Jembatan Petuk I Termegah di NTT
Hutama Karya 'Memoles' Kupang dari Kota 'Terpenjara' Menuju Metropolis
"Hutama Karya membangun Jembatan Petuk I dan II sebagai misi kemanusiaan. Membantu masyarakat"
Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
"Cara kerja Hutama Karya mengalirkan kebaikan di Kupang sangat bagus memanfaatkan bahan baku lokal dan mempekerjakan pekerja lokal dalam membangun Jembatan Petuk I-II."
POS KUPANG, COM - KUPANG. Gersang, didominasi batu-batu karang. Kampung besar di tengah kota. Sebutannya kota 'terpenjara' karena banyak kawasan pinggiran terisolasi, tertinggal. Tak ada dinamika. Itu Dulu. Lima belas tahun lalu.
Kini, perkembangan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kerap diplesetkan dengan Nanti Tuhan Tolong, itu kian pesat. Sebutan minor perlahan-lahan sirna. Pelan tapi pasti, menuju kota metropolis.
Tengok saja di Kawasan Maulafa. 'Wajah' yang dulu seram berhutan jati rindang, tempat penggembalaan ternak, kini menjadi hutan beton membalut cadas. Sentra-sentra industri kecil dan jasa tumbuh semarak. Rumah-rumah makan hadir menyajikan aneka menu favorit memanjakan kosumen. Lahan- lahan kosong dibangun hotel-hotel dan penginapan dengan investasi yang besar. Pinggiran menggeliat.
Perumahan BTN Permai di ketinggian Kolhua menghadirkan pemandangan menuju kota modern, obsesi sang mantan Walikota Kupang dua periode, SK Lerik.
Dalam kepemimpinannya, SK Lerik mencanangkan Bukit Kolhua sebagai kota satelit di masa mendatang. Bukan sekadar mimpi, obsesi sang pemimpin kini berbuah kenyataan. Malam hari Bukit Kolua terang benderang. Sebuah kawasan yang dulu hutan lebat nan 'sangar' sebagai 'pencabut' nyawa, kini sangat humanis bermukim warga aneka suku dan golongan dari seantero nusantara. Memancarkan kemajemukan, kerukunan. Di kawasan ini, gereja, masjid, pura dibangun berdekatan.
Geliat tak terlukiskan juga tumbuh di kawasan Siliwangi, pusat perkotaaan. di Jalur ini menjulang hotel-hotel megah mencitrakan Kupang menuju kota metropolis. Hotel Aston angkuh berdiri di bibir Pantai Kupang. Ikon baru buruan kaum berduit. Di depannya tersaji pemandangan ke laut lepas, sejauh mata memandang. Merekam jejak nelayan Kupang memburu rupiah di laut. Menghadirkan kuliner ikan yang lezat. Bakar, kuah, tinggal pilih sesuai selera.
Beranjak dari Hotel Aston di jalur Timor Raya, pun menyapa Hotel On The Rock, Grand Mutiara, Sotis Hotel, Swiss-Bellin Hotel. Para petualang sudah merasakan kenyamanan tidur di hotel-hotel berbintang ini. Juga restoran dari masakan sederhana sampai skala internasional.
Di Bolok, kawasan pelabuhan, terus berbenah. Lalu lintas kapal tak pernah sepi hilir mudik mengangkut penumpang ke berbagai kota di seantero Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata). Menjadikan Kupang sebagai kota perdagangan. Semua sudut kota menggeliat.
Kupang telah berubah dari daerah primer menjadi sekunder. Bahkan sudah menjadi daerah yang tersier. "Kini Kota Kupang itu ibarat gula yang selalu didatangi semut. Pertumbuhan ekonomi mulai pesat. Para investor berdatangan menabur rupiah. Pemerintah Kota harus terus berinovasi untuk membangun mulai dari pinggiran," ujar anggota DPRD Kota Kupang, Yoseph Jemari Dogon, ketika reses di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (6/2/2020).
Hutama Karya Hadirkan Ikon Baru
Kemajuan Kota Kupang saat ini tidak seperti membalik telapak tangan. Berproses. Walikota Kupang periode 2012-2017, Jonas Salean, melakukan inovasi.
Yang sangat fenomenal adalah membuka jalan lingkar luar jalur Bolok, Kabupaten Kupang, menuju Penfui, wilayah Bandara Kota Kupang. Tol-nya Kupang. Mengurai kemacetan yang terjadi di sepanjang Jalan Timor Raya. Pun membuka keterisolasian wilayah pinggiran mulai dari Bolok, Maulafa hingga Naimata. Meretas ketertinggalan, menghadirkan kemakmuran.
Pelaku ekonomi di Kota Kupang, Rudi Ukaus Bele dan Ferdi Nanggiang, melukiskan pembukaan jalur Bolok-Penfui sangat strategis menuju Kupang kota metropolis.
"Kami pelaku ekonomi sangat membutuhkan percepatan pembukaan lintasan jalan lingkar luar Kota Kupang. Pasalnya, jika dari wilayah Lasiana bisa segera memotong ke Penfui, lalu masuk ke Jalur 40 lingkar luar Kota Kupang. Kami menghemat biaya angkutan dan hemat waktu jika ingin ke Pelabuhan Feri Bolok atau ke Pelabuhan Tenau," tutur Ferdi sumringah.
Palu diketuk. Tahun 2012. Satuan Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) I NTT dan PPK 04 mulai membangun jalur jalan lingkar luar Kota Kupang. Membelah bukit, menyeberang lembah. Tidak mudah. Kerap tersandung ganti rugi lahan. Pengerjaan tersendat-sendat. Tiga tahun berlalu pengerjaan tuntas. Jalan tanah Bolok-Penfui membentang luas. Membentang harapan dan kebaikan.
Alkisah, mulai tahun 2015, lalu lintas di jalur ini mulai ramai. Kendaraan berseliweran, tak peduli debu beterbangan dan batu- batu 'menyapa'. Belum diaspal. Pada dua titik melewati alur sungai. Tak nyaman. Malam hari sepi. Warga tak berani melintas. Gelap. Jalur ini belum dilengkapi lampu penerangan jalan.
Waktu jualah yang menjawabnya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengucurkan dana Rp 235 miliar anggaran tahun jamak 2015-2017 membangun dua jembatan pada titik yang melewati alur sungai. Jembatan Petuk I dan Petuk II. Total panjang dua jembatan 337 meter.
Eksekutornya PT Hutama Karya (Persero). Tahun 2015, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menghadirkan sukacita dan kebaikan bagi warga Kota Kupang. Bekerja tak kenal lelah. Menggunakan tenaga kerja lokal, putra-putra NTT. Pada Oktober 2017 pembangunan dua jembatan ini rampung. Petuk I dan II berdiri megah.
Jembatan Petuk I sangat fenomenal. Indah. Gemerlap. Menjadi ikon baru Kota Kupang. Hutama Karya mendesain memolesnya menggunakan teknologi gelagar beton bertipe prestressed concrete girder (pra-tekan). Sebagai yang pertama di Indonesia. Termegah di NTT. Memiliki lima pilar dengan tinggi 25-35 meter.
Jalur dua arah. Membentang sepanjang 230 meter menjadikan Jembatan Petuk I sebagai yang terpanjang di NTT. Dihiasi berbagai ornamen budaya lokal. Hutama Karya menghadirkan kebaikan, sukacita dan kebanggaan masyarakat NTT dan Kupang khususnya.
Hutama Karya mengemban misi kemanusiaan memperlancar akses lalu lintas Kota Kupang ke Pelabuhan Tenau Kupang maupun ke sejumlah kabupaten di daratan timor barat yakni Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu dan Malaka. Bahkan hingga ke beranda perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Di jalur yang sama, tak jauh dari Jembatan Petuk I, juga berdiri megah Jembatan Petuk II. Panjangnya 107 meter. Terletak di sebelah timur. Hanya dipisahkan sebuah tikungan. Melintasi sebuah kali kering.
Kehadiran dua jembatan ini sudah dinanti-nantikan warga Kota Kupang. Selain konektivitas Kota Kupang dengan daerah sekitarnya semakin lancar, juga membuka akses bagi masyarakat. Melewati jalur ini, warga Baun dan Nekamese lebih mudah memasarkan komoditinya ke Pasar Penfui tanpa harus melewati Kupang.
Pun warga Bolok, Maulafa, BTN Kolhua tak harus terburu-buru ke Bandara El Tari di Penfui. Hanya 15 menit dari sebelumnya satu jam karena harus melewati Kupang. Dari sisi kemanusiaan, mengantar pasien ke rumah sakit juga lebih mudah. Warga Penfui, misalnya, jika mengantar pasien ke Rumah Sakit (RS) Carolus Borromeus di Belo sangat lancar tanpa harus melalui Kupang. Hanya butuh waktu 15 menit.
"Dengan hadirnya Jembatan Petuk I dan II semuanya menjadi mudah. Mobilitas menjadi lebih lancar, terutama kami yang tinggal di Kuaputu, gampang menjual sayur ke Pasar Penfui," ujar Okto Loinati, petani Kuaputu, Senin (9/3/2020).
Pekerja serabutan yang juga tukang ojek ini berterima kasih kepada Hutama Karya yang telah menghadirkan kebaikan membangun Jembatan Petuk I dan II. "Saya sering melintasi jalur ini mengantar penumpang. Pendapatan saya meningkat dari Rp 150 ribu menjadi Rp 300 ribu/hari," ujar Okto sumringah.
Yanti Rika, seorang mahasiswa yang tinggal Perumahan BTN Kolhua Kupang juga mengapresiasi Hutama Karya. Hadirnya Jembatan Petuk I dan II disebutnya sebagai 'penyelamat' karena memperlancar mobilitas kuliahnya di Undana Kupang. "Hutama Karya membangun Jembatan Petuk I dan II sebagai misi kemanusiaan. Membantu masyarakat," tutur Yanti, Sabtu (14/3/2020).
Seorang ibu rumah tangga di Belo-Kupang, Maria Wilfrida, mengamini pernyataan Yanti. Maria yang selalu jogging pagi di area Jembatan Petuk I ini menyebut Hutama Karya telah menabur kebaikan untuk masyarakat Kota Kupang serta siapa saja yang telah menikmati infrastruktur publik itu. "Kita harus menjaga jembatan ini agar kebaikan itu tetap mengalir dari sini (Jembatan Petuk I). Jangan sia-siakan apa yang telah diberikan Hutama Karya," pesan Maria, Sabtu (21/3/2020).
Bagi masyarakat Kota Kupang, Jembatan Petuk I disebut sebagai obyek wisata baru, digandrungi kaum milenial. Adalah mantan Ketua Komisi V DPR RI, Fary Djemi Francis, mengamininya. "Jembatan ini menjadi salah satu obyek wisata foto dan ikon di Kota Kupang," ujar Fary belum lama ini.
Ketika menjadi Ketua Komisi V DPR RI, Fary Francis, meninjau jembatan Petuk I dan II, Jumat (2/11/2018) lalu.
Bahkan politisi Partai Gerindra ini mendukung pengembangan Jembatan Petuk I dengan menyetujui anggaran penambahan ornamen menghabiskan Rp 18 miliar.
Dan, benar, Jembatan Petuk I saat ini 'didandani' ornamen lukisan tenun ikat NTT, terutama dari Sumba. Semakin eksotik. Sebelum memasuki areal jembatan, dari poros Bolok, berdiri tugu ornamen Sasando, alat musik tradisional NTT yang melegenda. Juga tugu moko (nekara perunggu), mas kawin unik dari Alor. Sarat pesan, memasuk kawasan Jembatan Petuk I dan II, masyarakat Kupang mematrikan Hutama Karya di hatinya, juga melestarikan nilai-nilai budaya, terutama untuk generasi muda.
Di mata milenial Kupang, Jembatan Petuk I sebagai arena romantis. Disebut sebagai jembatan selfie, spot plesir. Jembatan 'warna-warni' dengan pencahayaan yang memesona malam hari menambah suasana romantis bagi milenial yang berkunjung. Tak pelak, meski cuaca mendung, Jembatan Petuk I menjadi spot baru untuk instagramamble. Diburu warga Kupang.
Dari atas jembatan ini para pengunjung bisa menikmati keindahan Kota Kupang, dan keindahan Pantai Kupang. "Malam minggu sangat ramai. Tempat reuni milenial. Berterima kasihlah pada Hutama Karya yang telah menabur kebaikan, perubahan," ungkap Joseph Baptista, pelajar SMA Negeri 3 Kupang, Sabtu (21/3/2020).
Wali Kota Kupang, Jefry Riwu Kore, tak membantah Jembatan Petuk I menjadi ikon Kota Kupang, tempat wisata warga. Jefri berterima kasih kepada Komisi V DPR RI yang mendukung pembangunan Jembatan Petuk I dan II. Dukungan itu sebagai bentuk perhatian untuk Kota Kupang.
Jefri juga berterima kasih kepada Hutama Karya yang telah mendesain dan membangun Jembatan Petuk I dengan sangat indah dan warga Kupang telah menikmati manfaatnya. "Jembatan Petuk I dan II dibangun untuk menunjang konektivitas transportasi darat, antara pelabuhan udara El Tari Kupang serta pelabuhan laut Tenau dan Bolok Kupang," ujar Jefri bangga.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Azam Azman Natawijana, mengapresiasi BUMN Hutama Karya yang dipercaya Pemprov NTT membangun Jembatan Petuk 1 dan II. Menurutnya, BUMN (Hutama Karya) menjadi sangat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi NTT dan Indonesia.
"BUMN Karya ini menjadi tulang punggung konstruksi infrastruktur dan ini sangat penting," ujar politikus F-Demokrat saat memimpin kunjungan kerja (kunker) Komisi VI meninjau Jembatan Petuk 1 di Kupang, Senin (27/2/2018) lalu.
Anggota Komisi VI, Andriyanto Johan Syah, juga mengapresiasi pembangunan Jembatan Petuk 1 dan II. Menurut Andri, pembangunan dua jembatan ini sangat bagus untuk mengurai kemacetan di Kota Kupang. Andriyanto menyebut cara kerja Hutama Karya mengalirkan kebaikan di Kupang sangat bagus memanfaatkan bahan baku lokal dan mempekerjakan pekerja lokal dalam membangun Jembatan Petuk I-II. "Sebuah misi kemanusiaan memberdayakan masyarakat Kupang dan NTT umumnya," Andriyanto memuji.
Pembangunan Jembatan Petuk I dan II juga sebagai bukti nyata perhatian Presiden Joko Widodo kepada rakyat NTT yang menyalurkan kebaikan melalui Hutama Karya. Tak heran, ketika pembangunan Jembatan Petuk I rampung, sang presiden ikut memamerkannya kepada publik. Jokowi ikut bangga. Bangga dengan NTT.
Dalam akun facebook pribadinya @Jokowi, Senin (22/1/2018), Presiden Joko Widodo mengunggah profil Jembatan Petuk di Kupang. Berikut unggahannya. "Inilah Jembatan Petuk di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang pembangunannya telah rampung Oktober 2017 lalu. Membentang sepanjang 337 meter di atas lembah, menghubungkan pebukitan di Kecamatan Maulafa, Jembatan Petuk ditopang lima pilar beton setinggi 25 sampai 35 meter. Jembatan Patuk akan dihiasi dengan berbagai bentuk ornamen budaya lokal sehingga akan menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat NTT."
Pundi-pundi PAD
Kota Kupang semakin terbuka. Wali Kota Kupang, Jefry Riwu Kore, terus berkomitmen membangun infrastruktur menjadikan Kupang kota metropolis. Hadirnya jalan lingkar luar dengan jembatan penghubung Petuk I dan II diyakini, tahun ini, dapat meningkatkan petumbuhan ekonomi meraup pendapatan asli daerah Rp 200 miliar.
Pertumbuhan ekonomi Kota Kupang pada tahun 2019 sebesar 6,8 persen merupakan tertinggi di Indonesia. Sementara pada tahun 2020 diprediksi mencapai 7,13 persen. Selain indikator pertumbuhan ekonomi, inflasi di Kota Kupang juga termasuk yang terendah di Indonesia yaitu di bawah tiga persen.
"Keberhasilan ini dapat diperoleh karena peran para pelaku ekonomi, juga Hutama Karya, yang telah membantu pertumbuhan ekonomi di Kota Kupang," ujar Jefri yang akan terus membuka kran investasi di Kota Kupang.
Dengan investasi, Jefri akan menjadikan Kupang sebagai kota perdagangan dan jasa. Bahkan, restoran dari masakan sederhana sampai masakan skala internasional, semua ada di Kupang. Keberadaan hotel-hotel berbintang juga tumbuh subur. "Kita tidak boleh berhenti mengayuh, berinovasi dan melayani masyarakat," ujar Jefri pada acara media gathering Selasa (11/2/2020).
Inovasi terkini Walikota Jefri adalah membagun enam taman kota, yakni Taman Perdamaian, Taman Revolusi Mental, Taman Tagantong, Taman Koridor Tiga, Terminal Kupang (Kupang Square) dan wisata kuliner laut di depan Hotel Aston.
Bahkan Walikota Jefri akan menata destinasi wiasata baru area Jembatan Petuk I sebagai arena car free day (CFD) tempat interaksi masyarakat Kota Kupang, menjajakan kuliner, memanfaatkan kebaikan yang diberikan Hutama Karya. Juga untuk menjaga agar kualitas lingkungan hidup di area itu tetap terjaga.
Walikota Jefri juga membangun Terminal Kupang diubah menjadi Kupang Square, mengikuti konsep ala luar negeri. Pada Kupang Square dibangun patung dengan simbol kebudayaan Kupang. Rencananya akan dibangun patung wajah Lai Koepan.
Jefri juga memperindah wajah Kota Kupang dengan memasang 6.000 mata lampu jalan dan lampu hias tahun ini. Dipasang sampai daerah pinggiran kota. Lampu hias dipasang di jalan-jalan protokol.
Semua ini dilakukan Jefri untuk mendandani Kupang menuju kota metropolis yang smart. Bukan 'terpenjara' lagi. Hutama Karya telah mulai memoles dan membuka jalan itu... (benny dasman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petuk-satu.jpg)