Kisah Bas Wie,Anak Kupang Penumpang di Roda Pesawat,Ditolak Pemerintah Tapi Didukung Warga Australia

Seorang bocah dari Kupang sempat membuat geger Australia tahun 1946 lalu. Boca asal Rote itu nekat bersembunyi di ruang roda pesawat di Bandara El Tar

Editor: Alfred Dama
istimewa
Bas Wie di roda pesawat DC-3 milik tentara Belanda 

Namun, dokumen arsip menunjukkan ratusan kliping koran dan surat dari warga yang menawarkan diri untuk mengadopsi atau menampung Bas Wie, serta komunikasi resmi antara tokoh mantan administrator NT, Arthur (Mick) Driver, dengan Menteri Imigrasi Federal ketika itu, Arthur Calwell.

Driver kemudian mempekerjakan Wie sebagai staf pribadinya. Ia juga mengirim Wie ke sekolah, dan memberikan penetapan kalau Wie terbebas dari UU Pembatasan Imigrasi.

Menurut Michelle Hughes beberapa korespondensi menunjukkan desakan terhadap Pemerintah Federal untuk menegakkan kebijakan mengenai imigran Asia.

"Orang yang beranggapan bahwa membolehkan Bas Wie tinggal di Australia adalah hal yang membahayakan berpikir bahwa hal itu dapat menciptakan preseden buruk pada kebijakan Australia Putih, dan mereka khawatir Australia akan dibanjiri oleh orang-orang seperti Bas Wie yang hendak tinggal di Australia," katanya.

Meski demikian, yang membingungkan, ternyata mayoritas masyarakat Australia ketika itu mendukung hak Bas Wie untuk tetap tinggal di Australia, tidak hanya karena mengingat betapa mengerikannya cara Bas Wie menyelundup ke Australia dengan menjadi penumpang gelap di ruang roda pesawat, tetapi juga karena mempertimbangkan betapa baik dan mudahnya Bas Wie beradaptasi dengan masyarakat Darwin.

"Kami memiliki catatan dari guru Bas Wie yang menyebutkan kalau dia berhasil beradaptasi secara sosial dan juga memiliki prestasi akademik," kata Hughes.

Suasana pengamanan di Bandara El Tari Kupang menjelang kunjungan Presiden RI ke NTT, Rabu (21/8/2019).
Suasana pengamanan di Bandara El Tari Kupang menjelang kunjungan Presiden RI ke NTT, Rabu (21/8/2019). (POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru)

"Gurunya, Calwell, juga memberikan masukan agar kasus Bas Wie diberikan pertimbangan khusus mengingat anak Kupang ini yatim dan masih anak-anak."

"Jadi, warga menilai, lebih baik Bas Wie dibiarkan menetap di Australia dan memperoleh pendidikan sehingga dia bisa memiliki kesempatan hidup yang lebih baik." Sebelum Driver meninggalkan Northern Territory, dia berhasil mencarikan pekerjaan untuk Wie di Izods Motors dan mengupayakan agar Wie diadopsi oleh sebuah keluarga di Darwin.

Pada tahun 1958, 12 tahun setelah Bas Wie berhasil mendarat dengan selamat di Darwin Australia, "Anak Kupang" ini berhasil mendapatkan kewarganegaraan Australia lewat proses naturalisasi dan pernikahan.

Hughes menceritakan, berkas Arsip Nasional mengenai Bas Wie ini menunjukkan "perilaku kontras" dari kebijakan resmi Pemerintah Australia pada masa lalu dengan pemerintah sekarang terhadap warga Asia, dan bagaimana publik Australia menyambut anak muda yatim asal Indonesia ini.

"Berkas ini menunjukkan dengan tegas sebuah fakta bahwa warga Australia menyambut dengan hangat kedatangan Bas Wie. Warga Australia juga otomatis bersimpati dan memberikan perhatian khusus kepada anak ini, yang telah melewati banyak tragedi dalam hidupnya," katanya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Anak Kupang Ini Menyelundup ke Australia di Ruang Roda Pesawat 69 Tahun Lalu", https://internasional.kompas.com/read/2015/06/18/14254431/Anak.Kupang.Ini.Menyelundup.ke.Australia.di.Ruang.Roda.Pesawat.69.Tahun.Lalu?page=all#page3.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved