Senin, 20 April 2026

News

Malang Benar Nasib Bocah di Borong Ini, Bermaksud Mandi Malah Menjadi Mayat, Ini yang Terjadi

Bocah itu terseret air saat hendak mandi bersama kakak kandungnya Vera Arifin (8) tahun yang kini duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 2.

Penulis: Robert Ropo | Editor: Benny Dasman

Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Robert Ropo

POS KUPANG, COM, BORONG - Bocah Aysa (2) tahun asal Kampung Jengok, Desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur tewas diseret air di saluran irigasi di Kampung Jengok, Sabtu (9/5) sekitar pukul 15.00 Wita.

Bocah itu terseret air saat hendak mandi bersama kakak kandungnya Vera Arifin (8) tahun yang kini duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 2. Bocah itu ditemukan sekitar pukul 16.00 Wita.

Bonifasius Mento (36) keluarga Korban ketika ditemui di rumah duka menceritakan, korban bersama kakaknya pergi mandi di saluran irigasi di Kampung Jengok. Sekitar 200 meter lebih dari rumah. Saat korban bersama kakaknya pergi mandi, posisi di rumah tidak ada orang.

"Kakek korban saat itu pergi pindahkan ternak. Mama korban pergi sawah, sedangkan bapanya kerja di Borong. Jadi korban bersama kakaknya sendiri di rumah lalu pergi mandi. Saat mandi itu korban terserat air yang cukup deras di saluran irigasi," urai Bonifasius.

Bonifasius mengatakan, korban terserat air sejauh 500 meter. Saat ditemukan tubuh korban masih hangat dan langsung dilarikan keluarga ke Puskesmas Borong, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Korban ditemukan oleh seorang bidan saat hendak mengambil air di saluran irigasi itu di depan rumahnya.

Feliberta Osin (29) bidan yang menemukan mayat korban ketika ditemui wartawan di kediamanya di Kampung Jengok menceritakan, sekitar pukul 16.00 Wita menemukan korban di saluran irigasi di depan rumahnya.

"Saya sedang pel lantai. Jadi saya pergi mau ambil air di saluran irigasi itu. Saat saya mau ambil air saya lihat kain rok (pakaian korban) terapung. Jadi saya tarik kain dan saya kaget lihat tubuh korban. Saya langsung angkat dan hampir jatuh karena gemetar melihat korban," urai Feliberta.

Feliberta didampingi suaminya Kristianus Olian Ningsi (30) mengatakan saat mengangkat jenazah korban tubuh korban sudah tidak bernyawa lagi.

Ia dibantu seorang perawat yang juga merupakan tetangganya sempat memberikan pertolongan pertama, namun nyawa korban sudah tak bisa diselamatkan.

Kristianus menambahkan, saat istrinya menemukan korban dan langsung memanggilnya.

Dirinya keluar rumah dan meminta anak-anak tetangga untuk pergi memanggil orang tua korban. Keluarga korban datang kemudian korban membawa korban ke Puskesmas.

"Pas ditemukan juga korban sudah tidak bernyawa lagi. Diperkirakan sudah sekitar 1 jam korban diserat air,"kata Kristianus.

Kristianus menambahkan, seandainya pintu saluran irigasi di bagian cabang dibuka besar tentu korban akan terus terseret jauh. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved