Prabowo Kenang Sang Ayah Prof Sumitro Djojohadikusumo, Ini Doa Menteri Jokowi hingga Titiek Soeharto

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengenang almarhum ayahnya ekonom Prof Sumitro Djojohadikusumo

Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
Instagram/Prabowo Subianto
Prabowo Subianto 

Murid-muridnya banyak yang berhasil menjadi menteri pada era Suharto seperti JB Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro.

Selain itu, Soemitro juga merupakan ayah dari Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto, ayah mertua dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono, dan juga besan dari mantan Presiden Indonesia, Soeharto.

Soemitro adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI.

Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset atau Menristek saat ini.

Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Tampak Sumitro duduk di tepi kiri.

Soemitro meraih gelar doktor ekonomi dari Nederlandsche Economische Hogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, Belanda pada tahun 1943 dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi).

Ia termasuk beruntung karena tidak semua pemuda keturunan priyayi bisa kuliah ekonomi disana, pada zaman sulit pasca depresi ekonomi dunia.

Selepas kuliah, ia tidak langsung kembali ke Indonesia karena kondisi perang saat itu dan bekerja di lembaga riset almamaternya.

Soemitro pulang ke Indonesia pada tahun 1946 dan diangkat menjadi staf oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Ia bergabung ke Partai Sosialis yang dipimpin Sjahrir bersama Amir Sjarifuddin.

Ia pernah menjadi Direktur Utama Banking Trading Center (BTC) yang berdagang di luar negeri dan sempat menjadi kuasa usaha Republik Indonesia di Washington D.C., Amerika Serikat.

Soemitro juga menjadi dosen ekonomi di Universitas Indonesia. Ia adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ekonomi UI.

Sumitro dikenal aktif menulis, dengan cakupan khusus masalah ekonomi.

Buku terakhir ia tulis adalah Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, April 2000.

Selama 1942-1994, Sumitro menulis sebanyak 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved