Renungan Harian Katolik
Multa Renascentur; Banyak Hal yang Lahir Kembali
"Tempus non mutat"; Waktu mengubah kita. Kita juga hidup di locus tertentu dan terikat padanya.
Renungan Harian Katolik, Rabu 29 April 2020
Multa Renascentur; Banyak Hal yang Lahir Kembali
Oleh: RD. Maxi Un Bria
POS-KUPANG.COM - Kita tengah berziarah menuju keabadian. Ziarah itu memiliki tujuan yang hendak diraih. Langkah menuju keabadian dengan nilai- nilai iman dan sejumlah idealisme sebagai homo sapiens, melewati rangkaian interaksi sosial dan sejumlah aktivitas yang tidak terhindarkan.
Komunikasi di rumah maupun di luar rumah, dengan spirit cinta kasih, kebersamaan, toleransi , kerjasama, kepekaan dan saling memahami adalah rangkain nilai yang diyakini dapat menjembatani terpenuhinya harapan tentang kebahagiaan, harmonitas dan damai sejahtera. Kita berharap tiang penopang jembatan itu tetap kuat dan tidak pernah putus dalam deras badai dan taufan kehidupan.
Pada kenyataannya hidup manusia berhadapan dengan batasan ruang dan waktu. Batasan waktu yang dapat mengubah hidup. "Tempus non mutat"; Waktu mengubah kita. Kita juga hidup di locus tertentu dan terikat padanya.
Namun dalam batasan tersebut manusia tetap berdaya sebagai insan yang rasional, otonom dan bebas. Selalu ada harapan. Selama bernafas, manusia memiliki sejumlah impian yang hendak diraih.
Pepatah Latin mengatakan “ Dum Spiro Spero“; Selagi bernafas, Aku berharap. Harapan memang selalu memberikan energi dan menggerakkan manusia menuju capaian tujuan.
Yesus berbicara kepada para murid tentang hidup yang kekal. Hidup yang takkan dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan memperkenalkan diri sebagai “ Ego sum panis Vitae ; Akulah Roti Kehidupan” ( Yoh 6 :35), Ia mengundang semua orang yang percaya kepada-Nya untuk mengarahkan orientasi hidupnya pada nilai keabadian. Hal ini beralasan karena segala sesuatu yang diraih dan dialami di bumi saat ini, pada waktunya akan berlalu, tetapi Cinta Kasih Allah tinggal tetap dan setia menemani perjalanan hidup manusia sampai memasuki hidup yang kekal.
Yesus menegaskan misi perutusan-Nya di bumi ini. Bahwasannya Ia datang sebagai utusan Bapa untuk melakasanakan kehendak Bapa yakni menjaga semua orang yang datang kepada-Nya dan membangkitkannya pada akhir zaman.
Permenungan tentang akhir zaman membuka hati dan budi sebagai orang beriman untuk berbuat sesuatu. Datang dan percaya kepada Yesus menjadi dasar yang teguh dalam melakukan kebajikan, membangun solidaritas sosial, menolong mereka yang haus dan lapar, mengunjungi orang sakit dan sesama di penjara, mengampuni yang bersalah, menghibur yang berduka dan memperhatikan yang lemah. Sebab “Sesungguhnya segala sesuatu yang telah kamu lakukan bagi salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya bagi-Aku”.( Mateus 25 :40 )
Orang beriman dan bijaksana selalu sadar bahwa ia terikat dengan locus tertentu. Hadir dalam waktu dan memiliki focus tindakan untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama. Apa yang dilakukan hari-hari ini menjadi bagian utuh dari implementasi iman.
Sebagai insan beriman Allah menjadi tumpuan harapan .Sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia sadar benar bahwa ia tidak mungkin dapat hidup sendirian. Hidup selalu dirayakan dan dimaknai dalam relasi personal dengan Tuhan dan sesama yang lain.
Pandemi Covid-19 memberi banyak kesempatan bagi refleksi manusia tentang kesementaraan hidup dan kemanusiaan. Refleksi tersebut berkepentingan untuk mendalami pertanyaan apa yang telah diperbuat bagi Tuhan dan sesama? Semoga banyak dari antara kita yang mengalami pencerahan.
Situasi kita hari ini memang membawa serta sejumlah beban yang memberatkan berbagai kalangan. Namun ada juga hikmat dan kegembiraan yang meringankan. Spirit solidaritas dan kebersamaan dalam masyarakat ikut meringankan sesama yang berkekurangan. “ Multae manus onus levant ; Banyak tangan meringankan beban”. Demikian bunyi pepatah.
Realitas hidup yang kita hadapi dewasa ini ikut mengkonstruksi kesadaran dan budaya baru tentang pentingnya membangun ketahanan hidup dari rumah dalam dimensi iman, kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Kadangkala dalam kondisi hidup yang sulit selalu lahir kembali hal-hal fundamen yang mungkin selama ini telah ditinggalkan. Kesulitan dan tantangan hidup dapat melahirkan pencerahan dan kreativitas baru. Memang “Multa renascentur ; banyak hal yang dapat lahir kembali” ( Horat, Adpisionis 70 ). Salve.
Doa : Tuhan, semoga Pandemi Covid-19 menerangi mata hati dan budi kami untuk lahir dicerahkan kembali sebagai insan-insan beriman yang membutuhkan pertolongan rahmat-MU dan uluran tangan sesama. Amin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/maxi-un-bria-di-menara-pizza.jpg)