News
Pembangunan Pabrik Semen di Manggarai Timur, Warga 'Pecah' Pro-Kontra, Romanus Rabon: Saya Dukung
Kami menolak karena lahan masyarakat sangat terbatas dan lahan yang ada menjadi tumpuhan hidup mereka.
Penulis: Robert Ropo | Editor: Benny Dasman
Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo
POS KUPANG, COM, BORONG - Ternyata warga terbagi dua, pro dan kontra terhadap kehadiran pabrik PT Semen Singa Merah NTT di Kampung Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Warga Kampung Luwuk, Maksi Rambung yang merupakan salah satu warga yang menolak kehadiran pabrik semen ketika ditemui wartawan di Kampung Luwuk, Kamis (7/5) menyatakan, menolak karena lahan masyarakat sangat terbatas dan lahan yang ada menjadi tumpuhan hidup mereka. Masyarakat hanya menggantungkan hidupnya sebagai petani.
"Lahan masyarakat sangat terbatas dan itu merupakan tumpuhan hidup masyarakat, karena mereka profesinya petani dan juga tanah warisan ini sebagi alasan yang kuat dan buat saya juga sama karena saya punya lahan di sini,"tegas Maksimus.
Ia sebagai koordinator masyarakat yang menolak. Ia belum pernah melihat seperti apa negosiasi atau lobi dengan masyarakat secara baik.
Menurut dia, sebenarnya dalam pendekatan oleh pihak perusahan lakukan yang sebenarnya, yang baik dan buruk juga disampaikan secara terbuka kepada masyarakat karena pada akhirnya efeknya pada pihak perusahan itu sendiri karena jika suatu waktu ada warga yang menolak maka hasilnya investasi tidak berguna.
Kehadiran perusahan selalu dan tidak membutuhkan masyarakat itu sebab kehadiran perusahan akan membawa kehancuran alam dan budaya.
"Saya bicara sesuai dengan pengalaman yang saya alami. Apalagi yang dijanjikan merupakan janji angin surga sementara panasnya neraka tidak pernah disampaikan,"ungkap Maksimus.
Isfridus Sota salah satu warga yang tolak hadirnya perusahan tersebut di Kampung Lolok kepada wartawan, mengatakan, ia menolak karena tanah itu merupakan warisan dari nenek moyang mereka, sehingga ia tidak menjual warisan itu.
Menurutnya, jika ia menjual tanah itu maka ia menjual tanah kenangan dari nenek moyang dan nenek moyang pasti akan marah. Selain itu, jika ia menjual tanah itu anak cucunya nanti tidak punya tanah, apalagi selama ini ia lahir besar di tanah itu dan juga hidup dari tanah itu.
Sementara itu, Vinsensius Kasim, salah satu warga mendukung hadirnya prabrik semen di lokasi Kampung Luwuk, menegaskan, menerima kehadiran tambang untuk membawa perubahan bagi masyarakat setempat.
Ia mendukung demi kehidupan generasi yang lebih baik. Sejuh ini selama masa hidupnya ia merupakan seorang petani yang kurang mampu, kehidupanya mereka tidak bahagia sehingga ia tidak ingin generasinya ikut sepertinya.
Ia mengaku, sejak kehadiran perusahan pabrik di Kampung Luwuk itu dirinya merasakan kehidupan yang layak. Ia sudah menerima dana kompenasi dan juga rumah akan direnovasi perusahaan.
"Saya tidak janji-janji, tapi saya mau menikmati kompensasi dan juga renovasi rumah. Selama ini kami hidup susah, anak saya putus sekolah akibat saya kurang mampu," ungkap Vinsensius.
Alo Nambu, warga Kampung Luwuk yang juga merupakan warga menerima perusahan itu, juga mengatakan, ia menjual tanah kepada perusahan untuk merubah hidup, sebab selama ini kebutuhan ekonomi mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup. Kehadiran perusahan ini sangat menjanjikan untuk kesejahteraan anak cucu mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pro-dan-kontra-hadirnya-pt-semen-singa-merah-ntt-di-luwuk-dan-lingko-lolok-manggarai-timur.jpg)