Kisah Bas Wie,Anak Kupang Penumpang di Roda Pesawat,Ditolak Pemerintah Tapi Didukung Warga Australia
Seorang bocah dari Kupang sempat membuat geger Australia tahun 1946 lalu. Boca asal Rote itu nekat bersembunyi di ruang roda pesawat di Bandara El Tar
Kisah Bas Wie, Anak Kupang Penumpang di Roda Pesawat, Ditolak Pemerintah Tapi Didukung Warga Australia
POS KUPANG.COM -- Seorang bocah dari Kupang sempat membuat geger Australia tahun 1946 lalu. Boca asal Rote itu nekat bersembunyi di ruang roda pesawat di Bandara El Tari Kupang dan terbang menuju ke Australia Kupang
Kasus orang bersembunyi di roda pesawat merupakan pertama di dunia. Kasus yang membuat gempar bukan saja Australia dan Indonesia tapi di seluruh dunia, bagaiamana seorang bocah bisa lolos ke dan bersembunyi di ruang roda pesawat padahal penjagaan di bandara sangatlah ketat karena baru selesai perang dunia kedua.
Dan, Indonesia juga masih dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari sekutu yang ingin menguasasi kembali Indonesia
• Putra Ahok Sindir Sang Ayah, Perhatian Direbut Istri Baru Sampai Jarang Berjumpa, Begini Keluhan
• Tentara China Gunakan Senjata Mirip Biasa Digunakan Gengster, Pantas Banyak Prajurit India Tewas
• Laudya Cynthia Gagal Jual Rumah Rp 12 M ke Anak Jokowi, Kini Isu Cerai Hingga Bangkrut, Ini Faktanya
Kisah warga Indonesia yang menyelundup ke Australia dengan bersembunyi di ruang roda pesawat ternyata pernah terjadi pada tahun 1946 lalu.
Pelakunya adalah seorang anak yatim asal Kupang berusia 12 tahun. Anak itu ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuh penuh luka-luka di ruang roda pesawat yang mendarat di Bandara Darwin, 69 tahun yang lalu.
Anak yatim asal Kupang, Indonesia, ini bernama Bas Wie. Ia ditemukan meringkuk di roda pesawat Dutch DC-3 yang mendarat di landasan pacu Bandara Kupang.
Ketika itu, ia bekerja di ruang dapur bandara tersebut. Bas Wie ditemukan di ruang roda pesawat dalam keadaan tidak sadarkan diri dan menderita sejumlah luka di sekujur tubuhnya, ketika pesawat Dutch DC-3 mendarat di Bandara Darwin, tiga jam kemudian.

Arsip nasional Australia menyimpan ratusan dokumen terkait tindakan luar biasa nekat yang dilakukan anak yatim asal Kupang tersebut, dan kehidupan Bas Wie selanjutnya di Northern Territory.
Kurator Arsip Nasional Australia, Michelle Hughes, mengatakan, dokumentasi yang dimiliki lembaganya antara lain menceritakan tentang betapa mengerikannya perjalanan yang dilalui Bas Wie dari Indonesia ke Darwin dengan menyelundup ke ruang roda pesawat.
"Dia disebutkan sempat terbakar oleh knalpot pesawat, menyebabkan ia memiliki bekas luka gores di tulang bahunya. Dia juga menderita hipotermia akibat udara dingin yang bersumber dari baling-baling pesawat," kata Hughes.
"Jadi bisa dibilang, Bas Wie sangat beruntung bisa selamat dari perjalanan tersebut," katanya.
Dokumentasi Arsip Nasional Australia juga menunjukkan, Wie memutuskan untuk menyelundup ke ruang roda pesawat tujuan Australia karena ia sempat mengalami pahitnya hidup pada masa pendudukan tentara Jepang di Timor selama Perang Dunia II.
Di samping itu, ia teringat dengan kebaikan seorang tentara Australia yang pernah menawarinya kornet sapi dan juga permen.
Namun, berdasarkan kebijakan "Australia Putih" yang berlaku ketika Bas Wie tiba di Darwin, anak yang belakangan mendapat julukan "The Kupang Kid" atau "Anak Kupang" itu dikategorikan sebagai pendatang yang tidak diinginkan, dan sesuai ketentuan harus dideportasi.