Derita Lamalera, Jadi Destinasi Wisata Kelas Dunia Tapi Susah Internet dan Telepon
Menjadi warga salah satu destinasi wisata dunia di Indonesia ternyata tak seindah yang dibayangkan
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Menjadi warga salah satu destinasi wisata dunia di Indonesia ternyata tak seindah yang dibayangkan. Sampai saat ini, Warga Kampung Lamalera masih kesulitan berkomunikasi jarak jauh. Tak ada jaringan atau sinyal internet sama sekali.
Sinyal telepon pun susah. Kalau pun ada, warga harus bersusah-susah mencari tempat-tempat tertentu di ketinggian untuk menangkap sinyal telepon dari wilayah terdekat.
Kampung Lamalera yang terletak di selatan Pulau Lembata, NTT, sudah lama ditetapkan sebagai daerah kunjungan wisata unggulan karena tradisi perburuan ikan paus (whale hunting) sejak berabad-abad silam.
• Bupati Ende Djafar Achmad Nasehati Warga Seusai Launching Bantuan Sosial Tunai, Ibu-ibu Terharu
Setiap tahun, selalu ada wisatawan domestik dan mancanegara yang bertandang ke Lamalera hendak menyaksikan tradisi perburuan ikan paus yang dilakukan secara tradisional.
Selain akses jalan berlubang dan berbatu dari Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata menuju Lamalera, ketiadaan sinyal internet serta telepon juga jadi masalah tersendiri.
• Satu Warga Flotim Positif, Pasien Corona di NTT Jadi 12 Orang
Vino Beding, Kepala Dusun 2 Desa Lamalera B, mengisahkan jika ada urusan mendadak dan mau berkomunikasi dengan keluarga di luar Lamalera, warga harus pergi ke Kampung Boto, desa tetangga yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Lamalera, untuk menangkap sinyal telepon atau jaringan internet.
Vino menuturkan sinyal internet hanya ada di SMP Apis Lamalera dan Kantor Desa Lamalera B. Jaringan telepon yang ada pun 'hilang-muncul'. Dengan kondisi pandemi Covid-19 semacam ini, Vino tak menjamin para siswa bisa belajar dari rumah dengan memanfaatkan internet.
"Dari dulu, susah sekali komunikasi di sini," keluh Vino saat ditemui POS-KUPANG.COM, Kamis (7/5/2020).
"Kalau mau telepon kita harus sampai di Boto, kalau mau penting sekali. Jalan ke sana juga jelek," tambah Vino sembari menambahkan Johnny Plate pernah datang ke Lamalera saat belum menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).
Saat meliput pembagian beras dan gula dari Komunitas Taman Daun kepada warga terdampak Covid-19 di Lamalera, POS- KUPANG.COM bertemu beberapa warga dan menanyakan soal kondisi ketiadaan akses telekomunikasi di desa mereka.
Katarina Beding, 66 tahun, tak mengelak kalau jaringan komunikasi di wilayah pesisir itu sangat buruk. Mereka tak bisa berkomentar banyak kalau bicara soal jaringan telepon atau internet.
"Isi pulsa saja pulsa tidak masuk," celetuk Agnes Bataona, 72 tahun.
Katarina dan Agnes tertawa pasrah. Sebelum berjalan lalu, keduanya berjuar, "iya, kami kesulitan komunikasi."
Kampung Lamalera memang merupakan objek wisata kelas dunia. Panorama alamnya yang indah dan tradisi perburuan ikan pausnya yang masih natural mampu menyedot banyak wisatawan dan peneliti datang ke desa nelayan tradisional ini. Namun di balik semua kemegahan ini, ada 'derita' yang harus segera dituntaskan.
Ya, warga Lamalera juga butuh sinyal telepon dan internet seperti warga di wilayah lain di Indonesia. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/derita-lamalera-jadi-destinasi-wisata-kelas-dunia-tapi-susah-internet-dan-telepon.jpg)