PSSI

Butuh Stimulus dari Pemerintah SOS New Normal Sepakbola, Simak Info

Di tengah pandemi Covid-19 yang sulit diprediksi dan belum ditemukan vaksinnya, perlu langkah-langkah strategis untuk menghidupkan kembali sendi kehid

Editor: Ferry Ndoen
tribunnews/Abdul Majid
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan saat diwawancarai setelah menghadiri rapat koordinasi dengan Menpora Zainudin Amali di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2020). 

POS KUPANG.COM-- - Di tengah pandemi Covid-19 yang sulit diprediksi dan belum ditemukan vaksinnya, perlu langkah-langkah strategis untuk menghidupkan kembali sendi kehidupan berbangsa.

Termasuk di dalamnya sepakbola yang merupakan gambaran umum kehidupan masyarakat Indonesia.

Di sepakbola ada interaksi, kerja sama, persaingan, kegembiraan, bahkan kesedihan yang tertuang dalam pertandingan selama 90 menit.

Sepakbola merupakan media paling efektif untuk mengembalikan psikologis dan sosial kultural bangsa paska pandemic dalam proses adaptasi menuju New Normal.

Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali ikut di webinar sebagai nara sumber (Dok.Pribadi)
"Covid-19 merupakan momentum untuk menuju era baru sepakbola Indonesia. Bila sektor budaya mendapatkan stimulus untuk bangkit paska pandemi, sepakbola perlu juga diberikan perhatian. Karena sepakbola melibatkan banyak sektor. Mulai dari ekonomi, sosial, dan budaya. Dari level makro dan mikro. Dari kalangan berada sampai rakyat jelata," kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer.

Yang disampaikan dalam acara Webinar yang digelar Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Program Studi Kajian Wilayah Eropa, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI), Kamis  (11/6/2020).

Ketum PSSI Mochammad Iriawan bersama Koordinator SOS Akmal Marhali (Dok.Pribadi)
Stimulus dari pemerintah selain memberlakukan protokoler kesehatan, juga bisa berupa kemudahan pemeriksaan dan rapid test sebelum dan sesudah pertandingan berlangsung.

Menggerakkan kehidupan perekonomian di sekitar stadion dengan protokoler kesehatan yang jelas dan tegas.

Suasana webinar yang digelar Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Program Studi Kajian Wilayah Eropa, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI) (Istimewa)
"Kita akan jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 yang tentunya akan mendapatkan perhatian masyarakat dunia. Ini bisa jadi momentum untuk pemerintah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sendi kehidupan bangsa sudah pulih seteah dihajar Covid-19," ujar Akmal.

Tentunya, New Normal sepakbola nasional bukan sekedar hidup kembali setelah "mati suri".

Suasana webinar yang digelar Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dan Program Studi Kajian Wilayah Eropa, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI) (Istimewa)
Harus ada perubahan fundamental yang dilakukan utamanya reformasi tata kelola sepakbola nasional agar lebih sehat, kompetitif, berkualitas, profesional dan bermartabat.

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional harus dijadikan pijakan. "Semua elemen sepakbola harus mengambil hikmah dari Covid-19.

Sepakbola Indonesia harus leih disiplin mulai dari pengurus, pemain, wasit, sampai suporter. Taat aturan dan tentunya meningkatkan kualitas agar bisa berprestasi dan mengharumkan nama bangsa.

Akmal juga menegaskan bahwa perlu komitmen bersama bahwa football is our hope, not our job (sepakbola adalah harapan kita, bukan proyek kita).

Sementara Ketum PSSI, Mochammad Iriawan yang kerap disapa Iwan Bule menyampaikan latar belakang dari keputusan PSSI melanjutkan kembali kompetisi Shopee Liga 1 dan Liga 2 musim ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved