Hikmah RAMADHAN: Belajar Jujur dari Momentum Puasa

Alhamdulillahi Rabbil'alamiin, sebagai insan yang beriman marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT

Hikmah RAMADHAN: Belajar Jujur dari Momentum Puasa
ISTIMEWA
Chariul Pua Tingga

POS-KUPANG.COM - Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil'alamiin, sebagai insan yang beriman marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dianugerahkan untuk kita begitu banyak dan begitu besar, yang terkadang kita lalai untuk bersyukur kepada-Nya. Semoga kita semua para pembaca Pos Kupang tidak termasuk golongan orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT, dan semoga Allah SWT senantiasa selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita agar kita kelak di hari pembalasan bukan termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW yang telah menjadi teladan yang baik bagi kita umat Islam dalam segala aspek kehidupan.

Para pembaca Pos Kupang yang selalu dilindungi Allah SWT, di antara hikmah ibadah puasa Ramadhan yang sebentar lagi akan pergi dari kita adalah melatih kejujuran.

Sholat Ied Berjamaah Ditiadakan, Mari Bermaafan Melalui Handphone

Siapakah yang bisa menjamin bahwa seseorang yang mengaku berpuasa itu benar-benar melakukan puasa? Siapa yang tahu kalau sesungguhnya dia hanya berpura-pura, atau paginya berpuasa tetapi siang hari sudah membatalkan diri -namun tetap mengaku berpuasa? Di sinilah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi: "Setiap amal manusia (anak Adam) adalah milik dirinya sendiri, kecuali puasa; maka amal itu untuk Aku (Allah), dan Aku langsung yang akan memberinya pahala." (HR. Bukhari).

Puasa merupakan ibadah yang khusus dan istimewa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lainnya. Bila seseorang mengerjakannya maka akan dengan mudah diketahui pihak lain. Misalnya sholat, maka kita akan terlihat orang lain ketika datang ke masjid, berwudhu', bagaimana kita melakukan gerakan dan membaca do'a, dan sebagainya.

Pemuda SPTL di Lembata Siap Kawal BLT Covid-19 di Desa Hingalamamengi

Demikian juga membayar zakat, ada orang lain yang mengetahui perbuatan kita -setidaknya orang yang kita beri zakat tersebut. Apalagi menunaikan ibadah umrah dan haji. Satu orang yang naik haji, maka orang satu kampung, dan bahkan satu desa akan dipamiti dan dimintai do'a restunya.

Berbeda dengan puasa (Ramadhan) -hanya diri kita dan Allah yang tahu, apakah kita benar berpuasa atau tidak. Puasa adalah janji antara diri kita dengan Allah.

Bayangkan, ketika di siang hari yang sangat panas, sementara kita di rumah seorang diri. Di situ ada minuman segar, banyak makanan yang serba mengundang selera. Kita yakin, Allah melihat apa saja yang kita perbuat. Di sinilah kejujuran itu diuji.

Nilai kejujuran itulah yang semestinya untuk terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Alangkah indahnya bila sifat jujur dimiliki oleh setiap muslim dan seluruh umat Islam di negeri ini. Rasulullah SAW menunjukkan arti pentingnya kejujuran:

"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang shidiq (jujur). Dan jauhilah perilaku dusta, sebab dusta itu akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka. Orang yang selalu berdusta dan mencari kedustaan akan ditulis oleh Allah sebagai pendusta". (HR. Bukhari)

Para pembaca Pos Kupang dimana pun berada, negeri ini sangat membutuhkankehadiran orang-orang yang jujur. Maka muncullah slogan yang dicanangkan KPK: Jujur itu Hebat! Hal ini menandakan perilaku jujur di tengah masyarakat kita ini begitu mahal dan langka. Buktinya, dari waktu ke waktu kita masih saja mendengar adanya berita korupsi yang merasuk keseluruh sendi kehidupan masyarakat. Permainan suap jabatan, money politic dalam pemilu atau pilkada. Dan sederet perilaku ketidakjujuran lainnya. Tetapi bagaimana mau mengikisnya, sementara nilai ketidakjujuran juga sudah mulai dihembuskan sejak dini, melalui dunia pendidikan oleh pihak pihak yang mencari keuntungan sesaat.

Banyaknya perilaku menyontek, pembocoran soal ujian dan jawaban, joki ujian dan sebagainya. Sampai kapankah mata rantai kebohongan semacam ini akan bisa diputus.

Para pembaca Pos Kupang yang muliakan Allah SWT, momentum puasa Ramadhan inilah semestinya digunakan untuk membuktikan diri, bahwa ibadah puasa yang kita tunaikan benar-benar mampu mengubah diri kita menjadi orang yang bertakwa, yang salah satu sendinya memiliki sifat jujur. Seorang anak jujur kepada orang tuanya.

Suami isteri jujur dalam rumah tangganya. Siswa jujur kepada guru. Pegawai jujur pada atasan. Pejabat jujur kepada rakyatnya, dan seterusnya. Semoga kita semua dapat meneladani perilaku baginda Muhammad SAW yang selalu berperilaku jujur dalam setiap tindakan. *

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved