Renungan Harian Katolik

Memaknai Surat-surat Molokai-Hawai (16); Hoomanawanui ; Sabarlah

Memaknai Surat-surat Molokai-Hawai (16); Hoomanawanui ; Sabarlah, simak dan renungkanlah

POS KUPANG.COM
Memaknai Surat-surat Molokai-Hawai (16); Hoomanawanui ; Sabarlah 

Renungan Harian Katolik

Memaknai surat-surat Molokai-Hawai (16); Hoomanawanui ; Sabarlah

RD. Maxi Un Bria

Senin 1 Juni 2020

Kesabaran Pater Damian diuji dari waktu ke waktu. Lantaran permohonan izinnya agar diperkenankan berkunjung ke Honolulu menjadi diskusi panjang pimpinan sekongregasi. Ia belum paham mengapa Gibson pimpinan pemerintah mengizinkannya sementara pimpinan kongragsi di Honolulu justeru menganjurkan untuk menunda perjalanannya. Pater Damian terus mendesak. Sehingga oleh Pater Leonor pimpinannya , ia dilabeli sebagai “ Poo paakiki no o Kamiano ; kepala batu si Damain itu! ( Brion, 1988, 40 )
Ada dilema yang dialami bapak uskup dan pimpinan kongregasi untuk menjawab permohonan Pater Damian. Bila mereka memberikan jawaban welcome kepada Pater Damain ke Honolulu, berarti mereka mesti menerimanya di tempat yang khusus. Ia mesti menjalani karantina mendiri. Karena bila keberadaanya diketahui publik, maka orang pun tidak akan datang ke rumah sakit dan komunitas dimana ia berada karena sudah tahu bahwa ia menderita kusta. Namun bila permohonannya tidak diterima, Pater Damian akan mengalami gejolak batin yang tidak terkatakan karena ia sungguh rindu untuk menerima sakramen pengakuan dan memohonkan pembaharuan izin pelayanannya pada bapak uskup. Tidak mudah memang, namun sebuah keputusan pada akhirnya mesti diambil untuk kebaikan yang lebih besar. Damian tidak dizinkan untuk datang ke Honolulu demi kepentingan dirinya maupun kepentingan banyak orang di Honolulu.
Kemelut bathin yang dialami Damian dituangkan dalam suratnya kepada kakaknya Pamfilius ( Kalawao-Molokai 26 November 1885 ) demikian “ Baru-baru ini saya dilarang atasanku , Pater Leonar untuk pergi Honolulu, jika ingin bertemu dengan seorang konfrater di antara waktu itu, saya belum tahu ini akan ke mana. Namun saya menyerahkan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi dan terhibur dengan sau-satunya Penebus Ilahi kita dalam Sakramen Mahakudus. Sering saya mengaku dosa di kaki altar; di situ saya mencari penghiburan bagi kesulitan bathinku. Di depan Dia dan di depan archa Bunda Maria, saya mengungkapkan keluh kesahku tentang penderitaan yang saya rasakan”. ( E. Brion, 1988;36 ).
Dalam permenungan dan pergumulan yang kuhadapi, Sabda Yesus dari atas salib ini sangat meneguhkan hati. “ Ibu, Inilah anakmu ! dan kata Yesus kepada murid yang dikasihi “ Inilah Ibumu ! ( Yohanes 19 :26-27 ) Kesabaran Yesus dalam menerima penderitaan di atas salib menguatkan Damian bertahan dalam kesabaran.
Semoga dalam menghadapi situasi dilematis, kita tetap berkanjang dalam kesabaran. Sebab pertimbangan para sahabat dan pimpinan atas pergumulan yang dihadapi, akan sangat membantu dalam mengambil keputusan dan pilihan sikap bagi hidup dan masa depan.

Doa : Ya Tuhan anugerahilah kami hikmat dan kesabaran agar sanggup mengelolah setiap konflik bathin yang dihadapi dalam hidup, amin.

Editor: maria anitoda
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved