PHK dan Rasa Kemanusiaan

DAMPAK Covid-19 sungguh luar biasa. Jutaan pekerja di Indonesia mengalami pemutusan hubungan kerja ( PHK)

PHK dan Rasa Kemanusiaan
Dok
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - DAMPAK Covid-19 sungguh luar biasa. Jutaan pekerja di Indonesia mengalami pemutusan hubungan kerja ( PHK) atau istilah yang lebih halus "dirumahkan".

Ini menyusul tutupnya sejumlah perusahaan, baik dari skala besar, perusahaan industri, sektor jasa seperti mal, supermarket, hingga toko hingga hotel dan restoran.

Di NTT sendiri, sampai pertengahan April 2020 ini sudah terdapat sekitar 8 ribu pekerja yang "dirumahkan".

Sebuah Esei Tentang Corona

Dampak wabah virus corona Covid-19 ini sangat terasa di pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sampai 11 April lalu lebih dari 1,5 juta karyawan terkena PHK dan dirumahkan. Di mana 1,2 juta pekerja itu berasal dari sektor formal, 265.000 dari sektor informal.

Lebih dari 12.703 penerbangan di 15 bandara dibatalkan sepanjang Januari-Februari, dengan rincian 11.680 penerbangan domestik dan 1.023 penerbangan internasional.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia memperkirakan penurunan tingkat okupansi sekitar 6.000 hotel di Indonesia dapat mencapai 50 persen. Ini bisa mempengaruhi turunnya devisa pariwisata lebih dari setengah tahun lalu.

Di Ngada - NTT, Warga Australia Sumbang APD untuk Posko Covid-19 Ngada, Simak Liputannya

Impor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2020 turun 3,7 persen year to date (ytd).
Inflasi pada bulan Maret 2020 tercatat sebesar 2,96 persen year on year (yoy) disumbang kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa harga pangan yang melonjak.

Tentu dengan banyaknya PHK dan merosotnya perekonomian ini membuat situasi menjadi tak kondusif. Angka kriminalitas mulai menunjukkan grafik naik.

Perlu kerja sama antara pemerintah, baik pusat maupun daerah hingga desa untuk mengantisipasi dampak ini. Termasuk bagi mereka yang berkelebihan dari sisi materi.

Memang sangat diperlukan rasa kemanusiaan. Bagi yang terasa akan dampak ini juga harus memiliki sikap 'legowo' sehingga tidak muncul "aji mumpung" dan "serakah". Semua harus mengutamakan rasa kemanusiaan bersama. Tak perlu berlebih.

Pemerintah pusat sudah mulai menelorkan program-program sebagai antisipasi dampak ekonomi ini. Sejumlah daerah di Indonesia juga mulai mengalihkan APBD- nya untuk program-program pro rakyat. Berbagai bantuan untuk meringankan beban ekonomi rakyat juga dimunculkan.

Seyogyanya pemerintah desa yang mendapatkan anggaran miliaran rupiah juga mulai merancang program-program meringankan beban rakyatnya.

Adalah contoh bagus yang disuguhkan polisi muda di NTT. Meski berpangkat bripda, polisi muda ini menghibahkan gaji pertamanya untuk membantu beban ekonomi rakyat sebagai dampak dari wabah Covid-19.

Tak besar memang, tetapi itu sungguh sangat berarti. Jika semua pribadi mengedepankan rasa kemanusiaan ini, bukan hal yang mustahil, jika kita mampu melewati dampak ekonomi dari wabah Covid-19. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved