Renungan Harian Katolik

Memaknai Surat-surat dari Molokai-Hawaii ( 9 ): Kegesitan dan Kegembiraan

Pater Damian adalah seorang religius muda yang belum ditahbiskan menjadi imam. Namun ia ikut dalam rombongan para imam SS.CC ke Hawaii.

Dok Maxi Un Bria
RD Maxi Un Bria dengan latar belakang menara Pizza Italia. 

Renungan Harian Katolik, Jumat 22 Mei 2020

Memaknai Surat-Surat dari Molokai - Hawaii ( 9 ) : Kegesitan dan Kegembiraan

Oleh: RD. Maxi Un Bria

POS-KUPANG.COM - Pater Damian adalah seorang religius muda yang belum ditahbiskan menjadi imam. Namun ia ikut dalam rombongan para imam SS.CC ke Hawaii. Ia menggantikan kakaknya yang tidak bisa berangkat karena sakit.

“Seorang religius muda yang belum ditahbiskan menjadi imam, dari Biara Leuven – Belgia menulis surat kepada Pater Jenderal dan meminta untuk menggantikan kakaknya yang batal berangkat ke Hawaii karena sakit. Alasannya satu yakni melayani. Permohonan religius muda itu dikabulkan. Meskipun mungkin dilihat sebagai sikap yang gegabah dan tidak sabar.

Namun Pater Jenderal yang bijaksana berpandangan demikian, “Kita sering berdosa karena terlalu lamban. Kegesitan adalah ibu segala kebahagiaan, dan barangsiapa tidak menunda pekerjaan sampai hari berikutnya, dia berbuat banyak. Berbuatlah cepat dengan perlahan-lahan’ adalah semboyan para raja. Hal itu agaknya dipahami oleh kawan muda kita ini”. ( John Farrow, Pater Damian Pahlawan Orang Kusta,1992, 16-17 ).

Damian religius muda itu berpisah dengan famili dan para sahabat di Tromello – Leuven- Belgia dan berlayar menuju Hawaii bersama rombongan para imam SS. CC. Semangat dan kegembiraan hatinya menjadi kekuatan dalam mengemban setiap tugas perutusan yang dipercayakan kepadanya. Dalam buku catatan Pater Pierre menulis dengan huruf besar “ Ke Kepulauan Sandwich - Damian De Veuster “. ( Joh Farrow,1992;19) Di sanalah, Damian akan ditahbiskan menjadi imam dan melayani sampai akhir hayat.

Yesus berpisah dengan para murid dan terangkat ke surga. Perpisahan itu jelas menghadirkan dukacita bagi para murid. Apa yang dirasakan dan dialami para murid sama sekali tidak dipahami oleh dunia. Sebagaimana sabda Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”. ( Yoh 16 :20 ).

Suasana dukacita para murid pada waktunya akan berubah menjadi sukacita yakni pada waktu kedatangan Roh Kudus, Penolong yang Tuhan janjikan untuk menyertai para murid dan gereja-Nya sampai akahir zaman.

Dalam frame berpikir demikian, para murid diminta untuk bersabar menantikan kedatangan Roh Kudus seraya berdoa dan merenungkan Sabda Yesus. Kesabaran menjadi salah satu pilihan sikap yang bijak dalam hidup manusia. Hanya dengan sikap sabar kita mampu melihat dengan lebih jernih apa yang terbaik untuk hidup.

Marilah mengembangakan sikap sabar dalam hidup. Kesabaran dapat mengubah kesulitan menjadi kemudahan. Kesabaran mengantar kita sampai tujuan. Bahkan setiap situasi sulit dan dukacita dapat berubah menjadi sukacita bila kita sabar menjalaninya seraya merenungkan hikmatnya bagi hidup.

Dukacita para murid kerena berpisah dengan Yesus yang kembali kepada Bapa segera akan berubah menjadi sukacita karena kedatangan Roh Kudus. Dukacita Damian De Veuster karena berpisah dengan keluarga dan para sahabat di Leuven – Belgia pun akan berubah menjadi sukacita karena pelayanan di tanah misi Hawaii.

Semoga dalam setiap keadaan sulit, kita tidak kehilangan kegembiraan dan harapan karena percaya pada janji Tuhan, Ia akan menyertai sampai akhir zaman.

Doa. Ya Tuhan berilah kami semangat dan kegembiraan hati dalam menjalani setiap aktivitas dan pelayanan , amin.

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved