Renungan Harian Katolik
Memaknai Surat-Surat dari Molokai- Hawaii ( 25 ) : Tentang Majalah Ave Maria
Memaknai Surat-Surat dari Molokai- Hawaii ( 25 ) : Tentang Majalah Ave Maria, baca dan renungkanlah
Renungan Harian Katolik
Memaknai Surat-Surat dari Molokai- Hawaii ( 25 ) : Tentang Majalah Ave Maria
RD. Maxi Un Bria
Sabtu 13 Juni 2020
Lumen umbra Dei ; cahaya itu adalah bayang-bayang Allah. Hadirnya majalah Ave Maria di kalangan penduduk kusta Molokai, bagai cahaya di tengah kegelapan yang menghadirkan informasi dan penerangan tentang dunia luar. Berkat majalah Ave Maria, kaum kusta yang terisolasi dapat mengikuti perkembangan dunia luar dengan membaca.
Pengaruh media massa selalu berkepentingan untuk membangun opini publik tentang sebuah peristiwa. Media cetak atau media off line sangat relevan ikut berkontribusi pada abad 19, ketika Pater Damian de Veuster berkarya. Majalah menjadi salah satu sarana informasi yang digunakan Geraja dan pemerintah dalam memproduksi dan mendistribusikan pesan bagi masyarakat. Peran majalah cetak dalam penyebaran informasi kepada masyarakat luas tidak terbantahkan.
Majalah Ave Maria adalah salah satu majalah mingguan yang diterbitkan P. Hudson di Universitas Notre - Dame, Indiana ( USA ). Konten atau isi majalah Ave Maria antara lain tentang spiritulitas Katolik dan nilai-nilai solidaritas kemanusiaan yang universal. Itulah sebabnya kita bisa paham mengapa Majalah Ave Maria kerap kali memberitakan pelayanan Pater Damian dan hidup kaum kusta di Molokai. Berkat majalah tersebut dunia mendapat informasi tentang realitas kusta dan pergumulan kemanusiaan di Molokai.
Pater Damian menyadari semakin meningkat perhatian banyak kalangan kepada penderita kusta di Molokai berkat pemberitaan berbagai media massa termasuk majalah Ave Maria. Karena itu ia ingin menyampaikan terima kasih kepada Pater Hudson Pengelola majalah tersebut, dengan cara memperkenalkan majalah Ave Maria kepada Mgr. Koeckmann. Ia berharap semoga ada umat Katolik Honolulu - Hawaii yang mau menjadi agen dan berlangganan dengan majalah Ave Maria. ( E. Brion 1988; 70-71 ).
Mengikuti jalan ceritera Pater Damian, terlihat kharakter pribadinya yang jujur, polos dan tulus. Ia mengatakan dengan jujur apa yang hendak dikatakan. Ia tulus dan ingin menyapa mereka semua yang telah memberikan dukungan dan perhatian bagi orang kusta di Molokai.
Ia ingat dengan amanat Yesus “ Bila ya, hendaklah kamu katakan Ya, dan bila tidak hendaklah kamu katakan tidak, apa yang lebih dari pada itu berasal dari Iblis.” ( Matus 5 : 37 )
Damian telah berusaha untuk menghidupi nasihat Yesus dengan bersikap jujur. Ia terbuka mengatakan apa yang dialaminya maupun tentang kondisi sesama penderita kaum kusta. Ia berjuang agar mereka selain sembuh dari sakit yang dialami, juga mengalami keselamatan jiwa berkat pelayanannya. Sebab baginya keselamatan jiwa adalah hukum tertinggi ; Salus animarum suprema lex. ( Kanon Hukum Gereja Katolik 1752 )
Semoga dalam segala aktivitas dan interaksi sosial, kejujuran, ketulusan dan cinta kebenaran menjadi bagian dari habitus dan peradaban kita.
Doa. Ya Tuhan berilah kami hikmat agar mampu menghidupi kasih, kebenaran, kejujuran dan ketulusan sepanjang ziarah hidup ini , amin.