Mery: Ibadah Gereja Bisa Dilakukan di Daerah yang Belum Ada Kasus Positif Covid-19

Menjelang diberlakukannya tatanan normal baru atau new normal, GMIT akan membuka kembali rumah ibadah di masa pandemi Covid-19

poskupang.com/novemy leo
Ketua Sinode GMIT NTT, Pendeta DR. Mery Kolimon 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Menjelang diberlakukannya tatanan normal baru atau new normal, Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor ( GMIT) akan membuka kembali rumah ibadah di masa pandemi Covid-19.

Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Mery Kolimon kepada POS-KUPANG.COM melalui telepon, Rabu (3/6/2020) menjelaskan, ibadah bisa kembali dilakukan di daerah yang belum memiliki kasus positif Covid-19. Daerah tersebut antara lain Pulau Sabu, Alor, dan pedalaman Timor.

Update Covid-19 NTT : Hingga Juni 2020, Total Pasien Positif Covid-19 NTT Sembuh Jadi 20 Pasien

"Sedangkan bagi wilayah zona merah seperti Pulau Sumbawa, Pulau Flores, Kota So'E, Pulau Rote, Surabaya, Batam, dan Kota Kupang itu perlu dapat arahan dari gugus tugas setempat," ujar pendeta perempuan pertama yang menjadi ketua sinode ini.

Pemberlakuan ibadah di gereja tersebut akan dimulai pada Minggu (14/6/2020) sambil tetap menerapkan protokol kesehatan. Majelis jemaat diminta untuk menyiapkan tempat cuci tangan dengan air mengalir, sabun, dan alat pengukur suhu tubuh.

DPD II Partai Golkar Kabupaten Bagikan APD Bagi Tenaga Medis dan Makanan Tambahan untuk Bumil

Durasi atau lama kebaktian juga akan dipersingkat karena kebaktian akan dilakukan beberapa kali agar tidak terjadi penumpukan anggota jemaat di dalam gereja. Jarak duduk antar anggota jemaat pun diatur kurang lebih 1,5 meter, baik kiri-kanan maupun muka-belakang. Sementara itu, pujian oleh paduan suara/vokal group juga ditiadakan dan semua anggota jemaat wajib menggunakan masker.

Sedangkan, bagi jemaat di zona merah, majelis sinode meminta untuk menimbang dengan sungguh-sungguh apakah kebaktian sudah bisa dilaksanakan di gedung gereja. Jika situasi tidak memungkinkan, kebaktian tetap dilakukan di rumah dengan pendampingan majelis jemaat jika diperlukan. Kemungkinan lain yang bisa ditempuh adalah majelis jemaat mengatur ibadah di luar gedung, termasuk di halaman gedung gereja dan rayon-rayon.

"Selama masa pandemi ini, kami minta agar majelis jemaat, terutama di zona merah berkoordinasi dengan pihak pemerintah kabupaten/kota/ kecamatan/desa/kelurahan, pihak kepolisian, dan FKUB di tempat masing-masing jika memutuskan untuk beribadah di gedung gereja. Dengan koordinasi itu kita bisa menghindari kesalahpahaman antara gereja dan pemerintah dan mitra-mitra gereja lainnya dalam pelaksanaan ibadah kita," bunyi salah satu poin dalam surat imbauan Majelis Sinode GMIT tertanggal 28 Mei 2020 tersebut.

Beberapa hal yang juga diatur dalam surat imbauan tersebut antara lain mendorong jemaat perkotaan mengakses layanan perbankan digital seperti QRIS; memerhatikan anggota jemaat kelompok rentan seperti lansia, orang sakit kronis, balita, dan ibu hamil; tidak memberi pandangan negatif terhadap sesama anggota jemaat lain; aktivitas berkantor di lingkup jemaat dan klasis dilaksanakan dengan menghindari kerumunan serta mengikuti protokol kesehatan; dan melakukan disinfeksi gedung gereja sebelum dipakai kebaktian.

"Majelis jemaat, majelis klasis, dan majelis sinode terus bekerja sama dengan berbagai pihak yang berkompeten untuk melakukan edukasi/pendidikan kepada anggota jemaat tentang berbagai protokol pemerintah dan SOP pelayanan GMIT dalam situasi pandemi," ungkap Majelis Sinode GMIT dalam surat imbauan tersebut. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Intan Nuka)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved