Renungan Harian Katolik
Surat-surat dari Molokai - Hawaii ( 2 ) : ALOHA : CINTA - Welcome
APAKAH saya ketularan sakit kusta ? Demikian pertanyaan yang menghantui pikiran Pater Damian pada akhir tahun 1884
Renungan Harian Katolik, Selasa 12 Mei 2020
Surat-surat dari Molokai - Hawaii ( 2 ) : ALOHA : CINTA - Welcome
Oleh: RD. Maxi Un Bria
APAKAH saya ketularan sakit kusta ? Demikian pertanyaan yang menghantui pikiran Pater Damian pada akhir tahun 1884, setelah 11 tahun melayani kaum kusta di Molokai. Pertanyaan itu menggoncangkan jiwa lantaran muncul bintik-bintik putih pada tubuhnya. Syukur kepada Tuhan karena bintik-bintik itu akhirnya menghilang. Pater Damian percaya akan perlindungan Allah yang mencegahnya terhadap bahaya penularan penyakit kusta. (Edouard Brion, SS.CC,1988 ; 5 )
Kepercayaan dan penyerahan diri kepada Perlindungan Allah hadirkan damai sejahtera dan penghiburan bagi Pater Damian dalam melanjutkan pelayanan dan kepedulian terhadap orang-orang kusta yang sangat membutuhkan perhatian, penguatan dan motivasi darinya.
Di Kapel St. Philomena, Molokai, setiap hari Pater Damian berkesempatan mengolah kekuatan rohani dengan berdoa rosario, ofisi dan ekaristi kudus bersama kaum kusta . Dari mimbar dan altar kayu dalam kapel itu , Ia berdiri teguh dan membacakan Firman Tuhan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan kepadamu tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu “ ( Yoh 14 :27 ).
Kaum kusta di Molokai merasa diteguhkan dan dikuatkan oleh pewartaan Pater Damian. Mereka mengisi hari-hari hidupnya dengan kegiatan kerohanian, pertanian dan pekerjaan-pekerjaan kreatif lain untuk melawan kebosanan dan keterasingan di kampung kusta tersebut.
Pohon pandan yang umumnya bertumbuh di kampung Kalaupapa, menjadi pilihan untuk sejenak berteduh mendapatkan hembusan angin pantai. Pohon pandan menjadi inspirasi tersendiri bagi setiap orang yang berkunjung ke kampung kusta di Molokai. Karena di bawah naungan pohon pandan itulah Pater Damian berteduh dan beristrahat saat tiba pertama kali di Molokai, ketika belum ada rumah sederhana yang dibangun untuknya.
Juga di bawah pohon pandan itu, biasanya Pater Damian bernaung untuk menghindari panas teriknya matahari di pesisir lautan Pasifik. Penyakit kusta yang mencekam pada abad itu dan panasnya matahari di pesisir lautan Pasifik, tidak mengendorkan cinta kasih dan semangat pelayanannya bagi kaum kusta.
Godfried Kardinal Danneels, Uskup Agung Mechelen- Brussel ( 20 Juli 1988), mengapresiasi Pater Damian demikian, “Pater Damian tetap aktual, karena setiap zaman mengenal penyakitnya yang dahsyat, setiap abad menantang umat kristiani untuk memperlihatkan cinta kasih penuh kepahlawanan kepada sesama.
Surat-surat Pater Damian yang melayani di Molokai-Hawaii, merupakan naskah yang berharga dan mengharukan tentang perkembangan hidup rohaninya” dan tentang pergumulan orang-orang kusta abad itu“ ( Edouard Brion, SS.CC,1988:3 ).
Dewasa ini bila Anda berkunjung ke Molokai – Hawaii, seruan aloha sebagai pernyataan kasih dan damai juga welcome khas orang Hawaii akan menyambut kedatanganmu. Lei - rangkaian bunga berbentuk lingkaran akan dikalungkan pada Anda sebagai sambutan istimewa.
Hal ini berbeda dengan saat pertama kedatangan Pater Damian di Molokai. Tanpa ritus budaya pengalungan Lei-rangkaian bunga sebagai ucapan selamat datang. Kedatangannya disambut gemuruh dan percikan ombak pantai, yang membuatnya basah seketika.
Pater Damian yang mengenakan jubah hitam dan topi coklat turun dari perahu membawa sebuah kover perlengkapan misa. Ia berjalan tegap penuh optimis menuju pohon pandan untuk beristrahat. Hati dan pikirannya terfukus pada tujuan perutusan ke Molokai . Yakni “ Total melayani kaum kusta yang terbuang dan terisolasi secara fisik dan sosial pada abad itu “. Akankah pelayanan rasul cinta kasih di Molokai ini lancar tanpa tantangan ? Aloha.
Doa : St. Damian rasul cinta kasih, doakanlah kami. Amin.