Virus Corona

Bukan Hanya Batuk Kering, Ternyata Ini 6 Gejala Infeksi Virus Corona Yang Tak Biasa Kenali & Waspada

Bukan Hanya Batuk Kering, Ternyata Ini 6 Gejala Infeksi Virus Corona Yang Tidak Biasa, Kenali dan Waspada!

Editor: Hasyim Ashari
Ilustrasi Tribunnews
Demam jadi salah satu gejala positiv virus corona 

Bukan Hanya Batuk Kering, Ternyata Ini 6 Gejala Infeksi Virus Corona Yang Tidak Biasa, Kenali dan Waspada!

POS-KUPANG.COM | JAKARTA  - Masih banyak yang perlu dipelajari tentang virus corona yang telah menyebabkan pandemi penyakit baru Covid-19, termasuk tentang gejala infeksi yang ditimbulkan.

Selama ini, gejala Covid-19 yang khas dan paling umum adalah batuk kering, demam, dan kesulitan bernapas.

Meskipun ada juga sejumlah orang yang terinfeksi virus corona tanpa memiliki gejala sakit sama sekali.

Penelitian menunjukkan proporsi yang signifikan dari orang yang menunjukkan gejala lain lebih dulu, seperti diare atau kehilangan fungsi indera penciuman dan rasa.

Melansir Sciecne Alert, Rabu (1/4/2020), berikut ini gejala Covid-19 dari infeksi virus corona yang kurang dibahas.

1. Masalah pencernaan

Gejala Covid-19 pada pencernaan mungkin merupakan gejala yang lebih umum dari yang diperkirakan sebelumnya.

Masalah pencernaan ini semakin dikaitkan dengan infeksi virus corona.

Sebab, satu dari 10 pasien positif Covid-19 mengalami beberapa gejala gastrointestinal, termasuk diare dan mual.

Sebuah studi di The Lancet melaporkan, hanya 3 persen pasien di China yang mengalami diare.

Sedangkan menurut WHO, sekitar 5 persen pasien mengalami mual.

Biasanya pasien-pasien ini juga kemudian menunjukkan gejala yang lebih umum, seperti kesulitan bernapas, demam, atau batuk-batuk.

2. Lelah tanpa alasan

Baru-baru ini, dalam sebuah laporan di sebuah panti jompo di Washington, hampir sepertiga penduduk yang dites positif virus corona, setengahnya tidak memiliki gejala.

Namun, beberapa pasien yang positif terinfeksi virus corona memiliki gejala yang tidak biasa, seperti perasaan tidak nyaman, meriang, atau gelisah.

Dalam beberapa kasus, Covid-19 yang muncul disertai dengan gejala malaise, disorientasi, atau kelelahan tanpa sebab. Ini adalah salah satu gejala atipikal yang paling sering dilaporkan.

Biasanya disertai gejala lain, seperti batuk atau demam.

Kelelahan yang sering menyertai gejala lain, jarang dilaporkan karena tidak ada gejala yang lebih umum.

Kemungkinan pandemi virus corona, karantina, dan perlunya menjaga jarak sosial menyebabkan stres dan kecemasan tambahan.

Psikoterapis Ilene Cohen menulis untuk Psychology Today mengatakan, pentingnya untuk tidak panik jika Anda merasa lelah atau gelisah.

3. Kebingungan parah

Kebingungan parah atau ketidakmampuan untuk bangun dapat menjadi tanda peringatan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), orang-orang yang mengalami gejala-gejala tersebut perlu waspda.

Terutama jika gejala tersebut disertai tanda-tanda kritis, seperti bibir kebiru-biruan, kesulitan bernapas atau nyeri dada, harus segera mencari bantuan.

4. Merasa kedinginan dan nyeri otot

Nyeri dan kedinginan bisa menjadi gejala dari berbagai penyakit, termasuk flu.

Akan tetapi, gejala ini juga turut dikeluhkan para pasien yang positif Covid-19.

Tidak jelas seberapa lazim gejala ini.

Menurut WHO, 11 persen pasien yang diteliti mengeluhkan kedinginan dan 14 persen melaporkan nyeri otot.

Bisa jadi ini tanda awal dari gejala yang lebih parah atau satu-satunya indikasi infeksi ringan.

Jika Anda mengalaminya, Mayo Clinic menyarankan untuk melakukan tindakan pencegahan tambahan untuk mengisolasi diri dari orang lain, banyak istirahat dan perbanyak minum air putih, serta hubungi dokter.

5. Sakit kepala dan pusing

Menurut penelitian The Lancet, sekitar 8 persen pasien Covid-19 mengeluhkan sakit kepala.

Beberapa kasus infeksi virus corona juga turut dilaporkan adanya gejala pusing atau serangan pusing yang cukup parah.

Bahkan, menurut Cleveland Clinic, beberapa kasus yang dilaporkan pasien tiba-tiba dapat menunjukkan risiko kesehatan yang lebih serius.

CDC menawarkan pemeriksaan mandiri secara online untuk membantu menilai apakah gejala dan keadaan yang dirasakan saat ini menunjukkan infeksi virus corona atau tidak.

6. Hidung tersumbat atau pilek

Hidung meler atau pilek jarang menjadi tanda gejala infeksi virus corona. Sebagian besar dianggap sebagai indikasi alergi atau pilek karena flu.

Namun, sebagian kecil pasien Covid-19 mengalami hidung tersumbat atau pilek.

Menurut laporan WHO, kurang dari 5 persen orang mengalami gejala ini.

Bersin juga tidak terkait dengan infeksi virus corona.

Jika Anda memiliki salah satu gejala ini, kemungkinan besar penyakit lain, alergi atau pilek.

Adapun sakit tenggorokan kadang-kadang menyertai infeksi virus corona.

Namun, sekali lagi, para ahli kesehatan menegaskan bahwa gejala ini lebih sering menjadi tanda flu biasa atau pilek.

* Daftar Gejala Covid-19 yang Paling Sering Terjadi, Ternyata Bukan Bersin Tanda Tertular Corona

Pandemi Corona yang terjadi di seluruh dunia termasuk Indoensia penyebarannya membuat banyak orang panik.

Namun untuk penyebarannya rupanya bersin bukanlah gejala dari penyakit ini, jangan parno tapi tetap waspada.

Belakangan ini, semenjak kemunculan virus corona banyak orang jadi was-was.

Apalagi saat orang di sekitarnya mendadak batuk atau bersin-bersin.

 Ketakutan ini karena dugaan mereka terinfeksi virus corona yang sangat mudah menyebar.

Namun sebenarnya bersin bukanlah salah satu gejala dari covid-19.

Jadi gak perlu merasa 'parno' berlebihan alias paranoid ya.

Dikutip TribunMataram.com dari Kompas.com beberapa gejala virus corona yang tak disertai bersin.

Adapun gejala umum Covid-19 adalah demam dan batuk kering.

Beberapa gejala lainnya adalah kelelahan, mual, sakit badan, batuk, napas pendek, hingga masalah saluran pencernaan.

Lalu apa alasan bersin juga sering diduga sebagai gejala covid-19 alias virus corona?

1. Kasus Covid-19 dengan Bersin Kurang dari 5 Persen

Berdasarkan data, gejala-gejala Covid-19 yang dikumpulkan laman Business Insider dari berbagai badan kesehatan resmi, gejala bersin lebih umum terjadi pada orang yang menderita flu biasa (common cold) dan alergi.

Lantas, gejala hidung berair juga terjadi pada penderita common cold dan alergi, dan jarang terjadi pada penderita Covid-19. Kondisi ini pun hanya terkadang dialami oleh penderita flu.

Bagi banyak orang, perubahan cuaca bisa memicu reaksi alergi. 

Gejala-gejala alergi musiman yang sering terjadi antara lain bersin, hidung tersumbat, dan mata gatal.

Namun, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap 56.000 pasien Covid-19 di China, hidung tersumbat hanya terjadi pada 4,8 persen kasus.

Gejala paling umum Covid-19 yang muncul antara lain demam (pada 87,9 persen kasus yang dipelajari), batuk kering (67,7 persen kasus), dan kelelahan (38,1 persen).

Kendati demikian, tetap saja gejala-gejala Covid-19 yang tumpang tindih dengan gejala penyakit lain menjadi alasan tes Covid-19 menjadi penting.

2. Tetap Waspada

Meski begitu, tentu kita harus tetap waspada.

Sebab, droplet atau percikan cairan merupakan sumber terjadinya penularan virus dari orang yang sakit ke orang sehat.

Di tengah kondisi kelangkaan masker bedah saat ini, masyarakat juga bisa menggunakan masker kain sebagai alternatif pencegahan penularan virus.

"(Penggunaan masker berbahan dasar kain) ini lebih baik dibanding tanpa pakai masker."

Demikian kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Yuri, masker kain juga mempunyai fungsi yang sama sebagai penahan droplet, baik droplet pemakai maupun orang lain.

Namun, hindari menggunakannya terlalu lama. Pengguna masker kain yang tidak sedang batuk dianjurkan mengganti masker setiap tiga jam sekali.

Sedangkan orang yang tengah mengalami flu disarankan mengganti masker lebih sering lagi.

Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala umum covid-19?

3. Jika Merasa Kondisi Sehat

Ciri-ciri Corona Tanpa Gejala: Tampak Sehat Belum Tentu Bebas Covid-19

Meski kondisi tubuh kita sehat, perhatikan beberapa hal berikut ini:

- Ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke negara atau daerah yang terjangkit Covid-19, maka sebaiknya kita menghubungi hotline center 119 ext 9 untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut.

- Pasca-merebaknya wabah virus corona di Indonesia, sejumlah daerah juga menerapkan prosedur bagi mereka yang yang datang atau baru pulang dari wilayah terjangkit virus corona.

Prosedur itu beragam, ada yang meminta agar melapor ke pengurus RT setempat, ada pula yang meminta memeriksakan diri ke puskesmas.

Pastikan hal ini kepada pihak berwenang di wilayah yang kita datangi sebagai langkah antisipatif.

-  Kita juga diminta berkonsultasi melalui hotline 119 ext 9 meski kondisi tubuh sehat, jika memiliki riwayat pernah kontak dengan penderita atau pasien yang sudah dinyatakan positif Covid-19.

4. Merasa Tak Sehat

Istirahat dan minum yang cukup jika merasa tidak sehat dengan kriteria seperti di bawah ini:

- Demam 38 derajat celsius.

- Menderita batuk/pilek.

- Jika kondisi kita disertai dengan kesulitan bernapas (sesak atau napas cepat), segera periksa atau berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Saat berobat atau memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, kita harus melakukan langkah ini:

- Gunakan masker.

- Jika tidak memiliki masker, patuhi etika batuk/bersin yang benar. Caranya, menutup mulut dan hidung dengan tisu atau punggung lengan.

- Upayakan tidak menggunakan transportasi massal.

5. Periksakan Diri

Ketika menjalani pemeriksaan di pelayanan kesehatan, petugas kesehatan akan melakukan screening:

1. Jika memenuhi kriteria suspect Covid-19:

- Kita akan dirujuk ke salah satu rumah sakit (RS) rujukan yang siap untuk penanganan Covid-19.

- Kita akan diantar ke RS rujukan menggunakan ambulans didampingi oleh nakes yang menggunakan alat pelindung diri (APD).

- Di RS rujukan akan dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium dan dirawat di ruang isolasi.

2. Jika tidak memenuhi kriteria suspect Covid-19;

- Kita akan dirawat inap atau rawat jalan tergantung diagnosis dan keputusan dokter fasyankes.

* Genali gejala umum yang mengarah pada infeksi virus corona

Hal terpenting mengenai Virus Korona (Covid-19) adalah mengenal gejala-gejala awalnya yang secara umum terjadi pada saat ini yaitu 80% panas, sekitar 60% adalah batuk, dan kemudian pilek, jikalau tanda-tanda awal ini dibiarkan nanti akan menjadi berat maka risiko berikutnya adalah kesulitan bernapas yang ditandai dengan adanya Pneumonia. 

Pernyataan tersebut diungkapkan Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Penanganan Virus Korona (Covid-19), Achmad Yurianto, sekaligus Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Rabu (11/3) dikutip dari laman stkab.go.id.

"Kalau kesulitan bernafas maka berikutnya akan jatuh pada kondisi kekurangan oksigen. Begitu berbicara kekurangan oksigen maka akan kompleks, organ yang terkena akan diawali dengan kegagalan ginjal, kegagalan jantung kegagalan liver, akhirnya jatuh pada kondisi multiorgan failure, beberapa organ yang menjadi gagal. Ini yang menyebabkan kematian," ujar Dirjen P2P. 

Seringkali, menurut Jubir Covid-19, munculnya Pneumonia ini menyebabkan daya tahan tubuh seseorang menjadi turun maka akan terjadi infeksi opportunistic, yakni infeksi dari bakteri-bakteri yang semula mampu ditahan tetapi sekarang sudah tidak mampu lagi ditahan sehingga kemudian terjadilah sepsis (komplikasi berbahaya akibat infeksi, red). 

"Kita di dalam usus besar kita normalnya itu ada bakteri karena bakteri di usus besar itu gunanya adalah untuk membusukkan sisa makanan. Pada kondisi kekebalan kita masih bagus maka jumlah bakterinya terkendali tetapi begitu kemudian kita tidak lagi memiliki daya tahan tubuh yang kuat maka bakterinya akan tumbuh luar biasa banyaknya dan ini akan berpengaruh pada sistem tubuh sehingga terjadi infeksi menyeluruh yang kita kenal sebagai sepsis, sepsis bakteri, ini yang sering menyebabkan kematian," ujarnya. 

Menurut Yuri, dalam Undang-Undang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kondisi Covid-19 saat ini sudah masuk kategori bencana yang sumbernya dari tiga hal yaitu: alam, non-alam, dan kemudian sosial.

Ia menambahkan untuk bencana non-alam yang disebutkan dalam aturan tersebut adalah wabah. 

"Ini sudah wabah dan kita sudah melakukan respons, artinya sudah tanggap darurat. Jangan dimaknai bencana ini kayak gempa bumi gitu ya. Kita sudah melakukan reaksi, sudah melakukan tanggap darurat. Salah satu bentuk tanggap darurat itu adalah tracing, kita kejar, kita cari. Itu adalah bentuk dari tanggap darurat, jadi ini sudah masuk dalam tahapan itu," imbuh Dirjen P2P. 

Soal antisipasi penyebaran dari kasus Imported Case, Dirjen P2P menyampaikan proses deteksi dini sudah dilakukan kepada pendatang yang jika menggunakan thermal scanner maka tidak akan terdeteksi namun hanya bisa ke-detect dengan menggunakan HAC (Health Alert Card). 

"Karena dia merasa dari luar negeri dan berasal dari daerah yang infeksinya cukup tinggi dan dia menerima Health Alert Card maka pada saat dia mulai merasakan tidak enak dia mendatangi beberapa rumah sakit dan kemudian menunjukkan kartunya itu. Inilah yang menjadi upaya deteksi kita," ujar Dirjen P2P.

Artikel ini telah tayang di Tribunmataram.com dengan judul Bersin Bukan Gejala Tertular Virus Corona, Ini Penjelasannya, Jangan 'Parno' Tapi Tetap Waspada!, https://mataram.tribunnews.com/2020/03/31/bersin-bukan-gejala-tertular-virus-corona-ini-penjelasannya-jangan-parno-tapi-tetap-waspada?page=all.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Selain Batuk Kering, Ini Gejala Infeksi Virus Corona yang Tidak Biasa"

Artikel ini telah tayang di kontan.co.id https://nasional.kontan.co.id/news/kenali-gejala-umum-yang-mengarah-pada-infeksi-virus-corona

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved