Prabowo Kenang Sang Ayah Prof Sumitro Djojohadikusumo, Ini Doa Menteri Jokowi hingga Titiek Soeharto

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengenang almarhum ayahnya ekonom Prof Sumitro Djojohadikusumo

Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
Instagram/Prabowo Subianto
Prabowo Subianto 

Prabowo Subianto Unggah Foto Sang Ayah Prof Sumitro Djojohadikusumo, Ini Doa Menteri Jokowi hingga Titiek Soeharto

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengenang almarhum ayahnya ekonom Prof Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam unggahannya di Instagra, Prabowo Subianto memasang foto sang ayah dan memberikan doa.

Postingan Prabowo Subianto itu kemudian juga dikomentari mantan istrinya, Titiek Soeharto.

"29 Mei 1917, 103 tahun yang lalu terhitung pada hari ini adalah hari lahir ayah saya Almarhum Prof. Sumitro Djojohadikusumo," tulis Prabowo Subianto.

"Mendoakan semoga beliau selalu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT," tulis Prabowo Subianto lagi.

"amin ya robbal alamin," tulis Titik Soehato.

@faung.al: Aamiin allahumma aamiin . Semoga negeri kita selalu di landasi dengan kejujuran para pemimpinnya

@rachay_syahidan: Semoga Dr. Siti Fadilah bebas. Dokter loh bukan pendiri Microsoft

@amarsaputra6166: Semoga diterima segalla amal baik nya dan makam nya dijadikan Allah taman"surga nya Allah swt...... Aamiin"yra...

@hidrafiyani: Aamiin ya Allah. Bapak saya dulu pernah jadi pengawal nya prof Sumitro pas bpk nya pak Prabowo jadi menteri dulu.

@rinomoholmes: Saya haturkan doa buat beliau......beliau adl salah satu bapak ekonomi bangsa di era orde baru, dlm kebinet kepimpinan bpk Soeharto menjadi kan Indonesia macan Asia !!!!! Bapak prof. Soemitro Djojohadikusumo.

Mengutip WIkipedia Prof Dr Soemitro Djojohadikoesoemo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 29 Mei 1917.

Ia meninggal di Jakarta, 9 Maret 2001 pada umur 83 tahun.

Ia adalah salah seorang ekonom Indonesia yang terkenal.

Murid-muridnya banyak yang berhasil menjadi menteri pada era Suharto seperti JB Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro.

Selain itu, Soemitro juga merupakan ayah dari Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto, ayah mertua dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono, dan juga besan dari mantan Presiden Indonesia, Soeharto.

Soemitro adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI.

Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset atau Menristek saat ini.

Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Tampak Sumitro duduk di tepi kiri.

Soemitro meraih gelar doktor ekonomi dari Nederlandsche Economische Hogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, Belanda pada tahun 1943 dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi).

Ia termasuk beruntung karena tidak semua pemuda keturunan priyayi bisa kuliah ekonomi disana, pada zaman sulit pasca depresi ekonomi dunia.

Selepas kuliah, ia tidak langsung kembali ke Indonesia karena kondisi perang saat itu dan bekerja di lembaga riset almamaternya.

Soemitro pulang ke Indonesia pada tahun 1946 dan diangkat menjadi staf oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Ia bergabung ke Partai Sosialis yang dipimpin Sjahrir bersama Amir Sjarifuddin.

Ia pernah menjadi Direktur Utama Banking Trading Center (BTC) yang berdagang di luar negeri dan sempat menjadi kuasa usaha Republik Indonesia di Washington D.C., Amerika Serikat.

Soemitro juga menjadi dosen ekonomi di Universitas Indonesia. Ia adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ekonomi UI.

Sumitro dikenal aktif menulis, dengan cakupan khusus masalah ekonomi.

Buku terakhir ia tulis adalah Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, April 2000.

Selama 1942-1994, Sumitro menulis sebanyak 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris.

Sumitro memperoleh banyak penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Misalnya, Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara, Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia, serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Prancis.

Sumitro pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1950-1951) dan Menteri Keuangan (1952-1953).

Namun, keterlibatannya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra berpengaruh pada kariernya.

Ketika bergabung dengan PRRI, pemerintahan Sukarno menuduhnya terlibat tindak korupsi.

Keterlibatan Sumitro dalam PRRI berdampak bagi PSI yang kemudian dibubarkan tahun 1960.

Akhirnya, ia menumpang tinggal dari satu negara ke negara lainnya bersama istri dan anak-anaknya dan baru kembali ke Indonesia pada era Orde Baru.

Di era Soeharto, Soemitro diangkat sebagai Menteri Perdagangan (1968-1972) dan Menteri Negara Riset (1972-1978).

Soemitro menikah dengan Dora Marie Sigar ketika belajar di Belanda.

Dora adalah mahasiswa ilmu keperawatan pasca bedah di Utrecht berdarah Minahasa yang ditemuinya dalam sebuah acara yang diadakan oleh Indonesia Christen Jongeren (Mahasiswa Kristen Indonesia).

Orangtua Dora saat itu adalah pejabat kelas tinggi sehingga berstatus layaknya warga negara Belanda.

Mereka menikah pada 7 Januari 1947 meski berbeda agama, kemudian tinggal di daerah Matraman, Jakarta.

Anak pertamanya bernama Biantiningsih Miderawati, merupakan sarjana pendidikan dari Harvard.

Anak keduanya bernama Mariani Ekowati, seorang ahli mikrobiologi. Anak ketiganya Prabowo Subianto yang saat ini menjadi politikus Partai Gerindra.

Anak bungsunya Hashim Sujono saat ini menjadi pebisnis grup Arsari.

Soemitro meninggal dunia di Rumah Sakit Dharma Nugraha, Jalan Balai Pustaka, Rawamangun, Jakarta Timur pada 9 Maret 2001 dalam usia 84 tahun setelah cukup lama menderita penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah.

Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Metro Kencana IV/22, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Banyak sekali pelayat yang hadir, di antaranya pengusaha Dali Tahir, pasangan pengusaha keturunan India Marimutu Manimaren dan Marimutu Sinivasan, Prof. Widjojo Nitikusumo beserta istrinya, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Eddy Nalapraya,

tokoh Petisi 50 Kemal Idris, pengusaha Ciputra dan tokoh Poros Tengah, Fuad Bawazier, Menteri Pendidikan Fuad Hasan dan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno.

Sesuai wasiatnya agar dimakamkan dengan cara dan di tempat sederhana, pihak keluarga pun memilih Taman Pemakaman Umum Karet Bivak Blok A III sebagai tempat persemayaman terakhir begawan ekonomi ini. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved