Minggu, 19 April 2026

Jokowi Setuju Belva Mundur Sebagai Staf Khusus

CEO Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara undur diri dari jabatan Staf Khusus Presiden Joko Widodo

Editor: Kanis Jehola
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/BAYU PRASETYO
Presiden Joko Widodo menyampaikan tanggapan tentang situasi Wamena di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/9/2019). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - CEO Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara undur diri dari jabatan Staf Khusus Presiden Joko Widodo. Informasi ini dihimpun Tribun melalui akun Instagram Belva, @belvadevara pada Selasa (21/4/2020).

Dalam keterangannya, Belva menyampaikan pengunduran dirinya melalui sebuah surat terbuka yang dikirim langsung kepada Presiden Jokowi pada 15 April 2020. Surat tersebut diterima Jokowi pada 17 April 2020, atau dua hari setelah dibuat Belva.

"Pengunduran diri tersebut telah saya sampaikan dalam bentuk surat kepada Bapak Presiden tertanggal 15 April 2020, dan disampaikan langsung ke Presiden pada tanggal 17 April 2020," tulis Belva di akun Instagram pribadinya.

Ulah Jean Neonufa Rugikan Partai Akibat Aniaya Warga Oebesa

Dalam postingannya, Belva juga menyinggung polemik Ruang Guru jadi mitra Kartu Prakerja. "Seperti yang telah dijelaskan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian dan Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja (PMO), proses verifikasi semua mitra Kartu Prakerja sudah berjalan sesuai aturan yang berlaku," katanya.

"Dan tidak ada keterlibatan yang memunculkan konflik kepentingan. Pemilihan pun dilakukan langsung oleh peserta pemegang Kartu Prakerja," jelas Belva.

NEWS ANALISIS Lasarus Jehamat Soal Larangan Mudik: Keputusan Kemanusiaan

Kemudian, Belva mengungkapkan bahwa polemik terkait Ruang Guru jadi mitra Kartu Prakerja yakni alasan utama pengunduran dirinya dari Stafsus Jokowi. Ia ingin menepis persepsi publik terkait keterlibatan dirinya sebagai Stafsus Jokowi dalam penetapan Ruang Guru jadi mitra Kartu Prakerja.

"Saya mengambil keputusan yang berat ini karena saya tidak ingin polemik mengenai asumsi/persepsi publik yang bervariasi tentang posisi saya sebagai Staf Khusus Presiden menjadi berkepanjangan, yang dapat mengakibatkan terpecahnya konsentrasi Bapak Presiden dan seluruh jajaran pemerintahan dalam menghadapi masalah pandemi Covid-19," jelas Belva.

Belva pun turut mengucapkan terimakasih kepada Presiden Jokowi yang telah memahami dan menerima pengunduran dirinya. "Walau singkat, sungguh banyak pengalaman dan pelajaran yang didapatkan Belva dari pekerjaan sebagai Stafsus Presiden," kata dia.

Ia mengaku merasakan betul bagaimana semangat Presiden Jokowi dalam membangun bangsa dengan efektif, efisien, dan transparan. Sehingga di manapun dirinya berada, di posisi apapun dirinya bekerja, Belva berkomitmen mendukung Presiden dan Pemerintah untuk memajukan NKRI.?

?"Dengan ini, saya juga ingin menjelaskan bahwa saya tidak dapat merespon pertanyaan-pertanyaan media dalam beberapa hari terakhir karena saya ingin fokus dalam menyelesaikan hal ini terlebih dahulu. Terima kasih untuk teman-teman yang telah menghormati dan menghargai keputusan saya tersebut," kata Belva.

Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi menilai pilihan mundur dari Belva Adara sudah tepat dan ikut menyelamatkan muka Jokowi dari tudingan tidak sedap yakni memanfaatkan posisi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

"Walau saya anggap terlambat, namun saya memberi apresiasi positif atas pilihan mundur dari Belva. Berjuang untuk merah putih tidak harus berada di lingkungan Istana tetapi berkiprah nyata di masyarakat," kata Ari.

Fokus membesarkan platform Ruang Guru, lanjut Ari akan menjadi terpuji ketimbang menghadapi cibiran dan tuduhan KKN atas terpilihnya Ruang Guru sebagai pelaksana pelatihan pra kerja. Malah seharusnya, katanya lagi langkah mundur Belva harus diikuti oleh Andi Taufan - staf khusus milenial yang lain - yang blunder mengirim surat ke seluruh camat untuk menggandeng perusahaan pribadinya PT Amarta dalam penanganan covid-19.

"Sikap Belva Adara jauh lebih terhormat dari Andi Taufan yang hingga sekarang belum memutuskan hengkang dari Istana,"ucap Ari Junaedi.

Menurut Ari Junaedi , untuk mengantisipasi kekecewaan publik di tengah pandemi covid-19 yang butuh konsentrasi tinggi dari Presiden Jokowi, sebaiknya semua staf khusus milenial mengundurkan diri saja karena efektivitasnya tidak dirasakan publik.

"Kurangi beban pemikiran Jokowi dalam penanganan wabah corona, sebaiknya semua staf khusus milenial mengundurkan diri semua. Jangan sampai Presiden sendiri yang meminta mundur. Anggaran untuk penggajian staf khusus lebih baik dialihkan untuk pengadaan APD bagi tenaga medis di garda terdepan penanganan covid-19," urai Ari Junaedi. (tribun network/genik)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved