya, Kalimatan Barat, Sherly (16) mendapatkan bahwa memang tidak semua anak mendapatkan
kemewahan pembelajaran jarak jauh yang teratur. Banyak guru yang tidak mengajar karena tidak ada fasilitas pendukung sehingga anak-anak merasa seperti berlibur. Karena aktivitas sekolah yang tidak berjalan lagi.
Anak anak merasa BDR seperti liburan karena tidak ada aktivitas. Tidak semua paham tentang belajar dari rumah, tidak semua guru mengajar karena fasilitas terbatas, tidak ada kuota sehingga guru tidak ambil pusing. "kita tidak belajar, seperti liburan. Kita sendiri yang rugi karena ketinggalan pelajaran. Saat UAS nilai turut drastis karena soal yang diberi kita tidak paham," katanya.
Novita mengungkapkan anak anak tidak belajar tapi bekerja di kebun sawit dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Mereka mendapatkan upah 60 ribu rupiah per hari.
Setelah pulang, anak anak tidak ada waktu untuk belajar lagi.
Demikian juga di Jakarta, Khusnul (16) menemukan fakta anak-anak yang mengalihkan aktivitas dengan
mengamen di jalanan. Makin banyak anak yang mengamen dengan cara menjadi manusia silver. “Selain cat tubuh itu berbahaya bagi kesehatan, anak juga rentan mengalami pelecehan di jalanan,” kata Khusnul.
Sementara Isak (17) dari Timor Tengah Selatan juga menemukan bahwa anak-anak disabilitas dan anak pekerja migran Indonesia juga mendapatkan dampak dari Covid-19.
Analis Kebijakan Publik WVI, Tira Maya Malino mengungkapkan, dampak Covid-19 yang membuat anak-anak tidak bersekolah secara aktif, dengan kegiatan belajar mengajar yang minim membuat anak-anak rentan mengalihkan kesibukannya ke aktivitas lain. Bagi mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, anak-anak berpotensi rentan mengalami eksploitasi dan pekerja anak. UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 dan UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sudah mengatur bahwa anak-anak dibawah usia 18 tahun tidak boleh bekerja lebih dari 3 jam/hari atau 15 jam/minggu. “Bahkan anak-anak yang ikut membantu orang tua bekerja tidak boleh membahayakan kesehatan, keselamatan dan moral anak, apalagi kalau bekerja untuk mencari nafkah. Meskipun pada sebagian besar anak-anak ini bekerja dengan keinginan sendiri karena tidak lagi disibukkan disekolah, anak-anak tersebut rentan mengalami eksploitasi, hak pendidikan dan bermainnya bisa terabaikan”.
Hasil penelitian anak-anak ini sedang diadvokasi melalui wadah Child Led Campaign - Indonesia Joining Forces (CLC-IJF) sebagai Suara Anak Indonesia. Mereka berkoalisi dengan anak-anak dari 12 provinsi lainnya melalui child online platform CLC-IJF bersama Forum Anak Nasional yang terus mengangkat berbagai permasalahan yang melanggar pemenuhan hak dan perlindungan anak melalui rangkaian dialog dengan pemerintah yaitu BAPPENAS, Kementerian Pendidikan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Upaya anak-anak ini didukung oleh Wahana Visi Indonesia (WVI), yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk kesejahteraan anak. WVI selalu berupaya membuat perubahan berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, dan mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis dan gender. Sejak tahun 1998, WVI telah menjalankan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada anak. Ratusan ribu anak di Indonesia telah merasakan manfaat program pendampingan WVI. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Hermina Pello)

Penulis: Hermina Pello
Editor: Hermina Pello
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved